Home / sosok peneliti / Kama Jaya dan Taufik, Dua ANS yang Menelusuri Lagi Jejak Wallace

Kama Jaya dan Taufik, Dua ANS yang Menelusuri Lagi Jejak Wallace

Kama Jaya Shagir dan Taufik Ismail adalah aparatur sipil negara (ANS) yang punya minat pada fotografi dan menulis. Minat ini seperti gayung bersambut dengan ketertarikan pada sejarah dan keanekaragaman hayati. Mereka menelusuri sejarah, mengamati keanekaragaman hayati, serta mengabadikannya dalam foto-foto, tulisan, dan buku.

Saat Kama, Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) menelusuri jejak rumah Alfred Russel Wallace di wilayah Maros pada 2015-2016, sesungguhnya hal itu tak masuk ranah tugasnya. Ketertarikan pada sejarah menuntunnya mencari tahu rumah naturalis Inggris tersebut, sebagaimana yang dibacanya dalam The Malay Archipelago.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Kama Jaya Saghir (kanan) dan M Taufiq Ismail, petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saat berada di taman nasional tersebut, Jumat (21/6/2019).

Dia mencari informasi dan literatur tentang Wallace hingga peta kuno dari berbagai sumber. Dia bahkan mengunduh dari berbagai situs yang berbayar dengan merogoh kocek pribadinya. Saat anggaran untuk berlangganan tak cukup, dia mencari tahu situs-situs yang menyediakan data secara gratis. Acap kali dia juga harus berjibaku menerjemahkan bahan literatur yang menggunakan berbagai bahasa atau istilah asing.

Informasi yang diperoleh menjadi dasar Kama untuk berkeliling ke berbagai lokasi dan menemui tetua yang pernah mendengar kisah turun-temurun soal Wallace. Selama satu tahun mencari jejak, dia mendapat satu lokasi yang sangat mendekati kebenaran tentang lokasi rumah Wallace. Ia juga mendata kembali hewan dan tumbuhan apa saja yang pernah ditemukan Wallace selama pengembaraannya di Maros.

Kama termasuk pengagum Wallace. Di profil akun Facebook-nya, dia juga memasang foto Wallace. Kama tak sendiri. Taufik, rekan kerjanya, punya ketertarikan yang sama. Namun, Taufik lebih tertarik mencari tahu hewan dan tumbuhan yang dikumpulkan Wallace. Lalu, mereka berkolaborasi.

Mengajak beberapa teman, mereka melakukan Ekspedisi Wallace dalam skala kecil dan berbagai penelitian, termasuk pernah bergabung dengan tim arkeologi yang dipimpin Adam Brumm, arkeolog dan peneliti asal Australia. Keduanya juga aktif dan berjejaring dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan kelompok masyarakat di kawasan TN Babul untuk ikut menjaga kawasan.

Suasana pagi di Kampung Berua, Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan, Rabu (19/6/2019). Bentangan alam karst menjadi salah satu kekayaan Kabupaten Maros dan Pangkep yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Selain kaya keanekaragaman hayati, kawasan karst di sini juga menyimpan jejak-jejak kehidupan prasejarah.–Kompas/Hendra A Setyawan

Mereka mengumpulkan kembali data tentang jenis kupu-kupu, burung, dan binatang lain serta tumbuhan yang pernah didata Wallace. Berbagai catatan sejarah dibuka, diteliti, diterjemahkan, dan dijadikan bekal turun ke lapangan.

Hasilnya antara lain buku berjudul Eksplorasi Literasi Bantimurung Bulusaraung 1745-1942, Madu Karst Patanyamang, Manisnya Madu Hutan dari Desa Enclave, dan buku tentang kupu-kuku berjudul Metamorfosa. Walau semua buku ini diterbitkan TN Babul dan dikerjakan bersama tim, keduanya punya peran cukup penting.

Buku-buku ini setidaknya berisi gambaran tentang Bantimurung, kawasan TN Babul, keanekaragaman hayati, hingga kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan yang menjadi mitra menjaga TN Babul.

Kerajaan Kupu-kupu
Membaca dan memahami The Malay Archipelago juga membawa keduanya sampai pada pertanyaan: berapa banyak sesungguhnya spesies kupu-kupu yang dikumpulkan Wallace selama berada di Maros. Keduanya juga terusik dengan ikon ”The Kingdom of Butterfly” atau Kerajaan Kupu-kupu yang disematkan pada Bantimurung. Ikon ini seolah dibuat oleh Wallace, padahal dalam catatannya, tak pernah sekali pun dia menyebut kalimat ini.

”Kami juga pernah mendata kembali berapa sesungguhnya spesies kupu-kupu yang dikumpulkan Wallace di Bantimurung selama di Maros antara Juli dan November 1857. Wallacea hanya empat hari di Bantimurung. Di tempat ini dia hanya menemukan enam spesies kupu-kupu. Adapun 232 spesies lain ditemukan dalam area penjelajahan di sekitar Ammasangeng dan pondok di mana dia tinggal,” tutur Taufik.

Pihak TN Babul pernah tersentak saat banyak orang mengatakan kupu-kupu di Maros hampir punah. Kama dan Taufik turun mencari tahu dan mendata kembali spesies yang ada. Dari penelitian yang dilakukan, ternyata jumlahnya masih banyak, 300-an jenis.

”Memang ada masa-masa di mana kupu-kupu terlihat banyak, misalnya di peralihan musim. Tapi, selebihnya kupu-kupu ini berkeliaran di atas karst. Tentu tak semua bisa terlihat jika sedang tak musim. Tapi, intinya masih banyak jumlah maupun jenisnya,” kata Taufik.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN–Kupu-kupu mengisap mineral dari tanah lembab di sekitar aliran sungai di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulsel, Sabtu (4/8/2012). Di kawasan ini terdapat ratusan jenis kupu-kupu yang beberapa di antaranya endemik khas yang tidak ditemukan di tempat lain.

Hampir semua jenis kupu-kupu ini telah diabadikan dalam foto-foto yang dibuat oleh Kama dan Taufik. Tak sekadar foto, tapi seluruh informasi terkait jenis, tempat, dan sifat kupu-kupu ini juga disertakan. Di sela pekerjaan kantor, keduanya memang banyak menghabiskan waktu keluar masuk hutan, menyisir goa, dan melihat kekayaan yang ada di TN Babul.

Kama dan Taufik berlatar belakang pendidikan konservasi hutan. Bekerja di TN Babul dan berurusan dengan hutan dan keanekaragaman hayati tak membuat mereka melupakan minat pada sejarah ataupun fotografi. Kama, misalnya, rajin mengumpulkan bahan terkait sejarah tentang suatu tempat, tokoh, hingga tradisi. Dokumen tua dari berbagai sumber dikumpulkan dan jejaknya dia telusuri kembali sembari menulis. Hasilnya rutin dia bagikan ke media sosial sebagai bahan diskusi atau sekadar pengetahuan.

Dia juga tertarik pada Fritz Sarasin, naturalis dan antropolog asal Swiss yang juga menjelajah di wilayah Sulawesi pasca-Wallace. Sebagian jejaknya juga dia telusuri. Ketertarikannya pada sejarah membuat Kama beberapa kali menemukan dokumen yang bahkan belum pernah dipublikasikan.

”Selalu menarik melihat kembali apa yang pernah terjadi di masa lalu, yang dilakukan para pendahulu dan membandingkan dengan kondisi sekarang. Banyak yang bisa jadi pelajaran, termasuk kearifan masa lalu,” ucapnya.

Hal yang sama dilakukan Taufik di sela pekerjaan utama atau sembari melakukan tugasnya sebagai pengendali ekosistem. Keluar masuk hutan dan mengabadikan keanekaragaman hayati, bertemu dengan masyarakat binaan TN Babul, lalu menulis.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Tim dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melakukan susur goa di Goa Katinggiang, Bantimurung, Maros, Sulsel, Jumat (21/6/2019). Goa yang belum dibuka untuk umum ini memiliki stalaktit dan stalagmit yang masih tumbuh. Selain itu, sungai bawah tanahnya menjadi daya tarik tersendiri untuk wisata minat khusus.

Taufik memang punya keahlian dalam foto satwa, mengidentifikasi satwa terutama kupu-kupu dan beragam tanaman. Bahkan, dia memiliki lisensi menyelam.

Bagi keduanya, menemukan hal-hal baru serta mengabadikannya dalam foto dan tulisan adalah sesuatu. Ini pula yang agaknya membuat keduanya agak berbeda dari ANS pada umumnya dan melakukan banyak hal di luar tugas mereka tanpa melupakan tugas utama.

Kama Jaya Shagir

Lahir: Makassar, 5 April 1975

Pendidikan:
SDN Kalukuang, Makassar
SMPN 4 Makassar
SMAN 1 Maros
S-1 Fakultas Kehutanan IPB
Pascasarjana Kehutanan Universitas Hasanuddin

Pekerjaan:
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalsel (2000-2009)
Balai TN Babul (2009 sampai sekarang)

Pengalaman/Penelitian:
Kontributor Foto Database on The Oriental Bird Images
Menelusuri Jejak Wallace (2015/2016)
White Eyed Buzzard (Butastur teesa) and New Species for Greater Sundas and Wallace (Birdingasia 23:124-125, Shagir KJ, Iqbal M)
Eksplorasi Literasi Bantimurung Bulusaraung (1745-1942), Kama Jaya Shagir dan Taufik Ismail
”Retracing Alfred Russel Wallace’s 1857 Expeditions to the Maros Karsts of Sulawesi” Biological Journal of Linnean Society (Adam Brumm, Kama Jaya Shagir, Taufik Ismail, Budianto Hakim, dll, 2019)
——————–
Taufik Ismail

Lahir: Parepare, 26 Agustus 1982

Istri: Irdiana Lestari, SE

Anak: Keenand Athaya Ismail, Kiana Gadiza Ismail

Pendidikan:
SD Negeri 60 Parepare
SLTP Negeri 2 Parepare
SKMA Ujung Pandang
S-1 Program Studi Ilmu Kehutanan pada Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado

Pengalaman/Penelitian
Salah satu penulis buku Sanctuary Kupu-Kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Salah satu penulis buku informasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Aktif menulis berita di situs www.ksdae.kemenlhk.go.id dan klikhijau.com
Salah satu penulis buku Eksplorasi Literasi Bantimurung Bulusaraung 1745-1942
Menjadi salah satu penulis jurnal internasional ”Retrecing Alfred Russel Wallace’s 1857 expedition to the Maros Karst of Sulawesi”

RENY SRI AYU/LUKI AULIA

Sumber: Kompas, 30 September 2019

Share
x

Check Also

Muhammad Nur Yuniarto, Melejit dengan Kendaraan Listrik

Apa kabar proyek kendaraan listrik? Setelah melewati riset panjang, tim ITS yang dipimpin Muhammad Nur ...