Home / Berita / Digitalisasi Sastra Jawa Semakin Mendesak

Digitalisasi Sastra Jawa Semakin Mendesak

Penyebaran karya-karya sastra berbahasa Jawa melalui platform digital menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Upaya ini penting untuk meregenerasi penulis sekaligus pembaca karya-karya sastra Jawa.

Dosen Program Studi Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang Dhoni Zustiyantoro mengatakan, selama ini orientasi para pengarang sastra Jawa masih terbatas pada penerbitan buku atau mengirim karya-karyanya ke majalah berbahasa Jawa. Karena itu, setiap tahun rata-rata hanya terdapat 10-20 judul buku sastra Jawa yang diterbitkan, baik dalam bentuk novel, kumpulan cerkak (cerita pendek berbahasa Jawa), maupun kumpulan guritan (puisi berbahasa Jawa).

Pada majalah mingguan berbahasa Jawa yang masih eksis hingga kini, seperti Panjebar Semangat dan Jaya Baya masih bisa ditemukan satu hingga dua cerkak dan sejumlah gurit dalam setiap terbitan. Namun, jumlah tersebut tentu masih jauh dari cukup sebagai upaya pengembangan sastra Jawa.

Jika dikalkulasi berdasar kuantitas karya, para pengarang sastra Jawa dari Jawa Timur rata-rata lebih mendominasi karena di Jawa Timur sanggar-sanggar sastra Jawa terus berproses dengan dorongan sastrawan-sastrawan senior. Dalam jangka waktu tertentu, sanggar maupun komunitas sastra di kampus juga memiliki target untuk menerbitkan karya bersama.

ARSIP PRIBADI–Dosen Program Studi Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang Dhoni Zustiyantoro

“Sarana digital jika dikelola secara konsisten bisa menjadi jalan tengah ketika biaya produksi dan proses kerja distribusi sastra membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Ini yang mesti kita lihat sebagai peluang dalam mengembangkan sastra Jawa modern,” kata Dhoni saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (22/08/2018).

Menurut Dhoni, para pegiat sastra Jawa perlu terus-menerus mengoptimalkan pemanfaatan media konvensional dan digital untuk “memanggungkan” karya-karya mereka. Kedua platform ini mesti saling mendukung dan memperkuat.

Selain itu, studi lintas disiplin ilmu juga semakin dibutuhkan terutama ketika sastra juga beralih wahana ke bentuk lain, seperti pembacaan, musikalisasi, atau film. “Dalam rangka meregenerasi pengarang dan pembaca sastra, serta memanfaatkan sastra untuk pembelajaran berbahasa Jawa, maka sastra harus didorong menjadi milik siapa pun. Hampir tidak ada cara lain, terlebih lagi di tengah desakan bahasa dan budaya global yang kian masif,” kata dia.

Lomba tutur bahasa
Selain memanfaatkan platform digital, pelestarian bahasa daerah juga bisa dilakukan dengan mencari terobosan-terobosan baru. Kepala Kewang Negeri Haruku, Pulau Haruku, Maluku, Eliza Marthen Kissya, setahun terakhir menggelar lomba tutur bahasa daerah Haruku di daerahnya. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan bahasa Haruku yang semakin jarang digunakan lagi oleh generasi muda di Pulau Haruku.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN–Kepala Kewang Negeri Haruku, Pulau Haruku, Maluku, Eliza Marthen Kissya

“Penggunaan bahasa Haruku mulai kami hidupkan sejak setahun terakhir. Sampai sekarang, anak-anak kecil memang belum mahir karena mereka sudah lama tidak pernah diajari lagi berbahasa Haruku. Ke depan, selain menggelar lomba bertutur bahasa Haruku, kami juga akan memasukkan pelajaran bahasa Haruku ke dalam muatan lokal pendidikan anak-anak,” papar Eliza.

Pada Februari 2018, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Sunendar menyebut ada sembilan bahasa daerah di Maluku dan Maluku Utara yang sudah punah. Sembilan bahasa daerah itu meliputi bahasa Kajeli/Kayeli, bahasa Piru, bahasa Moksela, bahasa Palumata, bahasa Ternateno, bahasa Hukumina, bahasa Hoti, bahasa Serua, dan bahasa Nila. Selain sembilan bahasa daerah tersebut, ada pula dua bahasa Papua yang punah, yaitu bahasa Tandia dan Mawes.

Setelah Kantor Bahasa Maluku melakukan pendataan ulang, dari sembilan bahasa tersebut, ternyata masih ada raja dan masyarakat di Masohi, Maluku Tengah yang menggunakan salah satu bahasa, yaitu bahasa Serua. “Yang masih bisa berbahasa Serua rata-rata berusia di atas 50 tahun. Mereka adalah eks warga Pulau Serua di perbatasan Kabupaten Maluku Tengah dan Maluku Barat Daya yang diungsikan pemerintah sekitar periode 1978-1979 karena ancaman letusan Gunung Lawrakawra,” kata Kepala Kantor Bahasa Maluku, Asrif.

Untuk menyelamatkan bahasa Serua, mulai tahun 2019 Kantor Bahasa Maluku akan melakukan revitalisasi bahasa daerah Serua di Negeri Waru, Masohi. Langkah ini diperkuat dengan adanya komitmen kuat raja dan masyarakat setempat untuk mengembalikan bahasa daerah tersebut.

Revitalisasi bahasa daerah Serua dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu dengan melibatkan gereja, pendidikan anak usia dini, dinas pendidikan setempat, generasi muda, masyarakat setempat dan lembaga adatnya.–ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 23 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: