Karya Anak Kalimantan untuk Memecahkan Masalah Transportasi Sungai

- Editor

Senin, 23 September 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siswa SDN 17 Nangabungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Selatan memamerkan karya sederhana dan menarik di ajang Kalbe Junior Science Fair (KJSF) 2013 yang berlangsung hingga Minggu (22/9/2013) di Ecovention, Ancol, Jakarta.

Niko Demus dan Tera Petrus, dua siswa sekolah dasar tersebut, menangkap permasalahan yang sering terjadi pada warga kampung halamannya yang kerap menggunakan perahu untuk transportasi. Air sungai kerap masuk ke dalam perahu dan harus dikeluarkan secara manual.

Dengan prinsip fisika dasar, Niko dan Tera berupaya memecahkan masalah itu. “Bagian bawah perahu kita beri lubang dan disambung dengan selang,” ungkap Niko saat ditemui Kompas.com di sela acara pameran, Sabtu (21/9/2013).

Menurut Niko, dengan inovasinya tersebut, pengguna perahu tak perlu mengeluarkan air yang masuk. Air akan dipompa keluar dengan sendirinya saat perahu bergerak dengan kecepatan tertentu. Hasil karya ini telah diujicoba langsung di sungai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hasilnya memang airnya bisa keluar. Saat perahu motor bergerak dengan kecepatan minimal 10,8 km/jam, air akan keluar,” kata Niko.

Guru pembimbing Niko dan Tera, Fransiska Yanti, menuturkan bahwa karya tersebut dibuat dengan prinsip fisika dasar Archimedes dan Bernouli. “Air akan bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah,” kata Yanti.

Yanti menuturkan, saat perahu motor bergerak, genangan air dalam perahu akan memiliki tekanan lebih tinggi dari yang ada di selang. Dengan demikian, air akan bergerak ke selang dan keluar dari kapal. Karya Niko dan Tera adalah salah satu dari 9 karya anak sekolah dasar yang dipamerkan di ajang KJSF 2013.

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Sumber: Kompas, Minggu, 22 September 2013 | 19:07 WIB
————–
Dorong Anak Terapkan Sains dalam Keseharian

SUntuk membumikan sains, para pelajar didorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sembilan inovasi karya 14 pelajar sekolah dasar yang menyisihkan 646 alat lain dipamerkan dalam acara Kalbe Junior Scientist Award 2013, Sabtu (21/9/2013), di Jakarta.

Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) adalah kompetisi produk inovasi berdasarkan sains. Dalam kompetisi itu, para siswa dari kelas IV-VI sekolah dasar diharapkan menciptakan produk orisinal sebagai solusi masalah di sekitarnya.

Niko Demus (13) dan Terah Fettrus (13), pelajar kelas VI SD Negeri 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, membuat sistem pemompa air otomatis di perahu tanpa bahan bakar untuk mengatasi masuknya air ke perahu. “Di kampung saya, perahu motor adalah transportasi utama, tetapi perahu sering kemasukan air karena jeram di sana besar,” ujar Niko.

Mereka memasukkan selang sepanjang 10 sentimeter dan berdiameter 2 sentimeter ke belakang perahu yang dilubangi. Bagian selang yang di luar perahu ditaruh serong berdekatan dengan mesin. “Saat perahu melaju dengan kecepatan minimal 10 kilometer per jam, air di perahu keluar otomatis lewat selang itu,” kata Niko yang didampingi gurunya, Fransiska Yanti (30).

Inovasi itu merupakan penerapan Prinsip Bernoulli, air mengalir dari tempat bertekanan tinggi (dalam perahu) ke tekanan rendah (luar perahu).

Pelajar kelas V SD Muhammadiyah Manyar Gresik, Diva Tsabita Shabrina Aziz (10) dan Nisrina Kamilah Al Hafizh (10), membuat alat pemberi makan ikan otomatis karena sering lupa memberi makan ikan peliharaan makan secara teratur.

Mereka memodifikasi wadah semprotan pengharum ruangan bekas. Wadah itu diubah jadi wadah penampung makanan ikan. Waktu keluar makanan bisa diatur 10-40 menit. Demikian penjelasan Diva didampingi gurunya, M Fadloli Aziz (35).

Adapun Radinka Alkira Mufti (11), pelajar kelas VI SD Kuntum Cemerlang, Bandung, membuat lampu penanda untuk pelari pagi karena khawatir dengan keselamatan ibunya yang sering berolahraga. “Kalau subuh gelap, sering ada kecelakaan pelari tertabrak motor atau mobil,” ujarnya.

Radinka memanfaatkan tabung suntik bekas berukuran 500 mililiter. Ia menaruh lilitan kawat tembaga di tengah tabung plastik. Di kiri lilitan dimasukkan lima keping magnet neodymium, sedangkan di sisi kanan disambungkan dengan lampu LED dari mouse komputer.

Tabung menghasilkan cahaya ketika digerakkan. Tabung diletakkan di tubuh pelari, di lengan atau punggung. Saat pelari bergerak, lampu akan menyala sehingga mereka bisa terlihat oleh pengendara sepeda motor dan mobil.

Radinka yang dibimbing guru Adi Marianto (30) menerapkan prinsip induksi magnet. Jika alat bergerak, kepingan magnet menghasilkan ion yang kemudian menjadi energi listrik saat melewati kawat tembaga.

Manajer Komunikasi PT Kalbe Farma Tbk Hari Nugroho mengatakan, KJSA bertujuan memberikan motivasi kepada para pelajar agar kreatif dan peka terhadap lingkungan. Kriteria penilaian didasarkan ide kreatif dan orisinal dari pelajar. (K04)

Sumber : KOMPAS
Editor : Tri Wahono

Sumber: Kompas, Senin, 23 September 2013 | 07:36 WIB
———–
Asyiknya Mengenal Keanekaragaman Hayati Laut di KJSF 2013

Ajang Kalbe Junior Science Fair (KJSF) kembali digelar tahun ini, berlangsung hingga Minggu (22/9/2013). Mengangkat tema maritim, pameran ini menyedot minat besar dari anak-anak.

Sesuai temanya, KJSF 2013 mengajak anak-anak untuk mengenal lebih dalam tentang lautan di samping bidang sains lainnya. Wahana Kalbe City dibuat untuk menyuguhkan pengetahuan tentang lautan.

Di stand dunia bawah laut, anak-anak diajak menikmati simulasi menyelam. Sebuah video memutar beragam flora dauna laut yang bisa dinikmati bila sedang menyelam.

“Asyik banget. Ada hiu. Keren,” ungkap Abigain, siswa kelas 4 SD IKIP Rawamangun yang berkunjung di wahana itu.

Abigain juga berkomentar bahwa lewat simulasi tersebut, ia jadi tahu bahwa laut Indonesia kaya akan biota. “Ternyata banyak banget hewan di laut,” tuturnya saat ditemui Kompas.com, Sabtu (21/9/2013).

Rekan Abigain, Raffa, tak kalah antusias. Ia terinspirasi untuk benar-benar menyelam suatu hari agar bisa menikmati keindahan lautan.

“Jadi pengen bisa nyelam beneran,” katanya. Raffa menuturkan, ia sangat ingin menyelam di Bali dan Raja Ampat.

KJSF telah digelar untuk ketiga kalinya. Selain dunia bawah laut, pameran ini juga mengajak anak-anak untuk mengenal dunia sains kesehatan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Penulis: Yunanto Wiji Utomo

Sumber: Kompas, Minggu, 22 September 2013 | 22:08 WIB

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru