Home / Sosok / Andani Eka Putra, Pejuang di Tengah Pandemi Covid-19

Andani Eka Putra, Pejuang di Tengah Pandemi Covid-19

Di masa pandemi, Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi FK Unand menjadi tulang punggung dalam pengendalian Covid-19 di Sumbar. Andani Eka Putra menjadi sosok kunci di balik laboratorium tersebut.

KOMPAS/YOLA SASTRA—Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Andani Eka Putra, ketika ditemui di Padang, Sumatera Barat, Selasa (7/7/2020).

Kebanggaan tertinggi seorang peneliti adalah ketika menghasilkan produk yang bisa dipakai bangsa. Bukan berapa banyak artikel ilmiah terindeks Scopus yang ditulis. Andani mengejawantahkan keyakinannya itu dengan mendirikan laboratorium diagnostik, yang menjadi tulang punggung pemeriksaan sampel Covid-19 di Sumatera Barat selama pandemi.

Panggilan demi panggilan masuk ke ponsel Andani Eka Putra, Selasa (7/7/2020) pagi. Sejak pukul 07.00, Andani dengan kemeja rapi telah siap di ruangannya di Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas (Unand). Selain menyampaikan angka kasus positif Covid-19 ke setiap daerah, Andani juga siap untuk berdiskusi.

Andani menjawab satu per satu panggilan dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota itu dengan yakin dan sabar. Ia menjelaskan serta memotivasi para kepala dinas akan pentingnya surveilans dan pelacakan kasus Covid-19. Jika itu tidak dilakukan, bisa menimbulkan ledakan kasus, yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan perekonomian daerah.

”Mereka butuh diskusi. Laboratorium harus bisa menjelaskan. Laboratorium tidak hanya memeriksa sampel, tetapi juga mendorong, membuat konsep, dan mengeksekusi. Mendorong teman-teman di dinkes untuk melakukan surveilans dana pelacakan kasus. Tidak ada dinkes, tidak bisa laboratorium berjalan. Mereka ujung tombaknya,” kata Andani di laboratorium diagnostik FK Unand, Padang, Sumbar.

Di masa pandemi, Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi FK Unand itu menjadi tulang punggung dalam pengendalian Covid-19 di Sumbar. Sejak beroperasinya laboratorium itu pada 25 Maret 2020, Sumbar bisa memeriksa sampel secara mandiri. Andani menjadi sosok kunci di balik keberadaan laboratorium yang berdiri di Kelurahan Jati, Padang Timur, itu.

Total hingga 10 Juli 2020 laboratorium FK Unand sudah memeriksa sekitar 58.000 sampel Covid-19. Dalam sehari, kapasitas maksimal laboratorium mencapai 3.000 sampel, termasuk dengan metode pool test yang dikembangkan Andani. Dengan kemampuan itu, Sumbar tidak lagi sekadar memeriksa kasus suspek, tetapi juga memeriksa kontak erat dan orang tanpa gejala, bahkan melakukan survei di kabupaten/kota.

Secara mandiri
Andani mulai merintis laboratorium diagnostik FK Unand sejak pertengahan 2014 ketika hampir merampungkan tugas belajar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ketika kuliah S-2 dan S-3 di FK UGM, Andani memang aktif meneliti. Aktivitas itu dilanjutkannya ketika kembali ke Unand, tempat ia bekerja sebagai dosen.

Berbekal mesin reaksi rantai polimerase (PCR) manual, elektroforesis, dan lainnya, yang didapat ketika meneliti di FK UGM, Andani mulai membangun laboratorium. Sebuah ruangan di bagian mikrobiologi FK Unand ia tata menjadi laboratorium. Andani melibatkan mahasiswa dan rekan dosen lainnya dalam berbagai kegiatan penelitian.

Menurut Andani, tak sedikit duka yang dialaminya ketika merintis laboratorium diagnostik. Semangatnya yang tinggi dalam meneliti tak didukung dengan peralatan yang lengkap. Mahalnya alat-alat laboratorium, bahkan hingga ratusan juta rupiah per unit, sulit ia jangkau. Andani berulang kali meminta bantuan kampus, tetapi tidak ada anggaran untuk itu.

”Belikanlah saya alat. Nanti, kalau saya dapat royalti dari hasil penelitian, ambil semua royaltinya. Namun, alatnya enggak dapat juga. Saya ingin memberikan sesuatu untuk bangsa ini, tapi saya tidak punya alat. Bagaimana bisa bekerja?” kata Andani menirukan ucapannya kepada pihak kampus pada suatu waktu.

Akan tetapi, keterbatasan itu tidak membuat Andani patah arang. Mantan pemimpin redaksi dan pemimpin umum majalah kampus FK Unand, Broca, itu merogoh kantongnya sendiri untuk mengangsur melengkapi peralatan. Sisa dana penelitian dari dalam dan luar negeri yang ia kerjakan tak lupa disisihkan untuk membeli peralatan.

Apa yang diupayakan Andani juga tak luput dari pandangan skeptis orang-orang sekitar. Namun, Andani tetap yakin dengan apa yang telah ia mulai. Lambat tapi pasti, peralatan laboratorium diagnostik FK Unand semakin lengkap. Laboratorium punya 2 PCR manual, 1 PCR realtime, Elisa Reader, dan sebagainya.

Berbagai penelitian telah dilakukan di laboratorium itu, mulai dari virus papiloma manusia (pemicu kanker serviks), rotavirus (pemicu diare anak), virus hepatitis, human immunodeficiency virus atau HIV (pemicu AIDS), dan virus H5N1 (pemicu flu burung). Sebagian dari penelitian itu merupakan kerja sama dengan perusahaan dalam negeri untuk menghasilkan produk komersial yang bisa digunakan masyarakat.

”Januari 2020, saya kirim surat ke dekan. Semua peralatan laboratorium saya hibahkan ke fakultas biar tidak jadi masalah jika saya sudah tidak ada. Total nilai peralatan itu sekitar Rp 860 juta. Di luar itu, juga ada PCR realtime yang ditempatkan perusahaan dari Jakarta untuk kerja sama pengembangan produk komersial,” ujar Andani, yang gemar meneliti sejak kuliah S-1 di Jurusan Kedokteran Umum FK Unand.

Karena semakin berkembang, akhir 2019, Andani memindahkan laboratorium ke ruangan yang lebih besar di ruang dosen bagian fisika, biologi, dan kimia. Ruangan itu ditinggalkan karena bagian tersebut pindah ke Kampus Unand di Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Padang. Bantuan dana Rp 200 juta dari kampus digunakan untuk merenovasi ruangan itu.

Pandemi
Andani awalnya tidak membayangkan laboratorium diagnostik FK Unand sebagai tempat pemeriksaan sampel Covid-19. Laboratorium itu sebenarnya tengah disiapkan untuk menghasilkan produk dalam negeri yang bisa digunakan masyarakat. Namun, di tengah persiapan ruangan laboratorium baru, terjadi pandemi Covid-19.

Momen ini menjadi kesempatan bagi Andani untuk membuktikan laboratorium yang dirintisnya bisa berperan langsung membantu masyarakat. Peralatan laboratorium juga sudah lengkap dan memadai untuk bisa memeriksa sampel Covid-19.

Ide untuk ikut membantu memeriksa sampel Covid-19 itu disampaikan Andani kepada pihak kampus dan disetujui. Komunikasi pun dijalin dengan Dinas Kesehatan Sumbar. Selanjutnya, dengan didampingi Dekan FK Unand Rika Susanti, Andani berbicara dengan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Bak gayung bersambut, Irwan sangat mendukung usulan itu karena Sumbar butuh pemeriksaan yang cepat untuk pengendalian Covid-19.

Waktu itu Sumbar masih bergantung pada Laboratorium Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan, untuk pemeriksaan sampel suspect Covid-19, yang hasilnya baru diketahui dalam hitungan minggu. Padahal, pemeriksaan cepat merupakan salah satu kunci pengendalian Covid-19. Belum adanya kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di Sumbar justru mencemaskan.

Pemprov Sumbar pun mengajukan izin ke Kemenkes agar pemeriksaan sampel bisa dilakukan di laboratorium diagnostik FK Unand. Setelah mendapat persetujuan dari Kemenkes, laboratorium diagnostik FK Unand mulai memeriksa sampel suspect Covid-19 pada 25 Maret 2020. Sehari berselang, Sumbar mengumumkan lima kasus pertama Covid-19, dua orang dari pemeriksaan laboratorium diagnostik FK Unand dan tiga orang dari pemeriksaan laboratorium Badan Litbangkes Kemenkes.

Andani mengenang, salah seorang wakil rektor sempat khawatir soal keamanan Andani memeriksa sampel Covid-19 di laboratorium diagnostik FK Unand. ”Insya Allah aman. Besok kalau saya mati, tulis nama saya di lab itu,” kata Andani menirukan percakapannya dengan wakil rektor.

Pada hari pertama memeriksa sampel Covid-19, semua anggota tim Andani takut untuk memulai. Akhirnya, Andani masuk ke ruangan dan memulai pekerjaan terlebih dahulu. ”Orang bilang jenderal itu harus maju duluan, saya maju. Saya harus buktikan kepada anggota bahwa kami bisa,” ujar Andani.

Awal-awal beroperasi, ada 30 orang yang membantu Andani. Kapasitas pemeriksaan waktu itu 100 sampel per hari. Kapasitas pemeriksaan terus meningkat seiring dengan bertambahnya tenaga dan peralatan.

Sejak awal Mei 2020, jumlah tenaga bertambah menjadi 56 orang dan kapasitas maksimal pemeriksaan mencapai 1.500 sampel per hari. Pada masa ini, Andani mulai menerapkan metode pool test yang bisa menghemat reagen 75-80 persen.

Sekarang, laboratorium diagnostik FK Unand sanggup memeriksa hingga 3.000 sampel per hari, termasuk dengan metode pool test. ”Pernah tiga kali kami memeriksa lebih dari 2.000 sampel. Minggu kemarin (sejak awal Juli 2020), di atas 1.600 sampel per hari. Ada yang dengan metode pool test, ada yang tidak. Pool test kami lakukan untuk memeriksa pasien baru, kontak erat, dan survei,” ujar Andani.

Jumlah tenaga di laboratorium diagnostik FK Unand saat ini tetap berjumlah 56 orang. Selain mahasiswa S-2 dan S-3 FK Unand yang dibimbing Andani dan dosen FK dan FMIPA Unand, Andani juga dibantu tenaga sukarelawan dari mahasiswa Universitas Negeri Padang, mahasiswa FMIPA Unand, dan tenaga dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan di Padang.

Pemeriksaan masif
Menurut Andani, pemeriksaan masif merupakan salah satu kunci dalam pengendalian Covid-19. Semakin banyak individu yang diperiksa, semakin banyak kasus ditemukan sehingga bisa segera ditangani dan memutus rantai penularan. Kunci lainnya dalam pengendali Covid-19 adalah pelacakan, isolasi, dan perawatan.

Dalam praktiknya, laboratorium diagnostik FK Unand tidak lagi sekadar memeriksa sampel pasien suspect Covid-19. Sejak awal Mei, orang-orang kontak erat dan orang-orang tanpa gejala juga ikut diperiksa. Survei dengan teknik cluster random sampling dan pemeriksaan dengan metode pool test pun mulai dilakukan sejak Mei dan semakin gencar dilakukan pada masa normal baru.

Setiap kabupaten/kota dibagi atas sejumlah kluster, kemudian diambil sampel usap masyarakat yang mewakili tiap-tiap kluster. Jumlah total sampel usap yang diambil tiap-tiap kabupaten/kota berkisar 1.200-1.700 sampel usap. ”Survei direncanakan dilakukan berkala sekali tiga bulan untuk mengevaluasi angka infeksi di setiap daerah,” kata Andani.

Hingga Selasa (7/7/2020), dari 19 kabupaten/kota di Sumbar, sudah enam yang menjalani survei, yaitu Sawahlunto, Solok Selatan, Pasaman, Limapuluh Kota, Dharmasraya, dan Sijunjung. Sementara yang sedang menjalani survei Pasaman Barat, Padang, Payakumbuh, Kabupaten Solok, Pariaman, dan Padang Pariaman. Padang Panjang bakal menyusul beberapa waktu kemudian.

Selain survei, pada masa normal baru, kata Andani, pemeriksaan juga dilakukan di tempat-tempat berisiko. Pegawai hotel dan obyek wisata, pasar, sekolah berasrama, dan sebagainya perlu diperiksa agar aman dari penularan Covid-19.

Dengan pemeriksaan masif, kasus positif Covid-19 di Sumbar lebih cepat ditemukan dan sebagian besar tanpa gejala. Pasien Covid-19 bisa lebih cepat diisolasi untuk memutus rantai penularan. Tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Sumbar tergolong tinggi.

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumbar, Rabu (15/7/2020), total kasus Covid-19 di Sumbar 805 orang. Dari total kasus, 687 orang sembuh (85,3 persen), 32 orang meninggal (4 persen), 42 orang sedang diisolasi di berbagai fasilitas (5,2 persen), dan 44 orang dirawat di rumah sakit (5,5 persen).

Dalam seminggu terakhir (7-15 Juli 2020), tambahan kasus positif Covid-19 di Sumbar di bawah 10 orang per hari. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan dengan Mei dan Juni 2020 yang bisa mencapai 30-an orang per hari.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 29 Juni 2020, angka tingkat kepositifan (positivity rate) Covid-19 di Sumbar yang terendah di Indonesia, sekitar 1,8 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Yogyakarta 1,9 persen, Riau 2,16 persen, Nusa Tenggara Timur 2,25 persen, dan Bangka Belitung 3 persen. Adapun secara nasional angka tingkat kepositifan mencapai 12 persen.

Tingkat kepositifan merupakan perbandingan jumlah kasus dengan spesimen yang diuji. Pada 29 Juni, total kasus Covid-19 di Sumbar 727 orang dari 40.277 sampel yang diperiksa. Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka tingkat kepositifan ideal di bawah 5 persen.

”Provinsi yang banyak melakukan pemeriksaan, itu yang akan berhasil dalam mengendalikan Covid-19. Yang sedikit memeriksa, belum tahu nasibnya ke depan. Dalam konsep pengendalian wabah, sebagaimana disampaikan WHO, semakin banyak diperiksa semakin bagus hasilnya,” kata Andani.

Hubungan baik
Kemampuan laboratorium diagnostik FK Unand dalam memeriksa banyak sampel tak terlepas dari hubungan baik yang dibangun laboratorium dengan berbagai pihak, yaitu pemprov, pemkab/pemkot, dinkes, rumah sakit, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dan lainnya. Hubungan yang cair membuat komunikasi dan koordinasi menjadi lancar sehingga laboratorium bisa beroperasi dengan lancar.

Hubungan baik, kata Andani, memudahkan laboratorium dalam mendorong dinkes untuk gencar melakukan surveilans dan pelacakan kasus di lapangan. Tanpa ada sampel yang diambil di lapangan, laboratorium tak dapat bekerja. Andani juga bisa berdiskusi dengan kepala daerah setiap waktu terkait upaya pengendalian Covid-19 di kabupaten/kota masing-masing, termasuk dalam melakukan survei.

Andani melanjutkan, semua biaya operasional laboratorium diagnostik FK Unand ditanggung oleh Pemprov Sumbar dan berbagai bantuan lainnya. Sementara kebutuhan reagen dan virus transport media (VTM) dibantu oleh BNPB sebagai Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Laboratorium Diagnostik FK Unand juga mendapat bantuan dua mesin ekstraksi dari BNPB.

Untuk PCR realtime, yang awalnya cuma dua unit, sekarang sudah lima unit. Dua unit pertama merupakan alat laboratorium diagnostik FK Unand dan hibah Pemkot Padang. Seminggu setelah beroperasi, PT Paragon Technology and Innovation membantu satu unit PCR realtime. Dua bulan kemudian, tiba bantuan PCR realtime dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan serta pinjaman PCR realtime dari BBPOM di Padang.

Ke depan, Andani bertekad mendirikan bangunan biosafety level III di laboratorium diagnostik FK Unand. Andani sedang melakukan penjajakan dengan sejumlah BUMN dan perbankan untuk membantu pendanaan. Rencana tersebut hendak dijalankan tahun ini seiring dengan pemeriksaan sampel Covid-19 yang terus berlangsung.

”Setelah Covid-19 berakhir, kami ingin mengarahkan laboratorium ini menjadi laboratorium unggulan untuk riset-riset infeksi, khususnya virus. Fasilitas biosafety level III bisa digunakan untuk riset kultur virus. Kalau itu bisa dikembangkan, obat-obat baru dan antivirus lebih cepat ditemukan,” ujar Andani.

Andani Eka Putra

Lahir: Tarusan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 15 Agustus 1972

Pendidikan:
– S-1 Kedokteran Umum Universitas Andalas (lulus 1996)
– S-2 Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (lulus 2009)
– S-3 Ilmu Kedokteran Universitas Gadjah Mada (lulus 2016)

Pekerjaan:
– Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi, Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas
– Dosen Teknik Molekuler dan Imunologi, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
– Direktur Umum dan Sumber Ddaya Rumah Sakit Universitas Andalas

Oleh YOLA SASTRA

Editor: BUDI SUWARNA, DAHONO FITRIANTO

Sumber: Kompas, 21 Juli 2020

Share
x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: