Home / Sosok / Drh Rajanti Fitriani Mendengarkan “Curhat” Hewan

Drh Rajanti Fitriani Mendengarkan “Curhat” Hewan

Sulit dijelaskan, tetapi inilah kenyataan. Sama dengan manusia, hewan suka curhat alias memiliki curahan hati. Ketajaman mendengarkan curhat membuktikan, hewan tidak pernah berbohong, memiliki loyalitas luar biasa, kadang lebih bijaksana, bahkan lebih care daripada manusia. Memang, kadang ada rasa emosional instingtif lebih dominan.

Hampir tengah malam, Dokter Hewan Rajanti Fitriani (49) mengirimkan tujuh foto dan pesan singkat melalui gawai: “Yeey… Tadi siang rusanya sudah beranak. Entah berapa banyak, karena sudah senang melihat foto anaknya.”

Rusa totol (axis-axis) itu dikabarkan lahir, tak jauh dari Stadion Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (24/7/2018), tempat penyelenggaraan Asian Games 2018. Penempatan puluhan rusa yang dikirim dari Istana Bogor itu bakal menjadi salah satu daya tarik yang dipersiapkan pemerintah daerah.

Kelahiran adalah putaran kehidupan alami. Di balik rasa bahagia Rajanti, kelahiran rusa saat itu bukanlah kebahagiaan biasa. Beberapa bulan lalu, dua ekor rusa dikabarkan mati. Pengelola Jakabaring meminta Rajanti untuk mencari tahu, mengapa dua dari puluhan rusa itu mati?

Keahlian mendiagnosis penyakit hewan mungkin setara dengan dokter hewan lainnya. Begitu dipilih untuk datang ke Palembang, Rajanti yang ditemui di kompleks klinik hewan miliknya di daerah Serpong, Tangerang, Rabu siang, merasa heran.

KOMPAS/STEFANUS OSA TRIYATNA–Drh Rajanti Fitriani

“Rusa kan gampang stres. Ibaratnya, rusa yang dikirim dari Bogor tidak pernah dipegang-pegang orang. Mereka (pengelola) panik dong. Enggak enak, karena (rusa itu) hibah, seakan-akan mereka enggak bisa mengurus. Akhirnya, mereka minta saya ke sana untuk memeriksa rusa-rusa ini,” kata Rajanti.

Tadinya, Rajanti bersama Drh Chika dan Drh Caroline siap menuju Palembang. Sempat terpikir, rusa-rusa itu binatang liar. Lagi pula, di sana juga banyak dokter hewan. Rusa liar, dipegang saja tidak mungkin bisa. Stresnya tinggi. Tidak akan banyak memecahkan masalah.

Segala tantangan menangani rusa itu membuat Tim Mind Power ini mengubah konsep penyelamatan rusa-rusa itu. Terbukti, rusa-rusa itu menjauh. Tim ini mulai menyebar, mempraktikkan konsep Mind Power untuk mencari tahu dari rusa-rusa itu sendiri.

“Kami mulai mencari, sebenarnya kematian rekan-rekan rusa itu kenapa? Akhirnya, kami ‘bercakap-cakap’ dengan mereka, ada apa? Ternyata, ada yang terlalu sedih induknya karena tidak bisa menolong dan akhirnya dia mati. Kami ‘bercakap-cakap’ dengan teman-temannya,” ujar Rajanti.

Bisa saja, menurut Rajanti, menelusuri dari keterangan penjaga rusa. Misalnya, ditemukan rusa-rusa itu dipisahkan oleh penjaga. Namun, validasi yang tepat justru diperoleh dari teman-teman rusa. Terbukti, induk rusa mati karena tidak bisa membantu anaknya. Stres tinggi.

Dianggap aneh
Temuan atas penyebab kematian rusa memang kerap dianggap aneh. Bahkan, Rajanti tak heran, apabila dianggap membingungkan. Padahal, ada dan bisa dipelajari ilmu-ilmunya. Dia hanya menyebut, komunikasi di frekuensi yang sama yakni masuk gelombang alfa.

Rajanti melihat, manusia memiliki kekayaan luar biasa berupa otak kiri dan kanan. Otak kiri diwujudkan dengan menulis, berhitung, ngobrol, dan aktivitas lainnya. Sedangkan, otak kanan itu lebih mengaktifkan perasaan, intuisi maupun telepati. Ada juga emosi dan kreativitas. Sesuatu yang tidak dipikirkan tetapi masuk ke alam bawah sadar manusia. Kesedihan, salah satu bukti otak kanan sedang bekerja. Otak kanan seperti software, sedangkan otak kiri serupa hardware.

Menurut Rajanti, saat dalam kandungan hingga mendekati ajal, semua berbentuk informasi. Semua direkam di otak kanan sebagai bank data. Jadi, bank data bisa diambil kapanpun selama manusia masih hidup.

“Itulah kekuatan otak kanan. Kenapa? Karena kita masuknya ke gelombang alfa. Sama seperti hewan, mungkin hewan itu sedang tidur atau jingkrak-jingkrak, main bersama owner. Di sinilah, kita menyesuaikan dengan alam bawah sadar dia, sehingga kalau kita sama frekuensinya, maka kita akan bisa menarik informasi apapun dari si hewan ini,” jelas Rajanti.

Gelombang alfa inilah yang dipelajari di Mind Power. Manusia bisa masuk dengan dangkal maupun mendalam. Semakin mendalam, semakin banyak pula informasi yang bisa ditarik. Bukan hanya bank data yang dimiliki hewan, tetapi juga sesama manusia.

Rajanti memberikan catatan. Apabila gelombang alfa yang dimasuki masih dangkal atau permukaan, otak kiri akan mudah mempengaruhinya. Sebaliknya, apabila sudah semakin dalam, informasi-informasi murni akan mudah diperoleh. Otak kiri tidak berada di gelombang alfa, melainkan gelombang gama. Memang, tipis sekali perbedaannya dan saling memengaruhi.

Terus belajar
Tak sekejap memperoleh “ilmu” yang sekadar menunjang panggilannya sebagai dokter hewan. Rajanti merasa terus belajar. Sifat maupun perilaku hewan semakin dipahami melalui keahlian komunikasinya saat ini.

Selama tiga tahun belakangan ini, Rajanti merasakan insting atau intuisinyet makin terasah. Tanpa sadar, sebenarnya setiap manusia memilikinya. Cuma tidak pernah terasah, bahkan Rajanti hanya memadang sebagai kebetulan-kebetulan semata, ketika “pasien” yang ditanganinya memperoleh kesembuhan.

Dari belajar body talk, misalnya. Seekor anjing tidak mau makan. Secara medis, anjing itu sehat. Begitu konsentrasi sesaat, Rajanti memperoleh clue bahwa anjing itu sebenarnya sedang marah dengan pemiliknya.

Rajanti mempelajari linking awareness. Namun, Rajanti merasa tidak memperoleh banyak dari ilmu ini. “Entah bagaimana, saya menemukan cara sendiri sehingga saya bisa berkomunikasi. Tapi, saya belum sreg. Saya belajar lagi Mindscape di Singapura, ternyata ini jauh lebih ngeh, mengerti karena lebih logic buat saya,” kata Rajanti.

Lalu, Rajanti pun mempelajari metode Da Silva. Tak puas dengan itu, Rajanti mempelajari Energetic yang mirip chiropractic tanpa perlu menyentuh pasien. Penyembuhan dengan jarak jauh. Ternyata, beberapa tahun sebelumnya, Rajanti tanpa disadari sudah mempraktekkannya. Tulang kaki anjing yang “patah” sehingga bengkok. Secara medis, sulit disembuhkan dan harus operasi.

“Entah bagaimana, tiba-tiba saya tergerak untuk perlahan-lahan meluruskan tulang itu kembali. Ternyata, tulang yang sudah kaku itu bisa bergerak, lurus kembali. Bukan tumbuh, tetapi direposisi. Tulang yang tadinya keras, bisa menjadi lunak dan direposisi lagi. Dulu, saya pikir penyembuhan itu miracle,” jelas Rajanti, setelah menangani 4-5 kasus serupa.

Boleh jadi, kalangan umum menyebut sebagai metode tenaga prana. Namun, Rajanti menyebutnya sebagai metode komunikasi. Sebut saja, Xena si anjing kampung yang ditembak oknum ketua RT yang arogan. Induk Xena telah ditembak mati sehari sebelumnya. Pengadopsi Xena menamakan anjing itu Gaby.

Trauma psikis membuat anjing itu takut pada manusia. Gemetar dan kaku, jika dipegang. Xena sempat dioperasi untuk mengeluarkan pelurunya. Tapi, dokter menyerah. Peluru di yang tertinggal menyebabkan masalah organ-organ tubuhnya. Tubuhnya tidak bisa bergerak, hanya kepalanya yang bisa digerakan sedikit. Selain ditembak, sarah bagian pinggang rusak akibat pukulan cukup keras.

Tadinya, tim dokter lain memutuskan untuk euthanasia, dibunuh secara perlahan. Dalam testimoni pemilik anjing itu, Xena atau Gaby ditangani Rajanti. Usai berkomunikasi dengan anjing itu, Rajanti menerapkan metode energetic untuk melonggarkan jaringan ikat yang menyelubungi peluru dengan harapan peluru bisa bergerak ke arah yang lebih mudah diambil, sehingga tidak membahayakan organ-organ tubuh lainnya. Kuncinya, kesabaran. Anjing itu akhirnya bisa mengangkat tubuhnya dan bergerak dengan lincah.

Tak hanya penyembuhan, Rajanti menemukan pengalaman lain, mulai anjing “sombong” yang sebetulnya tubuhnya sedang sakit kronis, anjing stress yang memikirkan kesendirian pemiliknya, anjing yang selalu mengigiti daster seorang oma akibat perilaku tidak menyenangkan hingga anjing yang bisa menyebutkan kapan kematian si anjing itu sendiri. Bagi Rajanti, bermain dengan hewan-hewan itu menjauhkan kita dari stress dunia.

Rajanti Fitriani

Tempat/Tanggal Lahir: Bogor, 21 Desember 1968

Suami: Andreas Andi Sidharta

Anak:
Ray Agyra Jeremy
Christopher Areliano Shilo
Amaris Egidia Kiara
Pendidikan:

Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, 1992

Pengalaman Profesional:
Dokter hewan sejak 1994-Sekarang
Pemilik Klinik Hewan Kecil Terintegrasi sejak 2012
Praktisi Body Talk untuk Hewan
Praktisi Energetics Practitioner
Konsultan dan Praktisi Mind Power untuk Manusia dan Hewan
Praktisi Komunikasi Binatang dan Hewan Peliharaan
Pembicara: Study Kasus Obat Herbal pada Pengobatan Tumor dan Cancer pada Anjing, Dasar-dasar Dermatologi, Dermatomycosis pada anjing, Reach your goals and dreams, Mental Block, How to Communicate With Your Pet, Talk With Your Animals, dan How to Influence Other People and Animals

Pelatihan Profesional:
ESAVS Dermatology Asia 1, Chiang Mai 2018
IBA – Advanced Mindscape : Another Dimension 2018
IBA – Mindscape I di Manila dan Mindscape II-III di Singapura (2017)
Esavs Advanced Veterinary Studies in Dermatology , Bangkok 2017
Da Silva Basic training, 2016
Berbagai Pelatihan Energetics, Body Talk dan Linking Awareness di berbagai kota (2015-2016)
ESAVS – Reproduction, Nantes, Paris 2014
Workshop Veterinary Dermatology, Amsterdam, 2014
ESAVS Veterinary Clinical Pathology, 2014
World Conggress Veterinary Dermatology – Vancouver Canada 2012
dan masih banyak lagi

STEFANUS OSA TRIYATNA

Sumber: Kompas, 1 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sosok Pengajar Egaliter dan Nasionalis Itu Telah Tiada…

Cornelis Lay (61), Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada, telah berpulang, Rabu ...

%d blogger menyukai ini: