Home / Sosok / Irma Hidayana, Bergotong Royong Membangun Data Covid-19

Irma Hidayana, Bergotong Royong Membangun Data Covid-19

Irma Hidayana (43), doktor bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Columbia, Amerika Serikat, tergerak untuk membantu mengumpulkan data Covid-19. Bersama sejumlah aktivis, dia membentuk Laporcovid19.org.

ARSIP PRIBADI–Irma Hidayana, pendiri Laporcovid19.org.

Data dan informasi merupakan kunci menghadapi pandemi Covid-19, wabah yang disebabkan virus korona baru ini. Namun, persis di dua hal mendasar ini, Indonesia terlihat begitu kacau.

”Tiba-tiba saja pada bulan Februari 2020, muncul berita orang-orang meninggal yang dicurigai Covid-19, termasuk waktu itu ada salah satu pejabat negara yang meninggal dan dikubur dengan prosedur penyakit menular. Saya mulai bertanya-tanya karena pemerintah mengatakan wabah belum tiba,” kata Irma Hidayana (43), doktor bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Columbia, Amerika Serikat, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (19/5/2020).

Semakin hari, semakin banyak informasi dari teman dan kerabat yang mengabarkan saudara dekatnya tiba-tiba sesak napas, demam tinggi, lalu tak lama meninggal. Namun, pemerintah masih berdalih semuanya negatif, bahkan salah satu pasien yang jelas meninggal dengan gejala Covid-19 di rumah sakit di Semarang disebut karena flu babi.

Berawal dari keresahannya melihat kekacauan data dan informasi yang disajikan pemerintah ini, Irma dan sejumlah anak-anak muda lain membentuk Laporcovid19.org, sebuah wabah digital untuk mengumpulkan data berbasis pelaporan warga. Tak hanya korban meninggal, warga juga diajak aktif melaporkan kondisi diri termasuk kerentanan penyakit, bansos, pelanggaran dalam pembatasan sosial berskala besar, hingga berbagai permasalahan lain terkait penanganan terkait Covid-19.

Didukung ratusan anak-anak muda yang menjadi sukarelawan data, Laporcovid19.org telah memvisualkan pergerakan data Covid-19, secara lebih lengkap. Termasuk di dalamnya jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal, yang selama ini tidak pernah ada dalam laporan harian pemerintah kepada publik. Padahal, ODP dan PDP di yang meninggal rata-rata sudah 3,5 kali lebih banyak dibandingkan dengan total kematian yang dilaporkan pemerintah.

”Transparansi informasi adalah kunci dalam membangun kepercayaan publik agar bersama-sama memilki kesadaran mengadapi wabah ini. Selain itu, data yang terkumpul ini, selain digunakan untuk advokasi dan edukasi publik, juga jadi bahan kajian para saintis,” katanya.

Dengan dasar ini pula, Laporcovid19.org juga melibatkan sejumlah ilmuwan di Indonesia, termasuk yang saat ini berada di luar negeri, guna mencari solusi atas penanganan Covid-19 di Indonesia. ”Kami percaya bahwa hanya dengan bahu-membahu, gotong royong, dan berkolaborasi, Indonesia bisa bangkit melawan pandemi Covid-19 ini. Bangkit di sini mesti dipahami sebagai menegakkan yang benar, dalam hal ini menempatkan kepentingan kesehatan dan keselamatan publik di atas segalanya,” ujar Irma.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 20 Mei 2020

Share
x

Check Also

Monika Raharti Memotivasi Peneliti Belia Indonesia

Monika Raharti memotivasi pelajar SMA untuk menjadi peneliti belia yang bisa berkompetisi di ajang internasional. ...

%d blogger menyukai ini: