Home / Berita / Interaksi Manusia dan Satwa Liar Picu Penyakit Menular

Interaksi Manusia dan Satwa Liar Picu Penyakit Menular

Pandemi Covid-19 yang terjadi di banyak negara saat ini menjadi pembelajaran penting untuk mengurangi intensitas interaksi dengan fauna liar. Hal itu bisa dilakukan dengan menghentikan perburuan satwa liar.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Warga dan aktivis dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) menggelar aksi dalam memperingati Hari Primata Nasional di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, dengan tema Indonesia Bebas Topeng Monyet, Selasa (30/1/2020).

Pandemi Covid-19 yang menjadi permasalahan serius bagi kesehatan dan ekonomi banyak negara saat ini menjadi pembelajaran penting untuk mengurangi intensitas interaksi dengan fauna liar. Itu bisa dilakukan dengan menghentikan perburuan dan perdagangan satwa liar dari hutan dan juga melindungi habitat satwa liar tersebut di alam.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cahyo Rahmadi, Selasa (20/4/2020) dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Greenpeace Indonesia, mengatakan secara alami satwa liar memiliki virus maupun bakteri dan mikroorganisme pada tubuhnya. “Sebagai default, satwa liar host (inang) berbagai virus maupun mikroba. Satwa liar ya gudangnya,” ujarnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebutuhan manusia akan ruang maupun ketidakmampuan manusia mengelola hutan, membuat interaksi manusia dan hewan. Peningkatan interaksi ini pun mau tak mau juga melibatkan virus dari satwa liar yang berpotensi spillover atau bangkit menular ke manusia.

Ia menunjukkan penyakit sindrom pernapasan akut parah (SARS) pada tahun 2002 berasal dari virus kelelawar yang mencapai ke manusia dengan perantara musang. Kemudian virus SARS-CoV-2 yang saat ini menyebabkan penyakit Covid-19, masih dipelajari perantara dari kelelawar ke manusianya. Awalnya ada hasil riset yang menduga ular sebagai perantara dan kini trenggiling.

Cahyo menekankan bahwa satwa liar bukan sebagai penyebab penyakit-penyakit ini. “Manusia membuat penyakit bisa sampai ke manusia. Kita sedang menuai hasilnya ketika selama ini tidak aware mengeksploitasi (sumber daya hutan) habis-habisan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, hutan diubah menjadi perkebunan skala luas yang masif maupun berbagai tanaman monokultur. Hal ini diibaratkan manusia sedang membuka kotak hutan yang selama ini terawetkan dan berisi sejumlah hal bermanfaat juga hal-hal “negatif” seperti berbagai virus dan mikroorganisme lain sebagai sumber penyakit bagi manusia.

Mikroorganisme yang keluar ini kemudian bisa mencari inang dan sampai kepada manusia. “Covid ini sebenarnya kita aware menjaga jarak hubungan kita dengan satwa liar. Jangan sampai satwa liar yang dihabitatnya yang belum terganggu akhirnya didekati manusia sehingga bertukar penyakit sehingga menyebabkan penyakit bagi manusia,” ungkapnya.

Ia pun mendorong agar penegakan hukum bagi penanganan kejahatan perburuang dan perdagangan satwa liar terus dilakukan. Menurut data terbaru Direktorat Jenderal (Ditjen) Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sejak tahun 2015 menangani 273 kejahatan peredaran illegal tumbuhan dan satwa liar yang keseluruhannya telah sampai di persidangan.

Cahyo juga mengingatkan agar Indonesia terus berkomitmen pada perlindungan hutan. Bukannya malah mempermudah izin-izin investasi pertambangan dan perkebunan dengan cara “menghilangkan” analisis mengenai dampak lingkungan yang meningkatkan potensi pembukaan lahan. Hal-hal itu terdapat dalam Rancangan Undang Undang Cipta Kerja yang kini berada di Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Warga dan aktivis dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) menggelar aksi dalam memperingati Hari Primata Nasional di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, dengan tema Indonesia Bebas Topeng Monyet, Selasa (30/1). Selain melanggar KUHP 302 karena kesejahteraan satawa, mereka juga mengajak dan menyosialisasikan kepada warga untuk waspada terhadap bahayanya penularan penyakit zoonosis prmata kepada manusia melalui topeng monyet. Beberapa penyakit tersebut antara lain TBC, hepatitis, dan rabies.

Alih fungsi lahan
Arby Krisna, pegiat media sosial yang berisi edukasi terkait reptil, mengingatkan alih fungsi lahan itu tak hanya terjadi di hutan. Di dalam perkotaaan saja, kata dia, juga terjadi alih fungsi lahan yang bisa meningkatkan intensitas interaksi manusia-satwa liar.

Sebagai contoh, merebaknya ular kobra anakan yang berkeliaran di Depok, Tangerang, Bogor, dan sejumlah daerah lain. Ini terjadi karena ruang hidup ular telah berubah menjadi permukiman maupun kawasan industri.

Ia pun menyoroti kegemaran penghobi untuk mengoleksi hewan liar yang bersumber dari dalam hutan atau F1. Selain meningkatkan risiko zoonosis, tindakan tersebut menurutnya bisa membawa kepunahan pada satwa liar di alam. Ia menganjurkan agar hewan-hewan yang dipelihara itu didapatkan dari lokasi pembudidayaan resmi, bukan hasil tangkapan.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber:Kompas, 21 April 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: