Home / Berita / Dengan Satelit Mencari MH370

Dengan Satelit Mencari MH370

SEJAK pesawat MH370 dinyatakan hilang, berbagai upaya pencarian dilakukan, di antaranya menggunakan satelit observasi. Wahana pengindraan jauh itu menemukan ratusan obyek di Samudra Hindia yang diduga serpihan pesawat.

Pesawat milik Malaysia Airlines ini dinyatakan hilang setelah putus komunikasi dan tak terpantau radar tanggal 8 Maret 2014. Sebelum menggunakan satelit observasi, pencarian jejak pesawat Boeing 777-200 itu menggunakan satelit komunikasi Inmarsat milik Inggris.

Analisis sinyal ”ping” yang dipancarkan sistem komunikasi pesawat Boeing itu menunjukkan arah MH370 ke Samudra Hindia dan berakhir di barat daya Perth.

Selanjutnya, pencarian menggunakan satelit, lalu pesawat dan kapal. Sejak Sabtu (22/3), setidaknya tiga satelit menemukan obyek mengambang di Samudra Hindia. Sebagian setelah diambil ternyata sampah. Sebagian lagi masih dicari.

Adapun satelit observasi bumi milik China, yaitu Gaofen-1, menangkap obyek pada 18 Maret sekitar pukul 12.00 waktu Beijing. Laporan State Administration of Science, Technology, and Industry for National Defense (SASTIND) menyebutkan, citra satelit beresolusi tinggi itu menunjuk obyek berukuran 22 meter x 13 meter di selatan Samudra Hindia. Posisi obyek pada 44,57 derajat Lintang Selatan dan 90,13 derajat Bujur Timur.

Lokasi obyek itu sepanjang koridor selatan tempat hilangnya pesawat milik Malaysia Airlines, berjarak 3.170 kilometer (km) barat daya Perth. Posisi penemuan itu 120 km barat daya dari lokasi penemuan obyek oleh Australia sebelumnya.

Sementara itu, citra yang dihasilkan satelit TerraSAR-X milik Perancis pada 23 Maret mengindikasikan 122 obyek terapung di selatan Samudra Hindia pada kawasan seluas 285 km persegi. Ukuran obyek itu konsisten dengan debris atau pecahan pesawat.

Satelit radar, seperti TerraSAR-X, digunakan karena mampu mengidentifikasi lapisan hidrokarbon, seperti tumpahan minyak atau obyek logam, mengapung di laut. Data citra dari TerraSAR-X itu juga diberikan via Badan Ruang Angkasa Jerman (DLR) selaku mitra Perancis dalam pengembangan satelit.

Selain satelit TerraSAR-X yang menggunakan sistem radar (synthetic aperture radar/SAR) itu, Perancis juga menggunakan empat sistem satelit beresolusi tinggi lain untuk mengidentifikasi MH370, antara lain SPOT 5 dan 6.

Resolusi Pléiades 1A dan 1B 50 cm, yaitu obyek terkecil yang mampu dilihat sensor di satelit ini. Adapun SPOT 5 and 6 yang memiliki sensor optik mampu mengidentifikasi obyek kecil pada permukaan luas.

Identifikasi puing pesawat MH370 juga dilakukan Thailand, yang dimulai 24 Maret 2014. Satelit milik Geo Informatics and Space Technology Development Agency (GISTDA) Thailand yang disebut Thaichote (Thailand Earth Observation Satellite) mengidentifikasi 300 obyek mengapung. Lokasinya 200 km dari yang terpantau satelit Perancis sebelumnya.

Obyek-obyek dalam citra satelit itu memiliki panjang 2-15 meter dan tersebar dalam area 2700 km persegi di barat daya Perth. ”Belum dapat dipastikan obyek itu bagian dari MH370,” kata Direktur Eksekutif Badan Geo-Informatika dan Pengembangan Teknologi Angkasa Thailand Anond Snidvongs, seperti dikutip AFP, Kamis (27/3).

Muhammad Evri, pakar teknologi pengindraan jauh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, menjelaskan, satelit yang digunakan tiga negara itu berorbit polar/mengitari Bumi secara vertikal dari utara ke selatan atau sebaliknya.

Untuk memantau obyek di laut, jenis satelit yang dapat memberi hasil relatif baik adalah satelit SAR. Kelebihannya, mampu memantau obyek di wilayah tertutup awan. Selain itu, mampu mengidentifikasi obyek di permukaan laut dengan arus dan gelombang dinamis. Pengindraan jauh dengan radar dilakukan dengan memancarkan pulsa gelombang radio ke permukaan Bumi yang dilewati. Pantulan gelombang oleh obyek yang terkena ditangkap sistem penerima di satelit. Analisis perbedaan frekuensi itu mengarah pada obyek yang dicari.

Pencarian pesawat di laut nantinya tak butuh waktu beberapa minggu. Kini, Planet Labs mengaktifkan satu skuadron satelit kecil, Doves.

Dua satelit pencitra Bumi itu diluncurkan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), 11 Februari 2014. Total akan diluncurkan 100 satelit dalam konstelasi Doves dan menjadi sistem yang terbanyak di dunia.

Sistem satelit kompak yang disebut Doves itu akan mengorbit Bumi untuk mencitrakan hampir setiap inci Bumi. Satelit itu terutama akan meliput daerah tak tercakup satelit yang beroperasi saat ini, seperti Samudra Hindia.

Sistem satelit itu akan mengambil gambar secara tumpang tindih sehingga memberi wajah Bumi lengkap dan secara real time. Satelit berbahan aluminium ini di orbit rendah untuk mengukur perubahan lingkungan di planet ini.

Karena satelit ini beresolusi gambar 3-5 meter, obyek pesawat terlihat jelas. ”Di masa depan, tak perlu menunggu dua minggu untuk menemukan pesawat hilang,” ujar Will Marshall, pendiri Planet Labs.

Oleh: YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 1 April 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: