Home / Profil Ilmuwan / Deden Rukmana, Dari Diaspora untuk Indonesia

Deden Rukmana, Dari Diaspora untuk Indonesia

Menempuh studi di Amerika Serikat menjadi mimpi Deden Rukmana (48) yang terwujud. Ia melangkah lebih jauh dengan menjadi dosen tetap di perguruan tinggi di AS hingga mencapai gelar akademik profesor. Ia kini berusaha mendorong ilmuwan asal Indonesia di luar negeri untuk berkontribusi bagi perkembangan iptek di Tanah Air.

Deden yang kelahiran Garut, Jawa Barat, dan alumnus Institut Teknologi Bandung ini memulai karier di AS sebagai asisten profesor di Savannah State University. Ia dipercaya menjadi Koordinator Program Urban Affairs Studies and Planning Department of Political Science and Public sejak Agustus 2007 hingga Agustus 2018. Dia pun mendapat gelar profesor di universitas tersebut setelah 12 tahun berkarier.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Prof Deden Rukmana, Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional

Pada 2018, ia melihat peluang karier yang lebih menantang di Alabama A&M University. Ia pun pindah ke sana dan dipercaya menjadi Ketua Department of Community and Regional Planning College of Agricultural, Life and Natural Sciences.

”Saya bersyukur bisa terus meningkatkan karier dengan menunjukkan prestasi. Saya yakin, orang Indonesia mampu menjadi ilmuwan internasional dan mampu mencapai posisi yang lebih bergengsi di perguruan tinggi ternama di dunia,” ujar Deden yang ditemui di Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Ia datang ke Indonesia dalam rangka kolaborasi riset bersama Universitas Indonesia yang didukung USAID Shera untuk program Smart City. Deden yang menjabat Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) juga hadir dalam diskusi buku berjudul Kontribusi Ilmuwan Diaspora dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia bersama media. Acara itu difasilitasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

DOKUMENTASI PRIBADI–Prof Deden Rukmana, Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia yang juga dosen di Amerika Serikat, berfoto bersama mahasiswa yang berprestasi.

Kontribusi diaspora
Menjadi ilmuwan diaspora di AS selama belasan tahun tidak lantas membuat Deden melupakan Indonesia. Dia selalu teringat untuk memberikan sumbangan kepada Indonesia. Apalagi, ia melihat banyak ilmuwan diaspora China, India, Korea Selatan, dan kini Vietnam yang sukses di AS dan negara lain menyediakan diri mereka sebagai penghubung dalam kemajuan iptek di negeri masing-masing.

”Ilmuwan diaspora dari China, India, dan Korea Selatan sudah banyak dan terbukti punya kontribusi penting juga bagi kemajuan di negaranya. Nah, Indonesia ini harus sampai pada critical mass, memperbanyak ilmuwan diasporanya yang bisa sampai posisi puncak sebagai wakil rektor atau rektor hingga menjadi pimpinan pusat studi atau laboratorium besar yang punya grant banyak. Ini harus dimulai,” tuturnya.

Sebenarnya, ruang kontribusi ilmuwan diaspora Indonesia yang tersebar di luar negeri mulai diwadahi dengan pembentukan I-4 yang diresmikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia di Eropa pada 2009. Lalu, sekitar 50 ilmuwan diaspora Indonesia dari sejumlah negara diundang pemerintah ke Tanah Air dan berjejaring dengan ilmuwan dalam negeri lewat acara Indonesia Summit 2010.

Namun, kiprah I-4 untuk membangun kolaborasi dan jejaring ilmuwan diaspora dengan ilmuwan Indonesia semakin senyap. Justru kiprah ilmuwan diaspora Indonesia ternoda dengan mencuatnya pemberitaan dua ilmuwan diaspora yang dinilai hebat, tetapi ternyata berbohong.

Sebanyak 47 ilmuwan diaspora dari berbagai negara membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan institusi di Indonesia. Ini upaya mereka untuk ikut berkontribusi dalam mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan sumber daya manusia.–ARSIP KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI–13-08-2018

ARSIP KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI–Sebanyak 47 ilmuwan diaspora dari sejumlah negara hadir pada acara Simposium Cendekia Kelas Dunia 2018 yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bersama Akademi Ilmuwan Muda Indonesia dan Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia, 13 Agustus 2018, di Jakarta. Mereka membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan institusi di Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan sumber daya manusia.

Padahal, program World Class Visiting Professor (2016) dan Simposium Cendekia Kelas Dunia 2017 yang digagas Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristek dan Dikti mampu mengumpulkan kembali puluhan ilmuwan diaspora di Tanah Air. Program itu bahkan berhasil menghubungkan ilmuwan diaspora dan mitra perguruan tinggi di dalam negeri sehingga ada kolaborasi riset, publikasi, peluang beasiswa, dan kerja sama lain.

Deden yang ikut aktif sejak I-4 didirikan merasa memperoleh momentum untuk mewujudkan kolaborasi ilmuwan diaspora dengan ilmuwan dalam negeri guna memajukan pengembangan iptek, terutama di perguruan tinggi. ”Ketika ada pemilihan ketua umum I-4 tahun 2018, saya mendaftar karena saya tahu banyak ilmuwan diaspora yang hebat dan berintegritas. Saya merasa perlu untuk me-rebranding I-4 karena lewat wadah ini ada platform untuk berbuat bagi Indonesia,” ucapnya

Terpilih menjadi Ketua Umum I-4 periode 2018-2020, Deden menunjukkan komitmennya untuk mengajak ilmuwan diaspora mau berkontribusi bagi Indonesia. Dengan pendekatan personal, dia menghubungi sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia di sejumlah negara yang dinilainya berkualifikasi tinggi dan berintegritas untuk terlibat aktif sebagai managing director kawasan di AS, Asia Timur, Australia, Eropa, Inggris Raya, Kanada, Malaysia, Singapura, Timur Tengah, dan Afrika.

Kiprah I-4 di bawah kepemimpinan Deden semakin terlihat. Ilmuwan diaspora mulai menghidupkan kolaborasi, baik dengan Kedutaan Besar RI, perguruan tinggi di negara diaspora berada, maupun institusi riset lainnya. ”Mengurusi I-4 itu bisa dibilang menjadi pekerjaan tambahan bagi saya. Bagi saya, kalau sudah memulai, ya, harus terus jalan,” ujar Deden.

Penguatan I-4 merupakan awal dari perjalanan panjang kemajuan bangsa. ”Kalau tidak dimulai, ya, tidak pernah jadi. Kalau Indonesia mau masuk ke core dari masyarakat ilmiah atau negara yang di tengah, kita mesti belajar dari negara yang sudah di core itu. Kita harus belajar dan cari koneksi. Nah, di sini diaspora bisa berperan,” tuturnya.

Deden ingin meletakkan fondasi bagi I-4 agar dapat berkelanjutan. Dia meyakini, ilmuwan diaspora dapat berkontribusi untuk membangun jaringan di pusat iptek dunia yang menjadi tempat mereka berkiprah justru untuk kepentingan bangsa.

Penguatan fondasi diawali dengan penguatan sumber daya manusia di perguruan tinggi dalam negeri dengan dukungan potensi yang dimiliki ilmuwan diaspora, baik dari sisi jaringan, penelitian, publikasi, maupun peluang karier dan beasiswa, serta masih banyak lagi. Bahkan, terbuka peluang membangun kapasitas sumber daya manusia dan sumber daya lain tanpa mengandalkan APBN.

Deden mendorong berbagai program kolaborasi yang digerakkan I-4. Memanfaatkan teknologi, digelar I-4 Talks yang dibantu PPI setiap Sabtu malam hingga 12 episode yang dapat diakses di luar negeri dan Indonesia. ”Saya hubungi ilmuwan diaspora secara personal agar mau tampil sebagai pembicara. Intinya untuk bicara kontribusi diaspora. Saya senang kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Tiap sesi menghadirkan tiga ilmuwan diaspora,” kata Deden.

Mulai awal April 2019, kiprah I-4 dilanjutkan dengan menggelar I-4 Lecture. Kuliah perdana secara daring menghadirkan ilmuwan diaspora Teruna J Siahaan yang merupakan Aya & Takeru Higuchi Distinguished Professor di Department of Pharmaceutical Chemistry The University of Kansas, AS, yang diikuti mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi di Bengkulu, Lampung, dan Jambi.

”Dari ide ini, akan dibuat roadmap. Kami mau buat series tiap bulan dan tiap bulan akan rekrut ilmuwan diaspora untuk beri kuliah online (daring) sehingga ada interaksi,” ujar Deden.

Ia berharap para ilmuwan diaspora bisa menjadi mentor, penasihat, dan penghubung bagi anak-anak bangsa untuk melangkah maju. Kolaborasi dan sinergi ilmuwan diaspora dengan ilmuwan dalam negeri harus diyakini berdampak pada kemajuan bangsa.

Deden Rukmana

Lahir: Garut, 14 September 1970
Istri: Rita Zahara, ST, MT
Anak: Alivia Chantikania Rukmana (18) dan Hilmy Satria Rukmana (16)

Pendidikan:
1. PhD in Urban and Regional Planning Florida State University (Januari 2002-April 2006)
2. Master of Planning and Development Studies University of Southern California (Mei 2001)
3. MS in Development Studies Bandung Institute of Technology, Indonesia, (Januari 1997)
4. BS in Urban and Regional Planning Bandung Institute of Technology, Indonesia (April 1994)

Jabatan dan pekerjaan:
1. Profesor dan Chairperson Department of Community and Regional Planning
College of Agricultural, Life and Natural Sciences, Alabama A&M University
(Agustus 2018-sekarang)
2. Profesor (Agustus 2017-Agustus 2018), Associate Professor (Agustus 2012-Juli 2017), dan Assistant Professor (Agustus 2006-Juli 2012) Urban Studies and Planning Program, Department of Political Science and Public Affairs, Savannah State University, Amerika Serikat
3. Koordinator Urban Studies and Planning Program Savannah State University (Augustus 2007-Augustus 2018)
4. Ketua Umum I-4 (2018-2020)

Penghargaan, antara lain:
1. Service Award, Georgia Planning Association, Atlanta, Amerika Serikat (2018)
2. Simposium Cendekia Kelas Dunia (World Class Scholar Symposium), Indonesian Ministry of Research and Higher Education (2018)
3. President’s Faculty Award for Innovation and Excellence, Savannah State University (2018)
4. Certificate of Outstanding Contribution in Reviewing, Cities (2017)
5. Tampil di buku 25 Kisah Ilmuwan Indonesia yang Mendunia (The Story of 25 Respected Indonesian Scholars) (2017)
6. Visiting World Class Professor, Indonesian Ministry of Research and Higher Education (2016)
7. The World’s Best City Blogger, The Guardian Cities, http://www.theguardian.com/cities/interactive/2014/jan/27/best-city-blogs-interactive, Januari 2014
8. Top Ten Indonesia Blogger 2008, Blogger Indonesia, Desember 2008

ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 28 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: