Home / Artikel / Mengapa kunang-kunang berkedip? ltu Tanda Birahi

Mengapa kunang-kunang berkedip? ltu Tanda Birahi

CAHAYA berkedip-kedip yang dipancarkan kunang-kunang di tepi sawah bukan tiada arti. Setiap aktivitas yang dikeluarkan oleh serangga tentu harus memanfaatkan energi yang tersimpan di dalam tubuh. Mustahil energi yang digunakan oleh jasad hidup terbuang percuma. Serangga termasuk jasad hidup yang memanfaatkan energi tubuhnya secara maksimal.

Cahaya yang dikeluarkan oleh kunang-kunang adalah cahaya dingin. Dalam iImu Biologi, cahaya semacam ini disebut sebagai bioluminescence. Selain kunang-kunang, paling sedikit terdapat 8 famili dari 4 ordo serangga yang mampu menghasilkan cahaya. Pada umumnya cahaya itu digunakan untuk komunikasi visual. Di antara kedelapan famili itu, dua di antaranya yaitu famili Lampyridae dan Elateridae termasuk ordo Coleoptera yang paling dikenal sebagai penghasil biolumeneseence. Salah satu anggota Lampyridae yang paling terkenal adalah Lampophorus sp. Serangga ini sejenis kunang-kunang, namun orang sering memanfaatkan larvanya untuk membasmi siput dan bekicot.

Organ penghasil cahaya pada serangga umumnya terdapat pada gumpalan lemak yang terletak tepat di bawah sel epidermis. Intensitas cahaya yang dihasilkan oleh serangga amat bervariasi, tergantung pada jenis serangganya.

Pada serangga, bioluminescence terjadi karena terdapat senyawa antara Luciferin dan ensim Luciferase. Ensim ini berperan mengoksidasi senyawa Luciferin tersebut. Proses oksidasi Luciferin tersebut akan menghasilkan cahaya yang tidak memancarkan panas sehingga disebut sebagai cahaya dingin.

Komunikasi visual
Menarik untuk dikaji adalah bagaimana serangga dapat melakukan komunikasi secara visual. Hal ini tak lain disebabkan kemampuan serangga untuk memanfaatkan sifat-sifat khusus cahaya. Kemampuan tersebut karena dalam tubuh serangga terdapat alat penerima rangsang cahaya yaitu photoreceptor.

Cahaya, merupakan faktor yang penting untuk komunikasi visual. Hal ini berarti isyarat berbentuk cahaya akan menyebabkan serangga mudah berkomunikasi dengan serangga lain. Seringkali tujuan komunikasi itu digunakan untuk pengenalan jenis kelamin dan kopulasi.

Bioluminescence digunakan untuk menentukan lokasi setiap serangga, sehingga ia dapat memperkirakan jarak yang hendak ditempuh untuk menuju ke sasarannya. Melalui kedipan cahaya, kunang-kunang dapat memberi tanda pada kunang-kunang lain yang sejenis untuk mendekat. Isyarat ini pula menyebabkan lawan jenis jadi terpikat. Jadi semacam tanda birahi pada hewan lain.

Umumnya, kedua jenis kelamin mampu menghasilkan cahaya yang menarik. Frekuensi dan lama kedipan merupakan komunikasi antara berbagai jenis serangga. Namun terkadang hanya serangga betina yang mampu menghasilkan cahaya. Cahaya ini meski hanya dilancarkan sepihak, tetapi cukup memadai untuk berkomunikasi dan memikat lawan jenisnya untuk bereproduksi.

Komunikasi visual lewat cahaya pada serangga sesungguhnya terdapat dalam dua macam bentuk. Perbedaan ini berdasarkan pada sasaran yang hendak dituju. Pertama adalah komunikasi antar spesies. Baik antar serangga atau serangga dengan tanaman. Komunikasi ini berfungsi sebagai tanda untuk pertahanan diri, tanda bahaya atau penyerbukan bunga.

Komunikasi yang lain adalah komunikasi dalam satu spesies serangga. Komunikasi jenis inilah yang lebih berfungsi untuk aktivitas reproduksi. Termasuk aktivitas reproduksi ini ialah upaya serangga menetapkan wilayah yang sesuai untuk perkembangbiakannya. Selain itu juga dalam proses penjaga wilayah “kekuasaannya” dan komunikasi untuk memadu kasih (courtship) serta proses kopulasi.

Persepsi rangsangan visual
Spektrum warna yang dapat dilihat manusia adalah yang mempunyai panjang gelombang antara 400 m/u (ultraviolet) dan 750 m/u (merah). Pada serangga, respons terhadap spektrum warna hanya terjadi pada panjang gelombang antara 300 – 400 m/u yaitu mendekati warna violet sampai 600 – 650 m/u yaitu mendekati warna jingga. Di antara beberapa warna spektrum cahaya tersebut, terdapat dua warna yang menghasilkan respon paling tinggi pada serangga. Warna itu ialah cahaya yang mendekati ultra violet (350 m/u) dan hijau kebiruan (500 m/u).

Sifat fototaksis, yaitu sifat mendekati sumber cahaya yang terdapat pada serangga umumnya tertuju pada warna yang mendekati warna ultraviolet tersebut. Persepsi warna pada serangga terhadap warna-warna tertentu pasti berbeda dengan persepsi manusia.

Serangga juga dapat memberikan persepsi terhadap cahaya yang terpolarisasi. Misalnya ta-rian lebah madu yang berfungsi sebagai isyarat arah dan jarak sumber makanan bagi sesama lebah, akan sangat bergantung pada corak cahaya yang terpolarisasi. Langit biru yang cerah akan memberi warna polarisasi yang berbeda dengan langit yang mendung. Oleh karena itu tarian yang dilakukan pada situasi yang berbeda sering menyesatkan orientasi sesama serangga.

Persepsi cahaya ini terutama dilakukan oleh alat penerima cahaya berupa mata majemuk. Mata majemuk pada serangga dewasa umumnya terdiri dari dua buah yang terletak sedemikian rupa sehingga dapat memberi lapangan pandang yang luas. Setiap mata majemuk terdiri dari sejumlah omnatida yang jumlahnya bervariasi bergantung pada jenis serangganya. Mata majemuk pada lalat rumah misalnya terdiri dari 4000 omnatidia. Setiap omnatidium dilengkapi dengan lensa cembung yang tembus cahaya yang disebut kornea, bagian penerima cahaya dan bagian saraf. Saraf ini berfungsi menangkap radiasi dan mengubahnya menjadi enerji listrik. Enerji listrik inilah yang diteruskan ke otak.

Penerimaan gelap terang cahaya bergantung pada dua hal, yaitu sudut datang cahaya dan panjang gelombang cahaya. Meski mekanisme belum diketahui, namun telah dibuktikan bahwa serangga juga mampu menangkap cahaya melalui sel-sel otaknya. Tampaknya mata tidak berkaitan dengan fungsi sebagai alat penglihat. Namun mata peka terhadap cahaya. Serangga tidak dapat membedakan bentuk-bentuk segitiga, bujur sangkar atau bulat. Tetapi umumnya serangga mampu membedakan bentuk padatan atau kepingan. Misalnya pada bunga yang terdiri dari sepak dan petani. Bunga ini dalam pandangan serangga akan nampak merupakan bayangan yang berkelip-kelip. Isyarat ini ditangkap sebagai lokasi tempat nektar yang lezat.

Pada kunang-kunang persepsi komunikasi visual ini merupakan faktor yang penting. Mengingat bahwa kunang-kunang di daerah tropika hidup sangat singkat maka untuk kelangsungan generasi perlu dilangsungkan proses reproduksi secara tepat. Untuk itu ia harus dapat berkomunikasi dan memikat lawan jenisnya. Jadi perlu terdapat sinkronisasi cahaya antara jantan dengan betina. Sinkronisasi ini perlu agar si jantan dengan cepat menemukan lokasi si betina dan kemudian melakukan kopulasi.

Jika oleh sesuatu hal kedua jenis kelamin itu kacau komunikasinya maka keduanya tidak dapat bertemu di alam yang luas. Akibatnya populasi serangga tersebut akan punah.

Oleh : Dr drh Bambang Poernomo MS Staf Pengajar FKH-Unair Surabaya

Sumber: Surya, Ahad, 18 Desember 1994

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/JfdPhD725mk" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
Share
%d blogger menyukai ini: