Home / Artikel / Konsumsi Minyak Sawit dalam Pola Makan di Indonesia

Konsumsi Minyak Sawit dalam Pola Makan di Indonesia

Di Indonesia selain diekspor, minyak sawit diolah menjadi minyak pangan baik yang berwujud cair (palm olein) maupun padat (palm stearin). Minyak sawit tidak hanya digunakan sebagai minyak goreng dalam rumah tangga tetapi juga dalam industri pangan seperti roti, kue dan mie, baik yang kecil maupun besar. Karena itu konsumsi minyak sawit tak hanya lewat konsumsi minyak goreng, tapi juga melalui konsumsi produka-produk industri pangan.

Berapa rata-rata konsumsi minyak sawit satu orang per hari di Indonesia belum diketahui. Data ini penting, karena pengaruh konsumsi minyak/–lemak pangan– apa pun jenisnya terhadap kesehatan tubuh sangat bergantung pada jumlah yang dikonsumsi seseorang. Umumnya konsumsi yang berlebihan merugikan kesehatan.

Tetap kontroversi
Mengapa hubungan antara konsumsi minyak sawit dan naik-turunnya kolesterol plasma darah selalu dipertanyakan? Pada tahun 1965 Keys dan kawan-kawan serta Hegsted dan kawan-kawan melaporkan, jika minyak/lemak yang mengandung asam-asam lemak jenuh (saturated fatty acids, SAFA) terutama asam palmitat (C16:0) dan asam myristat (C14:0) dikonsumsi dalam jumlah besar, maka kadar kolesterol darah akan naik. Sebaliknya, konsumsi minyak yang mengandung asam-asam lemak tak jenuh tinggi (Polyunsaturated fatty acids, PUFA) akan menurunkan kadar kolesterol darah.

Pada tahun 1980an hipotesis ini digunakan oleh Asosiasi Minyak Kacang Kedelai di Amerika Serikat untuk mengingatkan konsumen agar tidak menggunakan minyak pangan dari daerah tropis (Tropical oils; TOs), termasuk minyak sawit dalam makanan. Alasannya TOs mengandung asam-asam lemak jenuh dalam jumlah besar.

Walaupun pendapat itu kemudian diralat, pernyataan tersebut telanjur menciptakan kecurigaan dan rasa takut pada masyarakat untuk mengonsumsi minyak sawit. Penelitian-penelitian, seminar-seminar dan konferensi-konferensi tentang minyak sawit yang diadakan setelah itu pada dasarnya merupakan usaha mengobati situasi curiga dan rasa takut tersebut. Dalam hal ini peran yang dimainkan PORIM (Palm Oil Research Institute of Malaysia) sangat besar. Dari segi ilmiah umumnya penelitian-penelitian yang ada bertujuan menguji hipotesis Keys dan Hegsted pada minyak sawit.

Hasil-hasil penelitian pada tikus (antara lain: Lee dan kawan-kawan, 1988; Imaizumi dan kawan-kawan, 1990) sangat bervariasi. Ada yang melaporkan bahwa konsumsi minyak sawit meningkatkan kolesterol, tidak berbeda nyata, dan ada pula yang cenderung menurunkan kolesterol darah bila dibandingkan minyak pangan lain baik dari kelompok SAFA maupun PUFA. Hasil yang tidak konsisten antar-percobaan, antar-peneliti, dan antar-laboratorium itu sangat menyulitkan pengambilan kesimpulan. Isu tentang konsumsi minyak sawit dan naik-turunnya kolesterol darah pun tetap kontroversi.

Hasil-hasil percobaan pada para sukarelawan hingga kini memberikan data yang relatif lebih konsisten. Mungkin karena jumlah peneliti dan penelitian pada para sukarelawan terbilang sangat sedikit. Laporan-laporan hasil penelitian pada manusia (antara laini: Marzuki dan kawan-kawan, 1991; Tony dan kawan-kawan, 1991; Sitepoe dan kawan-kawan, Kompas 11 & 12, November 1994) memberikan indikasi, gonsumsi minyak sawit tidak selalu menaikkan kolesterol darah bahkan mungkin sebaliknya.

Alasannya, adanya _-tocotrienol dalam minyak sawit mampu menurunkan kolesterol darah. Alasan ini tidak tepat, karena hampir seluruh _-tocotrienol dan juga B-caroten sudah rusak pada waktu pemurnian. Dengan demikian mesti ada alasan lain yang lebih tepat, tetapi mungkin sering lolos dari pengamatan. Apakah alasan itu?

Asam lemak omega-3
Secara teoritis, kemungkinan ada dua alasan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, mungkin konsumsi asam-asam lemak jenuh dari minyak sawit oleh para sukarelawan belum lewat ”dosis”. Hal ini bisa dipertimbangkan, karena minyak sawit digunakan untuk menggoreng bahan-bahan makanan yang dihidangkan selama percobaan. Meskipun lewat cara konsumsi ini, berapa tepatnya konsumsi asam-asam lemak jenuh per 100 gram bahan makanan belum diketahui, mungkin lebih rendah dari konsumsi 100 gram roti yang diolesi mentega.

Kedua, mungkin ada sumber asam-asam lemak omega-3 dan omega-6 yang dikonsumsi para sukarelawan selama percobaan, tetapi tidak diperhitungkan para peneliti. Pada laporan-laporan penelitian tertulis, minyak sawit digunakan untuk menggoreng bahan-bahan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari, termasuk ikan segar.

Ikan merupakan sumber asam-asam lemak omega-3 teristimewa EPA (Eicosapentaenoic acid, C20:5n-3) dan DHA (Docosahexaenoic acid, C22:6n-3). Kedua asam lemak in telah terbukti menurunkan koleterol darah. Dengan kata lain, para peneliti tanpa sengaja menggunakan sumber asam-asam lemak omega-3 dalam percobaan. Belakangan ini, Sitepoe dan kawan-kawan menggunakan otak sebagai sumber kolesterol, tetapi otak juga adalah sumber asam-asam lemak tidak jenuh tinggi (PUFA) terutama DHA.

Kebutuhan akan EPA dan DHA tidak dapat dipenuhi dari konsumsi minyak sawit saja, karena jumlah asam _-linoleat (18:3n-3) pada minyak sawit kurang dari 0,5 mol % dari jumlah total asam-asam lemak. Tikus yang diberi minyak sawit saja dalam ransumnya mempunyai DPA (Docosapentaenoic acid, C22:5n-6) dalam fraksi fospolipida plasma darah, butir-butir darah merah, hati dan otot (rebhung dan kawan-kawan, 1994). Asam lemak C22:5n-6 terbentuk dari asam linoleat (C18:2n-6) minyak sawit sebagai kompensasi terhadap rendahnya jumlah EPA dan DHA yang terbentuk dari asam_-linoleat (18:3n-3). Kalau pada ransum yang mengandung minyak sawit saja ditambahkan sumber asam-asam lemak omega-3, maka asam lemak C22:5n-6 tidak muncul (Miyazawa dan kawan-kawan, 1994).

Hasil-hasil penelitian pada manusia tersebut di atas mengisyaratkan, dalam kehidupan sehari-hari pengaruh konsumsi minyak sawit terhadap naik-turunnya kolesterol darah tergantung pada pola makan seseorang, suatu keluarga atau suatu masyarakat. Pola makan di mana konsumsi minyak babi (lard), daging babi, daging sapi, ayam broiler, kalkun, daging domba, es krim, dressing, mentega, kue-kue dan lain-lain dalam porsi besar dan berlebihan, sama dengan mengonsumsi asam-asam lemak jenuh dalam jumlah besar dan konsumsi asam-asam lemak essensial (omega-3 dan omega-6) dalam jumlah sangat kecil.

Beberapa laporan penelitian tentang substitusi sebagian lemak hewan dengan minyak sawit dalam pola makan seperti tersebut di atas terbukti, para sukarelawan mempunyai kandungan kolesterol darah sedikit lebih rendah dari rata-rata masyarakat setempat. Hal ini bisa diterima karena substitusi sebagian lemak hewan (ada kolesterol) dalam menu sehari-hari dengan minyak sawit (tidak ada kolesterol), mengurangi total konsumsi kolesterol yang berasal dari lemak hewan. Pada pola makan di mana ikan segar merupakan komponen yang rutin dan biasa dalam menu sehari-hari dengan menggunakan minyak sawit sebagai minyak goreng, maka konsumsi asam asam lemak jenuh boleh dibilang sedikit dan konsumsi asam-asam lemak omega-3 tercukupi.

Pola makan Indonesia
Dari uraian diatas, pola makan di Indonesia di mana ikan segar merupakan komponen menu sehari-hari dan menggunakan minyak sawit sebagai minyak goreng boleh dikatakan ideal, karena memenuhi semua kebutuhan akan asam-asam lemak essensial. Ikan adalah sum ber protein dan sumber EPA dan DHA. Minyak sawit adalah sumber asam palmitat (C16:0) dan asam stearat (C18:0). Keempat asam lemak ini adalah asam-asam lemak utama dalam molekul fosfolipid (komponen utama membrane sel).

Derajat ketidajenuhan membran sel hati yang tersusun dari molekul-molekul fosfolipid seperti di atas tentu cukup tinggi (more unsaturated). Diduga ada hubungan antara derajat ketidakjenuhan membrane sel hati dengan jumlah reseptor pada permukaannya serta kecepatan penyerapan LDL (Low Density lipoprotein) Oley sel-sel hati, sehingga penumpukan LDL dalam pembuluh darah jadi lambat atau tidak terjadi.

Kita patut bersyukur karena nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengembangkan pola-pola makan tradisional yang ideal, dengan memadukan bahan-bahan pangan yang ada di Tanah Air. Dari laut diperoleh banyak ikan, dan di darat kini minyak kelapa dan minyak sawit banyak tersedia.

Felix Rebhung, pengajar pada Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT

Sumber: Kompas, 19 Februari 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: