Home / Profil Ilmuwan / Daniel Dhakidae Mewariskan Kearifan Seorang Intelektual

Daniel Dhakidae Mewariskan Kearifan Seorang Intelektual

Kepergian Daniel Dhakidae turut mewariskan cerminan seorang intelektual yang arif dan berintegritas tinggi. Sosoknya akan terus dikenang oleh kolega dan bangsa.

Sosok Daniel Dhakidae (75) yang telah berpulang kini terus dikenang oleh para koleganya. Kepergian Daniel bagi mereka turut mewariskan cerminan seorang intelektual yang arif dan berintegritas tinggi.

Daniel adalah seorang cendekiawan yang banyak berkiprah di bidang sosial dan politik. Kiprahnya terlihat saat aktif dalam redaksi majalah Prisma, Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), serta divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas. Dia juga menulis sejumlah buku yang berkontribusi bagi jurnalisme dan ilmu politik (Kompas, 7/4/2021).

Kabar Daniel berpulang pada Selasa (6/4/2021) pagi di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta, mengagetkan sejumlah kerabat dekat. Sebagian kolega itu kerap mengingat kembali kenangan saat masih bersama Daniel pada berbagai kesempatan.

Hamid Basyaib, aktivis dan mantan wartawan, mengenang Daniel sebagai orang yang berintegritas tinggi. Satu sikap yang sangat menonjol itu adalah kejujuran.

“Dia selalu kritis terhadap siapapun, termasuk rekan sesamanya. Kalau ada rekannya yang memproduksi karya (ilmiah) secara jelek atau curang, itu dia kecam keras juga. Di situ, saya sangat respek beliau,” tuturnya.

Hal itu disampaikan Hamid dalam dialog daring bertajuk “Cendekiawan dan Kekuasaan: Mengenang Kepergian Daniel Dhakidae” yang diselenggarakan Historia.id, Jumat (9/4/2021) malam. Dialog itu juga dihadiri pendiri Project Multatuli Evi Mariani, ahli kajian Asia Vedi R Hadiz, dan Pemimpin Redaksi Historia.id Bonnie Triyana.

Hamid bercerita, cerminan sikap jujur dan apa adanya dari Daniel sempat beberapa kali dia dengar. Cerita yang dia tahu adalah saat Daniel mengeritik keras Arief Budiman, aktivis sosial era orde baru yang juga kakak dari Soe Hok Gie, yakni tentang disertasi Arief saat berkuliah di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Hamid menyebutkan, Daniel mengungkap dengan terus terang bahwa integritas akademis disertasi Arief tentang Chile itu rendah sekali. “Daniel secara gamblang mengungkap itu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Arief. Dia tampilkan sisi-sisi kekurangannya secara lengkap, dia kritik keras dan sangat nyelekit,” tuturnya.

Kritik Daniel melayang ke berbagai pihak, termasuk pada institusi yang turut membesarkannya. Hamid mengatakan, Daniel pun pernah mengkritik Kompas dalam disertasinya. Pendapat ini pun diamini oleh rekan Daniel di Ombudsman Kompas, Ignatius Haryanto. Secara terpisah, Ignatius menilai Daniel seorang yang lugas ketika mengemukakan pendapat.

“Jelek dia katakan jelek, bagus dia katakan bagus, misalnya terhadap produk Kompas atau apapun yang dia lihat,” jelasnya, Rabu (7/4/2021).

Perhatian
Hamid melihat Daniel juga sebagai sosok yang perhatian. Pernah dalam suatu kesempatan, Hamid dan Daniel diminta menjadi dewan penyantun bersama di Yayasan Pantau. Setelah diusut, dilibatkannya mereka berdua ternyata berkaitan dengan sebuah konflik internal di dalam institusi itu.

Hamid mendengar Daniel saat itu ingin menarik diri. Tetapi, pada praktiknya, Daniel tetap membantu dan memberi sejumlah nasihat buat mereka.

“Saya baru tahu belakangan dari obituari yang ditulis Linda Christanty, bahwa Daniel tetap mengikuti, bantu mengurus dan kasih masukan (Yayasan Pantau). Jadi, kesimpulan saya, Daniel jauh lebih sabar dan tangguh dari saya,” ungkapnya.

Vedi R Hadiz, Profesor Kajian Asia University of Melbourne, yang juga kolega Daniel, memandang perhatian Daniel sangat besar pada ilmu sosial yang sarat dengan kekuasaan. “Kritik-kritik dia, sebetulnya dilontarkan kepada kalangan intelektual yang juga teman-temannya,” ujar Vedi.

Evi Mariani, wartawan senior dan mantan managing editor The Jakarta Post, mengenal Daniel sebagai orang yang bisa menempatkan hal-hal dengan sesuai. “Cendekiawan, yang sebagian juga adalah teman-temannya (Daniel), dia telanjangi (kritik) semua dan enggak ada yang marah,” kenangnya.

Bagi Evi, sumbangan terbesar Daniel adalah bagaimana dia membedah konsep kekuasaan. “Konsep kekuasaan itu dia bedah sedemikian rupa, tidak jelek dan tidak baik, tetapi dengan semua konsekuensinya,” jelasnya lagi.

Daniel yang lahir di Toto-Wolowae, Ngada, memulai karir intelektualnya di Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tak lama setelah lulus tahun 1975, ia menjadi redaktur majalah Prisma pada 1976.

Daniel menjadi Ketua Dewan Redaksi Prisma (1979-1984) dan hingga kini masih tercatat sebagai Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi. Ia juga pernah menjadi Wakil Direktur LP3ES pada kurun waktu 1982-1984.

Dia kemudian melanjutkan studi di bidang Ilmu Politik di Cornell University, Amerika Serikat, dan meraih gelar master of art pada 1987. Kuliahnya berlanjut hingga meraih gelar PhD di bidang pemerintahan dari Department of Government di kampus yang sama pada 1991.

Disertasi Daniel bertajuk ”The State, the Rise of Capital and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry” mendapat penghargaan the Lauriston Sharp Prize dari Southeast Asian Program Cornell University. Disertasinya dianggap memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan ilmu.

Kemampuan Daniel dalam ilmu pengetahuan dan dunia jurnalistik pun dilirik pendiri Kompas, Jakob Oetama. Daniel menjadi Kepala Litbang Kompas selama 10 tahun sejak 1995 hingga 2005. Usai pensiun, Daniel menjadi Kepala Ombudsman Kompas.

General Manager Litbang Kompas Harianto Santoso menuturkan, di era Daniel, Litbang Kompas berkembang dan memiliki tradisi polling seperti yang dilakukan saat bekerja di LP3ES. Sejak awal ditunjuk memimpin Litbang Kompas, Daniel telah dianggap mampu menjawab cita-cita agar Kompas bisa mendudukkan perkara yang terjadi di masyarakat.

Kini, Daniel telah berpulang untuk selamanya. Selamat jalan, Daniel.

Oleh ADITYA DIVERANTA

Editor: MADINA NUSRAT

Sumber: Kompas, 10 April 2021

Share
%d blogger menyukai ini: