Home / Sosok / Bimo Joga Sasongko Memotivasi untuk Beasiswa Pendidikan Luar Negeri

Bimo Joga Sasongko Memotivasi untuk Beasiswa Pendidikan Luar Negeri

Bimo Joga Sasongko ingin Indonesia memiliki lebih banyak sumber daya manusia yang unggul. Dia memberi jalan kepada banyak anak muda untuk lebih mudah beradaptasi di negara lain saat menempuh pendidikan tinggi.

ARSIP PRIBADI–Bimo Sasongko memotivasi anak muda belajar ke luar negeri, salah satunya dengan memberikan beasiswa belajar bahasa asing.

Bimo Joga Sasongko (48) ingin Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul. Salah satu cara yang dilakukan adalah menggratiskan biaya belajar bahasa asing kepada anak muda yang akan kuliah ke luar negeri.

Sosok BJ Habibie yang dihargai kepakarannya di dunia internasional, mendorong Bimo ingin menciptakan lebih banyak Habibie di Indonesia. Tahun 2003, Bimo mendirikan lembaga konsultasi pendidikan internasional Euro Management Indonesia di Jakarta dengan modal sendiri. Lembaga ini memberikan konsultasi dan pendampingan pada lulusan SMA maupun S1 yang mau kuliah di 15 negara maju. Program ini berbayar dan mendampingi secara total persiapan anak, mendapatkan kampus yang sesuai bakat minat, hingga mampu beradaptasi di negara yang dituju.

Bimo ingin melanjutkan tradisi anak Indonesia berkuliah di negara maju. Dia mencontohkan mahasiswa dari Vietnam dan Malaysia lebih banyak dibandingkan mahasiswa Indonesia yang belajar ke luar negeri. Bahkan, China mengirimkan anak-anak muda terbaik ke perguruan tinggi di negara maju hingga mencapai sekitar satu juta orang. Dia yakin Indonesia harus melakukan langkah serupa, mengirim minimal 100.000 anak muda kuliah di negara maju. Sekarang ini, baru berkisar 30.000 orang.

Tahun 2016, Bimo mengagas beasiswa kursus bahasa asing gratis yang diajar pengajar profesional dari Euro Management. Pemberian beasiswa kursus bahasa asing gratis selama satu hingga dua semester menjadi bagian tanggung jawab sosial perusahaan. Sebab, Bimo prihatin melihat masih minimnya jumlah anak muda Indonesia yang kuliah di negara maju yang merupakan pusat peradaban dunia kini.

Bimo yang merupakan pendiri dan Presiden Direktur Euro Management Indonesia yang dihubungi di Jakarta, Senin (13/07/2020), bersemangat menjelaskan pentingnya Indonesia mengirimkan para pemuda terbaik ke luar negeri.

Beasiswa kursus bahasa asing gratis di Euro Management Indonesia sudah menjangkau sekitar 15.000 lulusan SMA, guru, tentara, PNS, dan masyarakat umum. “Saya mendirikan Euro Management Indonesia, tidak untuk bisnis murni. Seteleh mempunyai uang, saya ingin memotivasi anak Indonesia keluar negeri. Nah, di tahun 2016 itulah saya mulai memberi kursus bahasa asing gratis. Ada tujuh pilihan bahasa asing yakni Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Jepang, China, dan Korea,” jelas Bimo.

Program kursus bahasa asing untuk mewujdukan sejuta Habibie di jantung dunia semakin digemari. Namun karena Euro Management Indonesia hanya ada di Jakarta, peserta terbatas dari Jabodetabek. Pandemi Covid-19 membawa hikmah. Bimo mulai melirik kursus daring sehingga mereka yang di daerah bisa ikut seleksi.

“Kursus bahasa asing ini kan gratis ya. Jadi yang diutamakan yang punya motivasi kuat, yang aktif dan serius. Kalau mereka bagus, kami dampingi untuk mencari beasiswa kuliah di luar negeri,” ujar Bimo.

Wawasan global
Program beasiswa Habibie di kala itu jadi impian anak-anak terbaik Indonesia. Bimo yang lulusan SMAN 3 Bandung sebenarnya sudah diterima di Institut Teknologi Bandung. Namun rela melepas PTN bergengsi di Indonesia karena ingin meluaskan wawasan global dengan meraih pendidikan luar negeri di negara maju.

Sebelumnya, Bimo merupakan bagian dari sekitar 4.000 lulusan SMA di kurun waktu 1980-an hingga 2000-an yang mendapat beasiswa program Habibie untuk kuliah di sejumlah negara maju dengan beasiswa pemerintah dan ikatan dinas. Dia berkuliah S1 di bidang teknik aerospace di Amerika Serikat dan lulus cumlaude sehingga bisa lanjut mendapat beasiswa S2.

Krisis moneter membuat program Habibie dalam sejumlah terknologi kedirgantaaran terhenti. Orang-orang pintar yang kuliah di luar negeri dengan beasiswa Habibie tersebar di berbagai instansi seperti pemerintahan, perusahaan Dirgantara Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), hingga ada yang tetap di luar negeri. Bimo mengabdi di BPPT hingga di kurun tahun 1998-2003 dan 2003-2010, yang di antaranya diselingi kuliah lagi di Jerman dengan biaya sendiri.

Saya mendirikan Euro Management Indonesia, tidak untuk bisnis murni. Seteleh mempunyai uang, saya ingin memotivasi anak Indonesia keluar negeri. Nah, di tahun 2016 itulah saya mulai memberi kursus bahasa asing gratis. Ada tujuh pilihan bahasa asing yakni Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Jepang, China, dan Korea

“Di masa lalu saja, Indonesia yang masih masuk negara miskin, yang lulusan SD nya ketika itu baru 40 persen, sudah berani mengirmkan banyak anak muda terbaik ke perguruan tinggi di negara maju untuk belajar sains dan teknologi. Saya bilang beasiswa Habibie ini fenomenal dan saya sebagai bagian anak intelektual Habibie ingin terus menghidupkan semangat ini,” ujar Bimo.

Bimo mengatakan, dorongan bagi anak Indonesia kuliah di luar negeri bukan berarti mengecilkan kaulitas pendidikan dalam negeri. Negara maju seperti China dan Korea Selatan tetap mengirimkan anak muda ke luar negeri untuk menguasai ilmu sains dan teknologi. Apalagi, Indonesia yang masih butuh ilmu dari luar negeri, mengadopsi dan membawa pulang ke Indonesia untuk memajukan bangsa.

“Kuliah di luar negeri tidak sekadar belajar ilmu. Tapi yang kita dapatkan adalah cara berpikir, mengenal budaya, kerja sama tim. Bangsa Indonesia membutuhkan orang yang enggak hanya pintar tapi punya wawasan global yang bisa berinteraksi, yang tdak sempit pikiran,” ujar Bimo.

Keyakinan itu yang membuat Bimo bergerak, dia menggaungkan sejuta Habibie untuk Indonesia, sejuta Habibie di jantung dunia. “Pak Habibie itu ikon Indonesia. Banyak yang mengakui bahwa dia punya kehebatan luar biasa. Orang kecil mungil tapi dihormati negara lain,” kata Bimo.

Satu Habibie saja, lanjut Bimo, bisa membuat bangsa ini dihormati dunia saat itu. Bimo ingin mencetak sejuta Habibie agar sebanyak mungkin orang pintar Indonesia menikmati pendidikan luar negeri. Dia mencontohkan, Korea Selatan hanya mencetak 3.000 orang berwawasan global untuk membuat Korea Selatan maju dan bisa mengalahkan Jepang. Korea Selatan kini biasa menguasai elektronik, mobil, dan banyak lagi.

“Beasiswa kursus bahasa asing gratis itu sebagai pemancing minat dan sebagai jembatan awal. Kalau sudah bagus bahasa asing bisa terbuka jalan untuk mendapatkan beasiswa kuliah di negara lain. Jadi saya buat sistem beasiswa untuk dapat beasiswa,” kata Bimo.

Sebagai bakti menerima beasiswa dari pemerintah. Bimo dan alumni bersepakat untuk membentuk Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Di tahun 2013, Bimo menjumpai Habibie. Dia ingat pesan Habibie soal pendirian IABIE agar anak-anak terbaik bangsa Indonesia ini berbuat terbaik untuk bangsa. Peserta dididik dan dikirim ke luar negeri saat negara miskin, namun ada keistimewaan untuk dibiayai kuliah di negara maju dunia dan top dunia.

“Kami diingatkan tidak boleh sombong, takabur, dan harus inklusif. Tidak boleh ekslusif. Itu pesan Pak Habibie. Jadi kami inklusif, netral, tidak berpolitik. Kami semata-mata membantu pemerintah yang sah di Tanah Air ini degan pemikiran-pemikiran dan pengalaman. Kami terdiri dari orang berbagai aliran, tapi bersatu di bawah IABIE, di bawah kenetralitasan. Memang semata-mata mendukung pemerintah sampai ide-ide baik kami didengar dan diadopsi. Tidak usah lagi kebingungan mencari ahli ornag asing atau bule, karena Indonesia juga punya yang sudah pengalaman lebih dari 10 tahun di luar negeri,” ujar Bimo.

Menurut Bimo, beasiswa LPDP masih perlu dibenahi dan dioptimalkan. Program beasiswa model Habibie, ujar Bimo, layak dilanjutkan. Untuk itu, AIBIE pun mendorong supaya pengiriman lulusan SMA kuliah ke luar negeri dengan beasiswa pemerintah pusat dan daerah diadakan lagi, plus ikatan dinas untuk kepentingan bangsa.

Bimo mengatakan, mengirimkan lulusan SMA dibanding setelah lulus S1 berbeda. Negara Malaysia dan Vietnam memperbanyak lulusan SMA-nya kuliah di luar negeri.”Anak muda tamat SMA masih muda, belum menikah, mandiri, kemampuan bahasa masih lebih mduah. Tidak ada beban. Energinya untuk mencari ilmu dan wawasan. Kalau S2-nya sudah menikah dan punya anak, seringkali jadi terbatas, Makanya waktu tepat seperti negara lain ya dari SMA,” kata Bimo.

Bimo mengatakan, orang-orang pintar yang dimiliki bangsa kalau dicecer-cecertidak akan membuat sesuatu. “Indonesia banyak orang pintar, tapi tercecer. Coba dikumpulkan semua dan dikelola dengan baik, wow powerful. Itu yang dilakukan negara maju,” ujar Bimo.

Bimo bertekad menggaungkan pemikiran Habibie bahwa Indonesia harus mempunyai kepercayaan diri sebaga bangsa. Indonesia mampu menguasai sains dan teknologi karena kita punya SDM unggul. Orang Indonesia inklusif dan mampu beradaptasi terhadap gejolak dunia, perubahan dunia. Karena itu, pengiriman anak muda ke negara maju untuk menguasai sains dan teknologi harus terus diperjuangkan.

Bimo Sasongko

Lahir : Bandung, 4 Februari 1972

Pendidikan :
S1 Aerospace Engineering North Carolina State University, Amerika Serikat (1999)
Master of Science Engineering in Industrial and Management System Engineering di Arizona State University (1996)
Master of Business Administration di Fachhochschule Pforzheim, Jerman (2001)

Pengalaman Kerja:
Pendiri dan Presiden Direktur Euro management Indonesia (2003-sekarang)
Business Development Manager BPPT (2003-2010)

Organisasi :
Ketua Umum Ikatan Alumni Program Beasiswa Habibie (IABIE) darii 2016-sekarang
Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dari 2017-sekarang

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 15 Juli 2020

Share
%d blogger menyukai ini: