Home / Berita / arkeologi-antropologi / Belajar dari Perjalanan Panjang 1,5 Juta Tahun Leluhur Indonesia

Belajar dari Perjalanan Panjang 1,5 Juta Tahun Leluhur Indonesia

Dalam buku terbarunya, arkeolog senior Truman Simanjuntak mengemukakan pandangannya atas kronik perjalanan manusia dan peradaban Indonesia melalui empat kata kunci, yaitu migrasi, interaksi, adaptasi, dan evolusi.

UGM PRESS–Buku Manusia-Manusia dan Peradaban Indonesia karya Prof Truman Simanjuntak

Sejarah eksistensi manusia dan peradaban Indonesia sangatlah kompleks. Untuk menjelaskannya tidak hanya dibutuhkan pemahaman teoretis yang mendalam, tetapi juga pengetahuan luas atas berbagai bukti ilmiah yang melandasinya.

Dalam buku berjudul Manusia-Manusia dan Peradaban Indonesia terbitan UGM Press (2020), arkeolog senior Truman Simanjuntak mengemukakan pandangannya atas kronik perjalanan manusia dan peradaban Indonesia melalui empat kata kunci, yaitu migrasi, interaksi, adaptasi, dan evolusi. ”Empat hal tersebut senantiasa mewarnai sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Truman juga mengulas mengenai isu-isu khusus dan aktual,” kata Ruly Fauzi, peneliti Balai Arkeologi Sumatera Selatan sekaligus arkeolog di Center for Prehistory and Austronesian Studies, saat menyampaikan ulasan buku terbaru Truman, Kamis (20/8/2020).

Penjelasan tentang migrasi, interaksi, adaptasi, dan evolusi menjadi landasan konseptual dari buku karya Truman yang kemudian dikontekstualisasikan dengan kondisi dan dinamika lingkungan Nusantara selama 1,5 juta tahun terakhir. Ia memaparkan keberadaan manusia-manusia terdahulu Indonesia berikut entitas kebudayaannya secara kronologis, mulai dari kelompok Homo erectus, manusia modern awal (Homo sapiens), populasi Australomelanesia, populasi Monggolid penutur bahasa Austroasiatik, hingga Monggolid penutur rumpun bahasa Austronesia.

”Truman mengulas secara khusus tentang migrasi populasi Monggolid penutur bahasa Austroasiatik dan kaitannya dengan eksistensi budaya Neolitik di bagian barat Nusantara. Pokok bahasan ini muncul berkat beberapa penemuan terbaru yang semakin memperkuat bukti eksistensi dua kelompok budaya Neolitik dengan corak budaya yang sedikit berbeda di Indonesia. Fenomena inilah yang sering kali luput dari perhatian para ahli lain sehingga eksistensi budaya Neolitik di Nusantara terkesan hanya berhubungan dengan migrasi ras Monggolid penutur bahasa Austronesia,” kata Rully.

–Tenaga lokal Penelitian Arkeologi Situs Goa Harimau melakukan proses pelabelan pada setiap kerangka individu Homo Sapiens di Goa Harimau, Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Rabu (28/5). Dari 78 kerangka yang diekskavasi, sebanyak 38 kerangka telah diangkat ke Museum Si Pahit Lidah yang berjarak sekitar dua kilometer dari Goa Harimau. Sebagian besar dari kerangka tersebut kini telah diganti dengan kerangka tiruan yang diletakkan sama persis seperti kondisi awalnya di Goa Harimau.–Kompas/Aloysius Budi Kurniawan (ABK)–28-05-2014

Tradisi yang berkembang
Sejarah Nusantara yang sarat akan proses interaksi dan silang budaya sebagai dampak dari awal globalisasi di dunia perdagangan juga menjadi tema menarik yang dikupas Truman. Ia tidak hanya mengulas berbagai bukti arkeologisnya semata, tetapi juga tradisi-tradisi yang cenderung bertahan, berlanjut, dan berkembang di sejumlah daerah di Indonesia.

”Pengertian tentang manusia dan peradaban Indonesia menjadi bekal bagi bangsa ini guna menghadapi masa kini dan menyongsong masa depan,” kata Truman di akhir bukunya.

Di sinilah penulis berhasil menggambarkan posisi strategis arkeologi di dalam pembangunan, yaitu sebagai sebuah kajian yang berangkat dari kelampauan, tiba di kekinian, dan berproyeksi ke masa depan. Berbagai pelajaran dapat dipetik dari nilai-nilai luhur kepribadian bangsa Indonesia dalam beradaptasi dan berinteraksi dengan dunia luar sejak jutaan tahun silam.

”Sebagian besar isi dari buku ini bisa menjadi referensi bagi kalangan akademisi ataupun peneliti di bidang arkeologi dan sejarah. Bagi khalayak umum, buku ini akan membangkitkan kecintaan dan rasa bangga menjadi bangsa yang telah dikaruniai alam subur nan indah, kemajemukan yang menyatu dalam bauran genetika, serta eksotisme keberagaman budayanya,” ucap Rully.

Berbagai capaian bangsa ini dalam konteks budaya bendawinya selalu menyiratkan nilai-nilai luhur dan kearifan sehingga dapat dipandang sebagai jati diri keindonesiaan yang sesungguhnya. Barangkali kesulitan yang akan ditemukan pembaca hanyalah memahami terminologi khusus, nama ilmiah, dan istilah asing yang belum seluruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Oleh ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Editor:ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 21 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: