Home / Tokoh / Agnes Irwanti: Perjuangan untuk Mengurangi “Digital Gap”

Agnes Irwanti: Perjuangan untuk Mengurangi “Digital Gap”

Sampai sekarang Agnes Irwanti masih terkesan dengan peristiwa yang terjadi sekitar 20 tahun silam. Ketika itu, dia melihat seorang ibu menerima telepon sambil melayani klien bisnisnya. ”Baik, dua ekor ayam kampung. Dikirim ke mana nih?” ujar ibu itu sambil mengempit telepon di antara kepala dan bahunya.

Pada saat yang sama, tangan kirinya menggendong bocah berusia dua tahun. Sementara tangan kanannya menulis alamat sang pemesan ayam. Semua anggota tubuhnya aktif, bergerak serentak, harmonis bagaikan sedang menari.

Peristiwa itu berlangsung saat Agnes masih kuliah di Departemen Teknik Elektro Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (kini Universitas Negeri Yogyakarta). ”Ibu itu tangguh, selain bertanggung jawab pada urusan domestik rumah tangga, dia juga mampu menjalankan bisnis. Perempuan sekarang harus mampu lebih dari itu sebab teknologi informasi dan komunikasi sudah berkembang,” katanya.

Pada peristiwa yang terjadi di warung ayam goreng itu, kata Agnes, sang ibu menjalankan peran multitasking, meloncat melintasi kuadran ruang dan waktu dengan bantuan teknologi telekomunikasi telepon.

Peristiwa itu menginspirasi hidupnya hingga di kemudian hari membuatnya yakin perempuan dapat menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Keyakinan ini mendorong Agnes memelopori pengenalan TIK pada perempuan di daerah.

Dua dekade setelah peristiwa itu, TIK memasuki era konvergensi. Komunikasi bisa dilakukan di mana pun, melalui telepon seluler, video conference, share view, files, bahkan menyunting dokumen bersamaan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan kaum hawa kini? Seharusnya perempuan dapat melakukan lebih banyak hal karena TIK menawarkan beragam kemudahan. Sayangnya, digital gap masih terjadi seiring kemajuan TIK.

”Di kota besar, seperti Jakarta dan sekitarnya, digital gap antara perempuan dan lelaki tak terlalu kelihatan. Namun, di daerah pedalaman dan pedesaan, digital gap sangat tajam,” katanya.

Kaum marjinal

Di banyak daerah, perempuan masih menjadi kaum marjinal dalam hal teknologi. Mereka tak punya akses luas untuk menguasai TIK. Kaum ibu terjebak urusan domestik, mengurus anak dan rumah. Padahal, kemampuan mereka menguasai TIK sama dengan laki-laki.

Menurut Agnes, jika perempuan punya kemampuan menguasai TIK, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi mereka untuk produktif secara ekonomi. Mengingat jumlah perempuan di Indonesia lebih banyak dibandingkan lelaki, secara tak langsung peningkatan kemampuan perempuan dalam TIK pun dapat meningkatkan kesejahteraan nasional.

Berangkat dari kenyataan itu, dia memperjuangkan kemampuan perempuan di daerah tertinggal. Bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Agnes memberikan pelatihan kepada mereka agar produktif.

Pelatihan itu diawali lima tahun lalu dengan memperkenalkan internet, membuat blog, ataupun e-mail kepada pelaku usaha, pegawai negeri sipil, dan ibu rumah tangga. Ia meneruskan pelatihan dengan program digital marketing untuk pengusaha kecil. Kegiatan yang sudah berlangsung di 15 provinsi ini berdampak positif.

”Bagi mereka, hal sederhana ini terasa luar biasa. Sebab, teknologi informasi sering dipahami sebagai bukan wilayah perempuan. Jangankan warga pedalaman, pejabat pemerintah pun sering tak bisa membuat e-mail sendiri,” katanya.

Jadilah perempuan pelaku usaha di wilayah tertinggal dapat menjalin hubungan bisnis dengan orang yang berlokasi jauh dari mereka. Contohnya, petani organik di Sragen, Jawa Tengah. Sebelumnya, mereka kesulitan memasarkan produknya, tetapi kemudian mereka berhasil menjalin hubungan bisnis dengan orang Jepang.

Contoh lainnya, nelayan di Pekalongan, Jawa Tengah. Dengan bantuan teknologi, biaya pemasaran bisa berkurang, produk mereka pun dapat dipasarkan secara global.

Ia juga memimpin tim untuk pelatihan serupa bagi guru-guru di daerah. Ia juga menggelar kegiatan yang mendorong minat mahasiswi menekuni TIK di fakultas teknik sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa.

Agnes bercerita, awal memperkenalkan perangkat keras TIK kepada kaum marjinal bukan hal mudah. Mereka enggan memegang komputer karena takut rusak. Ia mesti memberi pengertian, menggunakan komputer jauh lebih mudah daripada buku tulis atau mesin ketik. Jika ada kesalahan, misalnya, pengguna TIK tak perlu repot mencari penghapus, tinggal delete atau tekan undo. Lewat pengertian yang sederhana pada awal pelatihan, membuat mereka percaya diri dan bersemangat menguasai TIK.

Dampak berlipat

Ia mengibaratkan perempuan yang menguasai teknologi bagaikan penari dodakado, tarian rakyat Alor, Nusa Tenggara Timur. Tarian muda-mudi ini dilakukan sambil berlompatan di antara bambu yang dimainkan. Lompatan-lompatan mereka tak kalah gesit dibandingkan lompatan kaki para pemuda.

Kepeloporan Agnes diakui organisasi profesi insinyur elektroteknik dunia atau Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Atas upayanya mengenalkan TIK kepada perempuan marjinal, ia mendapat penghargaan Most Inspiring Engineer Award, Maret 2012.

”Penghargaan ini bonus dari apa yang telah kami kerjakan lima tahun lalu. Saya tak pernah berpikir akan mendapatkan penghargaan ini,” kata Agnes yang juga blogger kompasiana.

Perjuangannya belum selesai. Dia ingin terus memperkenalkan TIK kepada perempuan di berbagai daerah. Alasannya, pemberdayaan kepada mereka memberikan dampak berlipat. Selain bisa menyejahterakan keluarga, juga dapat menghambat arus urbanisasi orang ke kota besar.

Jakarta, misalnya, didatangi banyak orang karena di Ibu Kota segalanya serba ada. Orang daerah menjadi malas tinggal di kampungnya sendiri sebab di daerah arus informasi berjalan lambat.

Agnes berharap kaum perempuan tidak sekadar menerima pembagian gaji dari sang suami, tetapi juga mampu berkelakuan produktif guna menyokong kesejahteraan keluarga dengan bantuan TIK.

(Andy Riza Hidayat)

Sumber: Kompas, 5 Juni 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: