Home / Tokoh / Fachroel Aziz; Belajar dari Tulang Belulang

Fachroel Aziz; Belajar dari Tulang Belulang

Tulang gajah kerdil, stegodon, dan kura-kura darat raksasa dari Flores, hingga replika tengkorak manusia purba memenuhi ruangan mirip bungker tanpa jendela. Bau resin tajam menusuk hidung. Musik berirama pop, rock, hingga rap yang disiarkan salah satu stasiun radio anak muda di Bandung keras terdengar.

Fachroel Aziz (69) duduk di sudut Ruang Reparasi Fosil Museum Geologi-Badan Geologi, Bandung. Bercelana jins, kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, dan bergelang rantai logam, profesor riset bidang paleontologi ini terlihat santai.

Namun, tumpukan buku dan lembaran naskah tebal di meja tak bisa menyembunyikan kesibukannya. ”Masih 90 persen. Semoga tahun ini bisa selesai,” kata dia, menunjukkan naskah buku Atlas Manusia Purba yang tengah disusun bersama yuniornya di Museum Geologi, Iwan Kurniawan.

Sesekali dia melongok ruangan di sebelah untuk mengarahkan karyawan yang membersihkan fosil, mengawetkan, dan membuat replika. ”Saya sudah pensiun sejak 2011, tetapi masih dikaryakan,” kata dia.

Fachroel merasa senang karena tenaganya masih dibutuhkan, tetapi juga resah karena belum punya penerus. ”Mestinya sudah dipersiapkan jauh hari sehingga tidak ada kekosongan peneliti senior di bidang paleontologi vertebrata ini,” kata dia.

Apa pentingnya mempelajari paleontologi vertebrata?

Semua ilmuwan di dunia kalau belajar sejarah evolusi manusia pasti akan ke Indonesia. Mereka akan ke Trinil, Jawa Timur. Kenapa? Karena nenek moyang manusia purba pertama, Pithecanthropus erectus, yang melengkapi missing link dalam sejarah evolusi manusia, ditemukan di Trinil oleh Eugene Dubois pada tahun 1891-1893. Temuan ini selanjutnya melahirkan cabang ilmu pengetahuan paleontologi manusia atau yang sekarang dikenal sebagai paleoantropologi.

Indonesia juga memiliki fosil manusia purba terlengkap di dunia. Misalnya, fosil P VIII di Sangiran, adalah manusia purba pertama yang ditemukan lengkap dengan mukanya. Sebelumnya, para ahli di masa lalu membayangkan manusia purba itu seperti monyet. Temuan P VIII ini mengubah paradigma ilmu pengetahuan.

Sudah lebih dari 100 tahun fosil manusia purba pertama ditemukan di Jawa dan masih jadi rujukan ilmu pengetahuan hingga kini. Tetapi, berapa orang Indonesia yang serius meneliti soal ini? Sepeninggal almarhum Prof T Jacob dari Universitas Gadjah Mada, belum ada yang sepadan. Seharusnya kita bisa melahirkan banyak ahli ini di tingkat dunia.

Sekarang dengan inisiatif sendiri saya mendorong Pak Iwan. Tetapi, dia masih baru dan masih perlu banyak waktu untuk memahami itu. Saya butuh enam tahun belajar, di lapangan maupun di bangku kuliah, dan masih belajar hingga setua ini.
Birokrasi menghambat

Prof Fachroel AzizBagi Fachroel, lambatnya regenerasi ini terjadi karena birokrasi di negeri ini tidak memiliki visi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, bahkan cenderung menghambat. ”Kalau pertempuran, ini jenderalnya yang harus bertanggung jawab. Para pimpinan itu lupa menyiapkan ahli-ahli yang akan meneruskan kerja di bidang ini,” kata dia. ”Saya khawatir mereka tidak paham soal pentingnya bidang ini. Kalau saya duduk di manajemen, sejak awal saya akan tugaskan anak buah untuk mempelajarinya. Manajemen birokrasi kita memang kebanyakan tidak punya visi.”

Bisa dijelaskan peran yang harusnya dilakukan birokrasi dalam pengembangan ilmu?

Eugene Dubois yang menemukan fosil Trinil pulang ke Belanda 1900-an. Penelitian dilanjutkan oleh GHR Von Koenigswald tahun 1930-an dan sukses menemukan fosil-fosil penting Sangiran. Ketika Koenigswald meninggalkan Indonesia tahun 1940-an, tak ada ahli yang meneruskan. Kekosongan terjadi hingga awal 1960-an, ketika kemudian Prof Sartono dari ITB menekuni soal ini. Prof T Jacob lalu melanjutkannya hingga beliau almarhum.

Saya masuk ke Direktorat Geologi tahun 1970-an. Awalnya saya studi fosil mikro (foraminifera) untuk eksplorasi minyak bumi. Jadi, saya sama sekali tidak belajar fosil manusia, bahkan juga tidak tertarik dengan persoalan ini.

Tahun 1976-1979, Direktorat Geologi bekerja sama dengan Jepang meneliti Sangiran. Saat itu, kita punya banyak geolog, tapi tidak ada yang mendalami paleontologi. Pak Darwin Kadar, atasan saya, meminta saya mendampingi Prof Naotone Watanebe, paleontolog dari Tokyo University. Watanabelah yang awalnya menganjurkan saya belajar paleontologi vertebrata. Dia banyak memberi buku dengan catatan tangannya agar saya memperdalam hal ini, tetapi saya belum tertarik.

Namun, atasan saya terus mengarahkan dan memberi kesempatan. Saya selalu diminta menemani peneliti luar bidang paleontologi yang datang. Hingga pada tahun 1980-an, saya menemani Prof Sondaar dari Utrecht University (Belanda) yang ingin melihat koleksi fosil di Museum Geologi. Dia bilang, ’Koleksi fosil ini sangat penting untuk pengetahuan, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi bagi masyarakat dunia.’

Di akhir perjumpaan, Sondaar menawari saya beasiswa untuk belajar paleontologi ke Belanda. Namun, saya kembali menolak. Saat itu belum mampu berbahasa Inggris dengan baik. Selain itu, saya belum tertarik dan tidak punya dasar untuk itu. Saya bilang enggaklah.

Dua tahun kemudian, Sondaar datang lagi. Kali ini, saya diminta menemani meneliti di Bumi Ayu, Tegal. Sebelum dia kembali ke Belanda, dia mengajak mampir ke Kedutaan Belanda di Jakarta. Tiba-tiba saja saya disodori beasiswa sekolah ke Belanda. Akhirnya saya terima.

Dari awalnya tidak punya minat, saya akhirnya mendapat jalan untuk sekolah lagi dan tercebur ke bidang ini hingga saat ini karena diberi kesempatan atasan saat itu. Jadi, peran atasan atau birokrasi yang memiliki visi itu sangat penting.

Tetapi, yang terjadi saat ini justru kebalikannya.

Apa yang terjadi?

Sebagai profesor, saya merasa kemampuan dan ilmu saya tidak dipakai optimal oleh institusi. Misalnya, saya punya jaringan dan pengalaman kerja sama dengan banyak pihak luar. Jangankan diminta membagi pengalaman, ditanya saja tidak pernah. Saya kira, gejala ini terjadi secara luas di instansi lain di negeri ini.

Kita mungkin punya beberapa ahli yang mendalami bidang tertentu, misalnya pertanian. Tetapi, mereka tidak terekspos. Mungkin karena dia ditekan atasan. Orang yang punya potensi, apalagi yang kritis, cenderung akan disembunyikan atasannya.

Akibatnya, banyak yang putus asa atau kemudian memilih bekerja di negara lain. Sebaliknya, mereka yang bermanis muka sama atasan, akan mendapat tempat. Karier cepat menanjak, lalu jadi pejabat.

Sepanjang karier sebagai pegawai negeri, saya tidak pernah memegang jabatan. Saya peneliti yang bekerja di lapangan. Ukuran prestasi sebenarnya pada karya ilmiah, selain menulis buku. Tetapi, sedihnya, saya belum punya buku sendiri. Kalau memberi pengantar atau komentar buku-buku babon bidang paleontologi sering.

Kenapa tidak menulis buku?

Siapa yang mau membiayai? Saya sudah menulis lebih dari 250 artikel di jurnal nasional maupun internasional. Saya juga punya banyak riset dan bahan-bahan penting. Kalau mau buat buku dari kumpulan paper tentu bisa, tetapi siapa yang mau menerbitkan?

Sedangkan untuk menulis buku yang serius tidak sesederhana itu. Butuh riset mendalam dan waktu untuk mengendapkan. Selain itu juga butuh dukungan tim teknis, misalnya untuk mengolah foto dan tentu saja dana. Kalau saya tidak punya kertas bagaimana? Saya tidak bisa melakukannya sendirian. Untuk mengerjakan Atlas Manusia Purba ini butuh waktu bertahun-tahun dan baru akan terwujud setelah Pak Iwan memegang jabatan. Entah dari mana dia alokasikan uangnya.

Lagi pula, setelah terbit jadi buku, bagaimana apresiasi masyarakat? Orang lebih suka membaca roman picisan dibandingkan ilmiah. Secara umum apresiasi terhadap riset-riset di Indonesia sangat kurang. Misalnya, saat kami menemukan fosil gajah blora tahun 2009, seluruh dunia menelepon, memberi selamat dan antusias untuk mengetahuinya. Beberapa media asing menelepon, tetapi di Indonesia seperti tak ada yang peduli. Bahkan, RRI saja tidak menghubungi kami.

Apa harapan Anda ke depan?

Sekarang umur saya 69 tahun. Anggap saya punya umur panjang dan masih sehat, maksimal sampai umur 80. Tidak pikun sudah untung. Jadi, kira-kira maksimal waktu saya tinggal 10 tahun lagi. Tentu saja, saya bisa mati lebih cepat lagi. Tetapi, sebelum itu, saya ingin ada orang yang meneruskan kerja ini.

Koleksi fosil manusia purba di Museum Geologi ini bernilai ilmiah tinggi dan menjadi perhatian ilmuwan dunia. Karena itu, perlu perhatian dan penanganan yang lebih serius. Masih banyak lagi koleksi fosil menanti para ilmuwan muda kita.

Tetapi, ini memang akan sulit dan butuh dukungan birokrasi. Orang itu perlu diangkat dan diberi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Birokrasi bertujuan baik, tapi pelaksanaannya menghambat dan korup. Lihatlah, beras untuk orang miskin dan kitab suci pun dikorup. Itu partai yang mengaku berlandaskan agama, ke mana dana sosialnya? Ternyata malah dibagi ke artis, dari uang korupsi pula. Banyak sekolah roboh dibiarkan, para peneliti pun kesulitan menerbitkan buku. Saya tak bisa berkata-kata lagi.

Di ujung usia ini, saya hanya bisa berharap kita punya pemimpin yang mau berjuang untuk rakyat dan punya perhatian pada ilmu pengetahuan. Siapa pun orangnya terserah. Dengan ilmu pengetahuan, cakrawala dunia akan terbuka dan kita tidak hanya disibukkan mengejar materi saja. Untuk generasi muda, jadilah secercah obor dalam kegelapan sains Indonesia! (INK)

Oleh: Ahmad Arif

Sumber: Kompas, 4 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Bersatulah, Indonesia Sudah Darurat Korona

Dengan penetapan Covid-19 sebagai bencana nasional, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memegang komando penanganan ...

%d blogger menyukai ini: