Kota Spons, Cara China Meningkatkan Ketersediaan Air

- Editor

Rabu, 9 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Krisis air di perkotaan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mendorong sejumlah wilayah mengambil langkah strategis untuk melindungi sumber daya paling penting itu. China menggagas Sponge City.

Sekitar 20 persen penduduk dunia ada di China, tetapi negara ini hanya memiliki 7 persen air tawar layak konsumsi. Pada 2014, 11 dari 31 provinsi di China tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan World Bank, yaitu 1.500 meter kubik per kapita. Sementara itu, pertanian dan industri menggunakan sekitar 85 persen dari total konsumsi air.

Saat ini, hanya 20–30 persen air yang terserap kembali di wilayah urban karena banyaknya perkerasan tanah. Ini mengganggu sirkulasi alami air, yang lantas memicu adanya penggenangan, polusi air, dan banjir. Padahal, di lingkungan alaminya tanah menyerap sebagian besar air permukaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

China kemudian meluncurkan proyek Sponge City atau kota spons sebagai inisiatif untuk meningkatkan ketersediaan air di kawasan urban. Pemerintah China mengombinasikan solusi berbasis alam dengan infrastruktur abu-abu (grey infrastructure) untuk mengurangi penjenuhan tanah oleh air (water-logging), meningkatkan kualitas ekosistem, dan menangkap air limpasan untuk digunakan kembali. Targetnya, 70 persen air hujan bisa diserap kembali.

Langkah konkretnya seperti dibuatnya atap dan dinding hijau atau perkerasan jalan yang permeabel. Selain itu, digalakkan pula pembangunan infrastruktur untuk menangkap air dan mengembalikannya sebagai cadangan untuk irigasi pada saat musim kering. Pada 2020, 20 persen wilayah urban kota dicanangkan sudah mengimplementasikan konsep Sponge City.

Hal ini sudah tampak di Shanghai, misalnya. Di distrik Lingang atau Nanhui, trotoar dintegrasikan dengan pepohonan dan taman. Di antara situs-situs kontruksi, direncanakan pembangunan taman dan saluran air. Trotoar dibuat permeabel, memungkinkan air terserap kembali ke tanah. Danau buatan Dishui membantu mengendalikan aliran air. Bangunan-bangunan pun sudah mengaplikasikan konsep atap hijau dan memiliki penampungan air hujan.

Sejak banjir besar di Beijing pada 2012, pencegahan banjir juga menjadi agenda negara. Sponge City akan berkontribusi banyak untuk agenda ini. Profesor Hui Li dari Tongji University pernah mengatakan, hal pertama yang mesti diupayakan adalah membuat saluran air yang mendekati saluran alami karena itu cara yang natural untuk menurunkan risiko banjir.

Pendekatan yang sama sebenarnya bisa diterapkan di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Upaya yang tidak hanya meningkatkan ketahanan air, tetapi juga kualitas hidup. [*/NOV]

Foto dokumen Shutterstock.com

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 26 Maret 2018

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB