Home / Artikel / Algoritma Kerja Bersama

Algoritma Kerja Bersama

Tak terbayangkan panjangnya petualangan manusia di jagat maya tanpa pintu gerbang bernama World Wide Web atau yang biasa disingkat www.

Itulah pangkal jalan dari setiap pengembaraan di dunia digital dengan segala faedah dan kompleksitas persoalannya.

Tak banyak yang mengenang siapa yang berjasa menemukan pintu gerbang itu. Dia adalah Tim Berners-Lee, pria kelahiran London, 8 Juni 1955. Pada 1980, saat bekerja sebagai kontraktor lepas Conseil EuropÉene pour la Recherche NuclÉaire (CERN)—dewan yang dibentuk untuk mendiskusikan pembangunan fasilitas penelitian fisika nuklir di Eropa—Berners-Lee mengajukan proyek berbasis hypertext guna memfasilitasi pembagian dan pembaruan informasi di antara peneliti. Atas bantuan Robert Cailliau, ia menciptakan sistem prototipe bernama Enquire.

Pada 1984, Berners-Lee menggunakan ide yang mirip dengan yang ia gunakan pada Enquire guna menciptakan World Wide Web. Lalu, ia membuat situs jaringan internet dengan alamat www.http://info.cern.ch, sekaligus jadi server-web pertama di dunia, yang mengudara 6 Agustus 1991. Dari sumbangsih besar Lee inilah awal mula keterhubungan miliaran manusia dari delapan penjuru dunia dalam ruang tak berbatas bernama cyberspace.

Di usia 62 tahun, Lee hidup sebagai pribadi yang rendah hati. Ia tak berkeinginan mematenkan penemuannya, hingga bisa dipakai secara bebas sampai detik ini. Atas jasa besar itu, lulusan terbaik Fakultas Fisika Queen’s College, Oxford University, itu memperoleh penghargaan Order of Merit (2007), anugerah bergengsi di Inggris Raya, penghargaan personal Ratu Inggris yang untuk memberikannya Sang Ratu tak perlu nasihat dari siapa pun. Keteladanan Lee ditemukan pula pada sosok Blake Ross, pengembang peranti lunak yang telah menciptakan Mozilla, fasilitas penjelajah internet. Anak muda kelahiran Miami, Florida, 12 Juni 1985, itu membuat situs web pertamanya di usia 10 tahun.

Saat Mozilla Web Browser diudarakan pada 2004, usianya baru 11 tahun. Mozilla kemudian digabungkan dengan Firefox, program yang diciptakan bersama Dave Hyatt, hingga namanya menjadi Mozilla Firefox. Secara cepat Mozilla Firefox diterima pengguna internet karena dinilai lebih aman dan mudah digunakan, hingga merebut sebagian pasar penjelajah internet yang sebelumnya dikuasai Microsoft Internet Explorer.

Masyarakat jaringan
Sebagaimana pintu gerbang dunia maya temuan Lee, Mozilla Firefo— yang dikembangkan oleh Yayasan Mozilla dan ratusan sukarelawan—juga dapat digunakan secara cuma-cuma. Dari kerja para relawan yang dimulai dari tangan dingin Ross, warganet dapat menjelajahi dunia maya dan berinteraksi di medan- medan pergaulan yang—dalam bahasa Manuel Castells (2010)— disebut masyarakat jaringan (network society). Tuan tak akan dapat masuk ke situs media sosial tanpa Mozilla Firefox. Karena World Wide Web dan Mozilla Firefox, jutaan orang dari berbagai negara, beregam keilmuan, suku dan agama, saling bertukar informasi, hingga keramaian itu berujung pada apa yang dibahasakan Castells sebagai mass self communication, yakni individu-individu yang menggunakan berbagai perangkat media sosial, lalu mengirimkan pesan yang dapat menjangkau banyak orang.

Namun, apa yang telah dihibahkan oleh Lee dan Ross untuk kemanfaatan bersama itu kemudian disambut oleh kepentingan ekonomi yang berdenyut di belakang layar media-media sosial. Dalam pergaulan digital yang sedang digandrungi, ada sebuah mesin pintar bernama Algoritma. Dalam bahasa sederhana, Maulida Sri Handayani (2016) menjelaskan cara kerjanya. Jika Anda sedang kehausan di halte bus transjakarta dan kebetulan ada mesin minuman, Anda memasukkan koin ke dalam mesin itu. Dalam hitungan detik, keluarlah minuman yang Anda inginkan.

Tentu bukan jin yang membuat minuman itu muncul. Tanpa uang, tak mungkin minuman bisa keluar. Mesin itu punya seperangkat aturan yang memungkinkan minuman bisa keluar saat Anda memasukkan koin. Seperangkat aturan atau rumus itulah Algoritma. Istilah ini berasal dari nama matematikawan Baghdad, Mohammed ibn-Musa al-Khawarizmi (780-850).

Algoritma media sosial semacam Facebook, misalnya, adalah Algoritma berbasis keseragaman. Kabar terkini yang melintas di lini masa Tuan adalah hasil saringan dari rekam jejak digital Tuan; buku, musik, film, olahraga yang Tuan suka, topik perbincangan yang Tuan gemari, teman yang ingin Tuan gauli, dan semacamnya. Dengan demikian, ia hanya akan mendekatkan Tuan dengan orang-orang yang punya kesamaan dengan Tuan.

Keseragaman itu—sebagaimana dicatat oleh Aulia Adam (2017—dapat mengancam iklim intelektualitas. Orang yang saban hari disuguhi informasi tentang bahaya pemikiran tertentu bakal alergi dengan gagasan baru yang datang bukan dari kelompoknya, hingga timbul fanatisme buta.

Aulia Adam mengungkapkan kecemasan Eli Pariser, seorang pemerhati internet, dengan istilah Filter Bubble (gelembung saringan). ”Sebuah dunia yang dibangun dari kesamaan adalah tempat kita tak bisa belajar apa pun,” kata Eli Pariser.

Keterbelahan warganet
Algoritma inilah penyebab keterbelahan warganet dalam dua kutub besar; pro dan kontra, mendukung atau menolak, kita dan mereka, suka dan benci. Sulit mendapatkan varian alternatif dari kedua kutub yang terus berbenturan keras itu. Demikian Algoritma media sosial membentuk cara berpikir kita. Lalu, jutaan orang dalam dua kutub itu dilahap oleh industri periklanan.

Apabila kita masih mengharapkan kemanfaatan luas bagi kebersamaan di dunia virtual, sebagaimana telah dimulai Lee, Ross, dan pencipta piranti lunak berbasis open-source lain, Algoritma berbahaya itu mesti diubah menjadi Algoritma sosial untuk kerja bersama. Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan co-working space (ruang bersama) di Bandung, Jakarta, dan kota-kota lain dua tahun belakangan dapat jadi harapan. Co-working adalah kerja sama anak-anak muda pendiri startup dan pekerja paruh waktu dengan konsep open-space atau transparansi, hingga setiap individu di dalamnya aktif berinteraksi tanpa batasan.

Perjumpaan intens insan-insan kreatif itu memungkinkan mereka membentuk jaringan dalam berkarya demi kemaslahatan banyak orang. Tak disangkal, ada bisnis di dalamnya, tetapi merancang, apalagi memfungsikan sebuah aplikasi digital, tak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan banyak keahlian dan mesti tegak di atas etos kerja sama.

Kebutuhan untuk bergotong royong ini dapat melahirkan Algoritma sosial yang tak berakibat membelah dan membagi. Dengan demikian, gotong royong yang sudah jadi DNA Pancasila sejak lama akan berdenyut di dunia maya.

Damhuri Muhammad Sastrawan; Pengajar Filsafat di Universitas Darma Persada, Jakarta

Sumber: Kompas, 18 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: