Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

- Editor

Sabtu, 12 September 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam pembelajaran jarak jauh. Sejak tahun 1986, mereka sudah merintis pembelajaran digital.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Bambang Yuwono (kanan) dan Hary Sudiyono Candra mengembangkan pendidikan digital dari Indonesia dengan menciptakan buku digital interaktif yang mendunia.

Bambang Yuwono (65) dan Hary Sudiyono Candra (61) terus berinovasi memperkuat pendidikan digital. Lewat PesonaEdu, mereka menghasilkan produk pembelajaran digital yang tidak hanya dipakai di Indonesia, tetapi juga di banyak negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesuksesan dan kegagalan menjadi bagian perjalanan PesonaEdu atau yang juga dikenal Amazing Edu yang dirintis sejak tahun 1986. Tak lama setelah menerima penghargaan satu dari tujuh finalis British Education and Training Technology (BETT) Award kategori Secondary, FE and Skill Digital Content di London, Inggris, pada 2011, PesonaEdu menghadapi tantangan perubahan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Kebangkrutan sempat mengancam PesonaEdu yang memproduksi seri perangkat lunak bidang sains, matematika, dan literasi. Perangkat lunak itu kaya dengan animasi dan simulasi interaktif yang bisa dipakai siswa sekolah.

Saat itu, perangkat lunak pendidikan untuk matematika dan fisika bagi siswa SD-SMA dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang menggunakan flashdisk tidak bisa lagi dipakai saat teknologi HTML5 datang. Padahal, pada tahun 2008, sudah dipakai di 23 negara dunia, antara lain Singapura, Kanada, Jepang, Australia, China, dan Belanda.

Karena itulah, kondisi bisnis software pendidikan PesonaEdu terancam. Gedung megah di Jakarta yang menjadi pusat pelatihan pendidikan digital untuk guru dari seluruh Indonesia terpaksa dijual. Bambang dan Hary berjuang menyelamatkan konten animasi dan interaktif yang kemudian bisa dioperasikan dengan teknologi multimedia saat ini.

Kegagalan yang tidak terduga membuat Bambang dan Hary berefleksi. Dukungan pendidikan digital dengan model software dirasa tak lagi cocok karena guru merasa terbebani. PesonaEdu bertransformasi masuk ke buku teks yang dipakai penerbit dengan menjadi buku digital interaktif yang mulai diluncurkan tahun 2016.

–Buku digital interaktif buatan PesonaEdu dari Indonesia dipakai penerbit buku teks di dalam dan luar negeri. Bahkan Kementerian Pendidikan Singapura memakai buku digital interaktif yang berisi animasi dan simulasi interaktif untuk siswa SD-SMA.

Buku digital interaktif merupakan buku elektronik dari buku teks penerbit yang dipakai di sekolah-sekolah. Di buku digital, penjelasan dibuat interaktif dengan menyisipkan animasi dan simulasi pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Selain di Indonesia, buku digital interaktif PesonaEdu dilirik negara lain sehingga ada kerja sama dengan penerbit Oxford University Press, Marshall Cavendish Education dari Singapura, dan penerbit buku ternama di Mesir.

Tahun 2016, buku digital interaktif PesonaEdu dipakai secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Singapura. Salah satu negara yang memakai PesonaEdu adalah Singapura yang pernah memiliki Programme for International Student Assessment (PISA) nomor satu dunia.

Sayangnya, produk inovasi Bambang dan Hary ini tak kunjung dipakai di Indonesia. Padahal, peringkat PISA Indonesia dalam pembelajaran literasi, sains, dan matematika masuk kategori rendah di dunia. Persembahan PesonaEdu untuk Indonesia terasa lamban dimanfaatkan untuk memperbaiki mutu pendidikan Indonesia yang selaras PISA.

Bambang sebagai Co-Founder PesonaEdu Group yang dijumpai di Kantor PesonaEdu di Tangerang Selatan, Banten, Jumat (21/8/2020), menunjukkan buku berjudul GRIT: Kekuatan Passion + Kegigihan yang ditulis Angela Duckworth yang membuat usahanya tetap bertahan mengembangkan PesonaEdu.

”Tadinya saya mau cepat pensiun gara-gara pendidikan digital Indonesia yang rasanya lamban terwujud. Kalau tidak ada GRIT, passion, dan kegigihan, mungkin kami menyerah saat jatuh,” ujar Bambang.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melahirkan banyak aplikasi. Salah satunya e-book interaktif buku pelajaran yang dikembangkan PesonaEdu. Generasi muda Indonesia ditantang untuk melahirkan ide aplikasi lewat kompetisi IWIC Ke-11 yang digelar Indosat Ooredoo.

Tidak disangka, lanjut Bambang, pandemi Covid-19 membuat pendidikan digital menjadi masif di Indonesia. Pendidikan jarak jauh terpaksa dilakukan semua sekolah agar terhindar dari wabah virus korona. ”Sekarang jadi lebih mudah untuk berbicara tentang pendidikan digital di Indonesia. Saya jadi semangat lagi dan yakin PesonaEdu yang bukan start up ini harus melakukan lompatan,” ucapnya.

Bambang mengatakan, perjalanan PesonaEdu selama 34 tahun mengenalkan teknologi pendidikan digital di Indonesia saat ini seperti mendapat momentum. Inovasi untuk mendukung pendidikan digital atau pendidikan daring di sekolah-sekolah Indonesia akibat pandemi Covid-19 membuat mereka bergerak cepat. Keahlian membangun konten digital untuk pendidikan yang diakui dunia kini dioptimalkan guna mendukung pendidikan jarak jauh yang masih dikeluhkan kualitasnya.

Sekolah virtual
Hary sebagai Co-Founder dan Chairman PesonaEdu Group mengatakan, sejak 1986 mereka yakin teknologi pendidikan suatu saat harus masif di Indonesia. Mereka memulai dengan inovasi pendidikan komputer yang mendorong pengembangan laboratorium komputer sejak SD. Lalu dengan software pendidikan STEM, terakhir dengan buku digital interaktif.

”Kami mendengarkan banyak keluhan dan kebingungan dari sekolah, guru, orangtua, hingga siswa tentang pendidikan daring yang belum seperti diharapkan. Misalnya, pendidikan digital hanya lewat Whatsapp. Kondisi ini membuat kami terpanggil untuk memberikan contoh dalam menjalankan sekolah virtual di Indonesia, yang nanti juga bisa diaplikasikan untuk dunia,” tutur Hary.

Dalam waktu singkat, ujar Hary, gagasan menghadirkan sekolah virtual yang terpendam lama bisa terwujud. PesonaEdu sudah memiliki buku digital interaktif yang semakin familiar di sekolah karena bekerja sama dengan penerbit buku. Di daerah yang sulit jaringan internet, buku digital interaktif matematika, sains, serta bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang selaras PISA bisa diunduh, lalu dipakai secara luring.

PesonaEdu Academy digagas dalam waktu singkat dengan menghadirkan Learning Content Management System untuk memudahkan pembelajaran daring di sekolah, baik di masa pandemi Covid-19 maupun setelah pandemi. Ada konten berupa buku interaktif yang sesuai kurikulum, platform Learning Content Management System (LCMS) untuk aktivitas pembelajaran, serta guru mumpuni.

”Dengan pengalaman kami, layanan sekolah virtual layaknya seperti pembelajaran di kelas bisa kami hadirkan. Lewat PesonaEdu Academy yang nonprofit. Kami ingin memberdayakan guru, mengatasi kekurangan guru, dan kesenjangan mutu pendidikan dengan teknologi pendidikan digital,” kata Hary.

Sekolah virtual yang digagas PesonaEdu Academy ini dijadikan percontohan di Indonesia untuk studi kasus dunia dengan dukungan riset tim Universitas Negeri Surabaya. Pembuktian efektivitas sekolah virtual dengan pendekatan sister school diterapkan di sekolah di Bireuen, Aceh; dan Nabire, Papua. Sekolah virtual ini bisa melayani individu dan juga sekolah.

Dengan sekolah virtual PE Academy yang kami gagas, tidak menggantikan guru yang ada. Guru yang jago justru mendampingi untuk menguatkan guru di daerah dalam pembelajaran STEM dan literasi yang selaras PISA. Sebaliknya, jika tidak ada guru, ya, LCMS ini jadi pengganti, ucap Hary.

Ia menambahkan, tersedia fitur untuk 17 jenis aktivitas pembelajaran dari teks, audio, dan video, serta empat fitur pembelajaran kolaboratif. Hambatan dalam pendidikan karena masalah guru dan kualitas pembelajaran bisa diatasi dengan teknologi digital anak bangsa. Jika ini sukses, kami akan bawa ke dunia karena masih banyak negara yang mengalami masalah seperti Indonesia,” lanjutnya.

Hary mengatakan, makna pendidikan selaras PISA ialah melaksanakan pembelajaran di sekolah yang memberikan bekal ilmu hidup. Seorang anak harus belajar berkomunikasi dengan baik dan dua arah dengan bekal kemampuan literasi. Anak harus mampu memecahkan masalah dengan menguasai numerasi serta bersinergi dengan alam lewat pembelajaran sains. Tak kalah penting, kemampuan berkolaborasi. Layan pendidikan dengan pendekatan PISA diharapkan memperkuat sumber daya manusia Indonesia.

Ia menyebutkan, inovasi terbaru dari pengalaman panjang PesonaEdu yang berkontribusi di pendidikan digital ini menyimpan suatu harapan. ”Kami berharap, banyak pihak mau bersama-sama mendukung pengembangan pendidikan daring di Indonesia. Kami mengetuk filantrop di mana pun di dunia untuk memakai cara yang dikembangkan di Indonesia mengatasi masalah pendidikan. Kami berharap, pemerintah, kalau dianggap baik, bisa dimaksimalkan untuk Indonesia. Kami siap untuk mendukung,” kata Hary.

Bambang Yuwono

Lahir: Malang, 14 Februari 1955

Pendidikan: Sarjana Teknik Sipil Universitas Parahyangan, Bandung (lulus 1980)

Hary Sudiyono Candra

Lahir: Madiun, 20 April 1959

Pendidikan: Sarjana Teknik Sipil Universitas Parahyangan, Bandung (lulus 1984)

Penghargaan, antara lain:
British Education and Training Technology (BETT) Award satu dari tujuh finalis kategori Secondary, FE and Skill Digital Content (2011)
Kementerian Pendidikan Singapura (2018-sekarang)
Sharjah International Book Fair (2019) yang digelar Emirates Publishers Association and International Publishers Association di Dubai
Delegasi Indonesia untuk London Book Fair (2019)

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 12 September 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan
Pemuda Jombang ini Jelajahi Tiga Negara Berbeda untuk Menimba Ilmu
Mochammad Masrikhan, Lulusan Terbaik SMK Swasta di Jombang yang Kini Kuliah di Australia
Usai Lulus Kedokteran UI, Pemuda Jombang ini Pasang Target Selesai S2 di UCL dalam Setahun
Di Usia 25 Tahun, Wiwit Nurhidayah Menyandang 4 Gelar Akademik
Cerita Sasha Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran Unair, Pernah Gagal 15 Kali Tes
Sosok Amadeo Yesa, Peraih Nilai UTBK 2023 Tertinggi se-Indonesia yang Masuk ITS
Profil Koesnadi Hardjasoemantri, Rektor UGM Semasa Ganjar Pranowo Masih Kuliah
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Kamis, 28 September 2023 - 15:05 WIB

Pemuda Jombang ini Jelajahi Tiga Negara Berbeda untuk Menimba Ilmu

Kamis, 28 September 2023 - 15:00 WIB

Mochammad Masrikhan, Lulusan Terbaik SMK Swasta di Jombang yang Kini Kuliah di Australia

Kamis, 28 September 2023 - 14:54 WIB

Usai Lulus Kedokteran UI, Pemuda Jombang ini Pasang Target Selesai S2 di UCL dalam Setahun

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:43 WIB

Di Usia 25 Tahun, Wiwit Nurhidayah Menyandang 4 Gelar Akademik

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB