Home / Berita / Hutan Tropis Benteng Terakhir

Hutan Tropis Benteng Terakhir

Hutan tropis memegang peran krusial. Namun, langkah penghentian deforestasi berjalan tersendat. Padahal, hutan adalah benteng kehidupan kita yang terakhir. Udara dan air kehidupan mahluk hidup berasal dari sana.

Dua hari di Oslo, Norwegia, 27-28 Juni 2018, hutan tropis menjadi “primadona”. Acara ini dihadiri sekitar 500 orang dari berbagai latar belakang: politisi, pejabat pemerintah pusat, pejabat pemerintah daerah, pengusaha swasta, peneliti, akademisi, lembaga swadaya masyarakat non-pemerintah, masyarakat adat.

Forum bertajuk “Oslo Tropical Forest Forum” (OTFF) tersebut merupakan “perayaan” 10 tahun disepakatinya skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan (REDD+) masuk dalam Kerangka Kerja PBB pada Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC). Norwegia menjadi tuan rumah untuk konferensi dua hari tersebut sebab selama ini amat progresif memberikan pendanaan untuk negara-negara pemilik hutan tropis.

Tepat di hari pembukaan konferensi, Global Forest Watch bersama World Resources Institute merilis data penelitian mengenai luasan tutupan hutan yang hilang (tropical tree cover loss) sepanjang tahun 2017 hasil pemantauan satelit Landsat. Penelitian dilakukan bersama University of Maryland.

KOMPAS/BRIGITTA ISWORO LAKSMI–Frances Seymour dari World Resources Institute memandu acara penutupan Oslo Tropical Forest Forum, Kamis (28/6/2018), di Oslo, Norwegia.

Dari grafis nampak, pengurangan tutupan pohon tropis pada 2017 meningkat lebih dari 50 persen dibanding pada tahun 2011. Perbandingan hanya bisa dilakukan dengan data tahun 2011 karena data tahun 2011-2017 diolah dengan algoritma yang berbeda dengan data 2001-2010.

Pengurangan tutupan pohon tropis pada 2017 meningkat lebih dari 50 persen dibanding pada tahun 2011.

Elizabeth Dow Goldman analis geospasial dari GIS (Geospatial Information System) untuk GFW menulis, University of Maryland berencana memproses kembali data-data tersebut dengan menggunakan satu algoritma.

Muncul kekhawatiran bahwa proses menghutan kembali secara alamiah di masa mendatang akan terhambat. Sebab, bencana iklim seperti kebakaran akibat suhu tinggi dan badai tropis berperan besar pada deforestasi. Kejadian badai tropis dan kekeringan semakin sering terjadi seiring meningkatnya fenomena pemanasan global.

Kehabisan waktu
Pakar sistem bumi, meteorologi, dan iklim dari Brasil, Carlos Nobre, menegaskan bahwa kita telah kehabisan waktu.

Dia merujuk pada target pembatasan kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celsius atau 1,5 derajat celsius dengan kerja lebih keras, sesuai Kesepakatan Paris (Paris Agreement). Dengan kondisi iklim saat ini, “Saya tidak bisa menjamin bahwa hutan tropis masih memiliki kemampuan memulihkan diri secara alamiah.”

Dengan kondisi iklim saat ini, Saya tidak bisa menjamin bahwa hutan tropis masih memiliki kemampuan memulihkan diri secara alamiah.

“Meski kita hentikan deforestasi sekarang juga di seluruh planet, dan hutan tropis menyerap emisi di atmosfer, itu tidak mencukupi jika kita tidak bergegas. Kita tidak bisa melakukannya secara bertahap,” tegasnya. Hutan tropis dikatakan berpotensi menyerap 30 persen emisi karbon global.

Menurut kumpulan para ahli sedunia untuk perubahan iklim, Intergovernmental Panels on Climate Change (IPCC), bahkan kontribusi negara-negara anggota UNCCC dalam mengurangi emisi, hanya mampu mencapai dua pertiga target penurunan emisi untuk mencapai batas kenaikan dua derajat celsius.

Menyusul kesepakatan lebih dari 190 negara, organisasi non-pemerintah, dan korporasi menandatangani Deklarasi New York 2014, lahirlah TFA 2020. Mereka bersepakat menghentikan deforestasi secara total (zero deforestation) pada rantai suplai daging sapi, kelapa sawit, kedelai, dan bubur kertas pada 2020.

Tak sekadar pohon
Di sepanjang konferensi yang berlangsung selama dua hari tersebut, selain kisah sukses seperti berkurangnya deforestasi Brasil-meski sekarang meningkat lagi-, dan sukses Rumania menciptakan perangkat untuk mengikuti jejak produk hasil hutan, aroma pengakuan bahwa dunia berjalan amat lambat dalam mengatasi deforestasi terus muncul di arena konferensi.

Dihadapkan pada data deforestasi, langkah menghentikan deforestasi menjadi tak berarti. Hilangnya pohon sudah di tingkat kritis. Semua langkah selama ini rupanya tak cukup lagi.

Dihadapkan pada data deforestasi, langkah menghentikan deforestasi menjadi tak berarti. Hilangnya pohon sudah di tingkat kritis.

Apa yang menghilang dari kesadaran kita? Kita rupanya kehilangan kemampuan menyadari bahwa hutan tak sekadar sekumpulan pohon. Di sana ada keanekaragaman hayati sumber beragam kehidupan. Hutan adalah penyimpan gas rumah kaca. Hutan tropis adalah rumah kehidupan. Dari sana mahluk hidup mendapatkan air dan udara yang vital bagi kehidupan. Hutan tropis adalah benteng kehidupan kita yang terakhir.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 10 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: