Home / Sosok / Beben Benyamin; Peneliti Gen Penyebab Skizofrenia

Beben Benyamin; Peneliti Gen Penyebab Skizofrenia

Beben Benyamin (39) pun didaulat sebagai Ilmuwan Minggu Ini (Scientist of the Week) oleh majalah ”Laboratory Equipment” terbitan 18 Juni. Di Indonesia, tak banyak yang tahu. Tak banyak pula penelitian genetik yang dilakukan dengan populasi masyarakat Indonesia. Namun, Beben pun tetap berkarya.

”Kalau kita tahu penyebab setiap orang berbeda, itu akan sangat berguna bagi ilmu-ilmu lain, termasuk ilmu kesehatan, evolusi, dan psikologi. Misalnya, studi tentang orang kembar menunjukkan bahwa faktor genetik banyak menentukan kerentanan seseorang terhadap penyakit skizofrenia,” ujar Beben yang sudah memublikasikan puluhan paper, termasuk di jurnal Nature dan Nature Genetics.

Lebih lanjut Beben menuturkan, berdasarkan pengetahuan tentang penyebab setiap orang berbeda itu, ilmuwan meneliti gen yang menyebabkan penyakit, lalu mencari mekanisme terjadinya penyakit, sehingga bisa mendiagnosis serta menemukan cara pengobatannya.

Selain publikasi di jurnal ilmiah, Beben juga pernah memimpin sebuah konsorsium penelitian genetik yang terdiri atas 70 peneliti mancanegara, termasuk di dalamnya ilmuwan yang berasal dari Amerika dan Inggris.

”Walau menyita waktu dan pikiran, pengalaman saya ketika memimpin sebuah konsorsium itu merupakan hal yang sangat berharga,” ujar pria yang selalu menjaga kesehatan dengan berolahraga minimal satu jam sehari ini.

”Olahraga apa saja, mulai dari lari, tenis, badminton, dan naik sepeda statis. Bagusnya naik sepeda statis, saya bisa sambil baca jurnal atau menonton video perkuliahan. Jadi waktu tak terbuang,” tutur Beben yang baru saja menyelesaikan lari untuk amal City2South sejauh 14 kilometer.

Walau demikian, ayah dua anak ini mengaku tak pernah bercita-cita menjadi ahli genetika.

”Semuanya mengalir begitu saja. Saya mulai tertarik bidang genetika ketika mengikuti kuliah genetika dan statistika di Fakultas Peternakan IPB (Institut Pertanian Bogor). Dosen-dosen yang mengajarkan mata kuliah tersebut sangat piawai,” ujar Beben yang sangat berterima kasih kepada sejumlah orang yang dianggapnya amat berjasa mendorong ketertarikannya pada dunia genetika.

”Saya amat berterima kasih kepada Prof Muladno, Prof Ronny Rachman Noor yang menjadi pembimbing skripsi saya, dan Prof Asep Saefuddin. Mereka yang membuat saya terpincut pada bidang ini,” ujar Beben yang setelah menamatkan pendidikan sarjana di IPB melanjutkan studi ke Australia dan Inggris.

Semakin personal
Saat ini, ilmuwan sedang berlomba-lomba untuk menemukan gen-gen yang menyebabkan berbagai penyakit. Nantinya, pada masa depan, bidang kedokteran tidak lagi bisa dipisahkan dari genetika. Pasalnya, pelayanan kesehatan akan dilakukan secara lebih pribadi.

”Sekarang pun, istilah-istilah personalized medicine (personalisasi perawatan) ataupun precision medicine, yang intinya adalah penggunaan informasi genetika dalam bidang kedokteran, sudah mulai diaplikasikan di negara-negara maju,” ujarnya.

Itu sebabnya, Beben berharap, masyarakat mampu keluar dari pemikiran yang membenturkan genetik dan lingkungan, menjadi ke pemikiran agar genetik dan lingkungan itu bisa dipadukan secara serasi.

”Keduanya penting dalam membentuk seorang manusia,” ucapnya.

Dalam tiga tahun terakhir, fokus penelitian Beben tertuju pada gen yang menyebabkan penyakit kejiwaan dan saraf.

”Saya berharap penelitian saya bisa memberikan sumbangan bagi pencegahan penyakit, dengan cara memprediksi risiko, mendiagnosis penyakit serta pengobatannya,” ujar Beben yang mengungkapkan, di Indonesia, jumlah penelitian seperti ini masih terbatas karena selain biayanya mahal, kondisi infrastruktur risetnya juga masih terbatas.

”Dari penelitian nature-nurture yang dipublikasikan di paper kita, tidak ditemukan publikasi dari Indonesia,” ujar Beben yang sudah memperoleh dana sekitar Rp 20 miliar untuk penelitian dan beasiswanya.

Di samping itu, penelitian genetik yang dipublikasikan mayoritas dilakukan di populasi Eropa. Kondisi ini belum tentu bisa diaplikasikan langsung pada populasi masyarakat Indonesia. Menurut Beben, selain karena perbedaan secara genetik, faktor lingkungan yang memengaruhi penyakit tersebut juga bisa berbeda.

”Jadi, kalau kita tak ikut melakukan penelitian seperti ini dengan sampel dari Indonesia, dunia kedokteran kita akan ketinggalan,” ujarnya.

Namun, Beben tidak berdiam diri. Ia dan mahasiswanya bekerja sama dengan peneliti Indonesia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Universitas Indonesia dan universitas lain di Australia, melakukan penelitian untuk mencari gen yang memengaruhi penyakit skizofrenia.–(HARRY BHASKARA KORESPONDEN KOMPAS DI BRISBANE, AUSTRALIA)

12483be65ca24c189989d364681c72ccARSIP HARRY BHASKARA
BEBEN BENYAMIN

LAHIR
Rajapolah, Tasikmalaya 12 Oktober 1976

ISTRI
Ike Herwidi (38)

ANAK
Tiara Kinanti (10)
Elang Dewantara (6)

PENDIDIKAN
SD/MI: Pasanggrahan, Rajapolah, Tasikmalaya (1989)
SMP/MTs: Pasanggrahan, Rajapolah, Tasikmalaya (1992)
SMA: Ciawi, Tasikmalaya (1995)
S-1: Sarjana Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Indonesia (2000)
S-2: Master of Agriculture di bidang genetika, University of Sydney, Australia (2002)
S-3: PhD di bidang genetika statistik, University of Edinburgh, Skotlandia, UK (2007)

PEKERJAAN
2015-sekarang: NHMRC (Australian National Health and Medical Research Council) Career Development Fellow, University of Queensland, Brisbane
2012-2014: Research Fellow, University of Queensland, Brisbane
2010-2011: Senior Research Officer, QIMR Berghofer Medical Research Institute, Brisbane
2007-2010: Research Officer, QIMR Berghofer Medical Research Institute, Brisbane

PUBLIKASI
Sebanyak 38 paper dalam bidang genetika yang berhubungan dengan kedokteran dan penyakit. Sepertiga paper-nya dipublikasikan di jurnal prestisius.

PRESTASI DAN PENGHARGAAN
Mendapatkan beasiswa NHMRC Career Development Fellowship (2015-2018) dan NHMRC Peter Doherty Fellowship (2009-2012).

Finalis Australian Society for Medical Research category Postdoctoral Researcher Award.

UQ Indonesia Partnership Award, sebuah program untuk menjajaki kerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian di Indonesia.
Majalah ”Nature Genetics” terbitan Mei 2015 memasukkan paper Beben dan timnya ke ranking kedua dan top lima persen versi Altmetric yang menjadi ukuran untuk menilai sejauh mana sebuah paper diliput dalam pemberitaan media, blog, Twitter, dan lainnya. Itu berarti paper Beben dan timnya berada di urutan 1.500-an dari sekitar empat juta paper.
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Juli 2015, di halaman 16 dengan judul “Peneliti Gen Penyebab Skizofrenia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: