Home / Artikel / 16 Tahun UNS: Birokrasi dan Apatisme Mahasiswa

16 Tahun UNS: Birokrasi dan Apatisme Mahasiswa

HARI ini, 11 Maret 1992 Universitas Sebelas Maret (UNS) merayakan Dies Natalisnya yang ke-16. Sebagai sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ia bisa dikatakan sebagaI universitas yang relatif muda jika dibandingkan dengan perguruan tinggi (PT) lain seperti UGM.

Maka wajarlah bila dalam usianya yang masih muda ini, UNS mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan. Kendati demikian sebagai sebuah PTN, UNS dituntut untuk lebih bisa memacu perkembangannya baik di bidang peningkatan kualitas akademis, peningkatan pengabdiannya pada masyarakat dan sebagainya.

Usaha untuk mendirikan sebuah PTN di Surakarta ini memang tidaklah mudah, karena dibutuhkan perjuangan dan perjalanan panjang untuk mewujudkannya. Perjuangan untuk mendirikan universitas ini dapat kita lihat dari proses perjuangan yang berliku selama hampir 25 tahun.

Usaha itu dinulai pada tahun 1953. Saat itu dibentuk sebuah panitia yang bertujuan untuk mendirikan sebuah universitas negeri di Surakarta. Panitia in diketuai oleh M Saleh (Walikota Solo waktu itu), dengan anggotanya antara lain Mr Hapsoro, Mr Suwidji dan Mr Sumarno P Wiryanto. Meskipun panitia pendirian universitas ini telah terbentuk, namun akhimya bubar sebelum berhasil menunaikan tugasnya. Kegagalan panitia dikarenakan tak dapat menghadapi berbagai kendala, yaitu tidak adanya sumber dana, baik dari pemerintah pusat atau daerah. Di samping itu ada sementara pihak yang berusaha mendirikan universitas swasta secara sendiri-sendiri.

Namun usaha ke arah itu telah diupayakan. Pada tanggal 11 Maret 1976 berdirilah sebuah universitas negeri di Surakarta yang diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan nama Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret dengan dasar hukum Keppres No 10 Tahun 1976.

Pada awal berdirinya universitas ini merupakan gabungan dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Surakarta sat itu yaitu IKIP Negeri Surakarta STO Negeri Surakarta, AAN Negeri,UGS dan Fakultas Kedokteran PTPN Veteran Cabang Surakarta. Melalui Keppres No. 55 Tahun 1982, nama perguruan tinggi negeri ini diganti menjadi Universitas Sebelas Maret.

DALAM rangka Dies natalisnya yang ke-16 tanggal 7 Maret lalu UNS mengadakan diskusi panel yang dihadiri oleh segenap sivitas akademika. Diskusi antara Iain bertujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan yang telah dicapai UNS juga membahas kelemahan dan kekurangan UNS. Serta bagaimana cara memecahkan problem tersebut.

Dari diskusi itu secara umum harus diakui bahwa UNS masih banyak memiliki kelemahan. Seperti apa yang dikatakan Oleh Muhadjir Darwin kelemahan yang dimaksud, misalnya sedikitnya tenaga pendidik yang berkualitas rendahnya produktivitas dosen dalam pengembangan ilmu dan penelitian serta mutu pendidikan yang diberikan pada mahasiswa, kurang memadainya sarana pendidikan (buku-buku perpustakaan), rendahnya motivasidan kesungguhan belajar di kalangan mahasiswa,sekaligus inovasi dan kreativitas serta rendahnya mutu lulusan. Memang, kelemahan-kelamahan semacam ini tidak hanya dialami oleh UNS, tapi juga beberapa PT di Indonesia.

Satu hal yang hingga kini masih dirasakan sebagai kendala bagi sivitas akademika UNS adalah besarnya campur tangan birokrasi dalam dalam mengatur setiap kegiatan kampus. Keluhan in muncul karena sampai pada hal-hal yang terkecil pun, semuanya serba diatur secara birokratis. Misalnya mengurus proposal dan surat izin kegiatan, mengurus dana OPF, dana kasih, presensi kuliah, her-registrasi, belum lagi masalah kemahasiswaan, penelitian dan sebagainya.

Kecenderungan PTN seperti UNS in memang membutuhkan birokrasi yang besar dan teratur. Oleh karena itu jika birokrasi yang besar itu tidak dikendalikan secara baik sejak awalnya, maka ada kemungkinan akan terjadi ketidakberesan, sesuatu hal yang sebenamya tidak kita inginkan.

Peter M Blau dalam bukunya, The Organization of Academic Work (1973) menegaskan,himpitan birokrasi sangat mengganggu kemerdekaan perguruan tinggi untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian. Ia mengambil contoh dari beberapa universitas di Amerika yang tak bisa menghindarkan diri dari lilitan birokrasi ini.

Jika dibandingkan dengan universitas yang lebih besar jastru universitas yang kecil lebih banyak mempraktekkan cara-cara yang birokratis. Birokrasi universitas di Amerika justru lebih banyak diciptakan oleh kampus itu sendiri, dan bukannya banyak diintervensi oleh birokrasi pemerintah.

Dengan demikian jika ada birokrasi di perguruan tinggi hal itu lebih disebabkan oleh perilaku pejabat struktural yang mengendalikan PT yang memang telah memiliki otonomi. Akibatnya aturan birokrasi yang diciptakan sendiri, karena otonomi pengelolaan yang dimilikinya, akan menjerat aktivitas akademis di kampus sendiri. Tindakan birokratis ini secara langsung dapat mempengaruhi atau bahkan menghambat pengembangan pendidikan dari penelitian di universitas.

Oleh karena itu perlu dipikirkan sedini mungkin, bagaimana cara-cara untuk menanggulangi kendala yang bersifat birokratis ini. Lebih-Iebih bagi universitas muda seperti UNS yang juga akan diberi otonomi untuk mengatur dirinya sendiri. Sudah selayaknyalah UNS sebagai PTN dituntut untuk berkembang mendekati “standar” universitas yang maju seperti UGM, ITB atau UI.

SELAIN beberapa kekurangan yang disebut di atas tampaknya aktivitas lembaga kemahasiswaan di UNS sendiri juga cenderung banyak menghadapi kendala. Hal tersebut terlihat pada makin kuatnya pengaruh dan campur tangan pejabat struktural kampus dalam organisasi kemahasiswaan seperti HMJ, Senat Mahasiswa (SM) dan UKM. Kebanyakan aktivitas yang dilakukan SM masih bersifat monoton dan tidak menyentuh persoalan yang ada di masyarakat. Banyak aktivitas kemahasiswaan yang hanya mampu menarik minat mahasiswa dalam jumlah yang kecil. Di samping itu sering tumbuh sikap apatisme dan ketidakpedulian terhadap aktivitas lembaga mahasiswa semacam senat. Salah satu alasan ironis yang mereka kemukakan adalah, bahwa studi dan indeks prestasi, menurut asumsi mereka lebih penting daripada menyibukkan diri dalam organisasi kemahaswwaan.

Apatisme dan kendakpedulian mahasiswa ini dapat dilihat saat isu SMPT dilontarkan. Berbagai PT telah menanggapinya dengan gegap gempita ada yang pro dan ada yang kontra. Tapi, apa yang terjadi dengan, SM di UNS? Mereka seolah diam seribu bahasa, acuh tak acuh. Untuk itu, wajarlah bila kita mempertanyakan bagaimana keberadaannya, dan kegiatan apa yang telah mampu dilakukan?

Dari beberapa uraian di atas bisa kita pahami, betapa marginalnya fungsi dan peranan lembaga kemahasiswaan. Dampak yang hingga kini dapat dirasakan adalah, bahwa mahasiswa benar-benar tak bisa berkutik lagi untuk mencari peluang atau melakukan improvisasi berupa kegiatan yang bisa memancing kreativitas di luar yang telah diatur dan digariskan pimpinan kampus. Kalaupun ada, masih merupakan hal yang sangat Iangka.

Sebagai dampak yang lebih jauh dari birokratisasi dan depolitisasi kampus adalah –sebagaimana diuraikan di atas— mahasiswa semakin apatis dan tak mampu peduli terhadap aktivitas lembaga kemahasiswaan dan mereka lebih menganggap bahwa kegiatan lembaga mahasiswa ini akan menghambat kelancaran studinya.

Tumbuhnya sikap mahasiswa semacam ini , merupakan hal yang sangat ironis mengingat bahwa mahasiswa sebenarnya harus mampu berperan sebagai agent of change. Kenyataan in merupakan hasil optimal dari rekayasa PT yang terlalu mengutamakan stabilitas kampus.Sterilisasi kampus dari pengaruh-pengaruh luar dapat berhasil, karena kampus memang teIah menjadi satu-satunya masyarakat ilmiah yang harus terhindar dari kepentingan politik. Mestinya, UNS sudah selayaknya memiliki tanggung jawab yang sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diembannya. PT tidak seharusnya menjadi menara gading. Artinya PT dituntut untuk memiliki komitmen terhadap permasalahan yang timbul dalam masyarakat. Dalam GBHN pun telah ditegaskan PT diarahkan untuk mendidik mahasiswa agar mampu meningkatkan daya penalaran menguasai iptek berjwa penuh pengabdian dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara

Dalam era globalisasi sekarang, penguasaan bidang iptek memang sangat dibutuhkan. Tapi hanya dengan berbekal iptek saja, tanpa mempunyai landasan moralitas dan humanitas yang kuat, lulusan PT belum tentu mampu memecahkan persoalan yang akan dihadapinya dalam kehidupan nyata.

Namun demikian dari beberapa kelemahan dan kekurangan yang ada pada universitas yang masih muda ini, kita jangan lantas mandeg. Bagi segenap sivitas akademika jadikanlah kelemahan dan kekurangan universitas ini sebagai bahan introspeksi dan refleksi yang mendalam, serta sekaligus sebagai pemicu semangat untuk berkembang dan maju. Viva UNS.

Kristiyamo Martono, aktivis Lembaga Pers Mahasiswa UNS, Solo

Sumber: Hariab Bernas, 11 Maret 1992

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peringkat ”e-Government” Indonesia

Menurut PBB, sejak 2018 secara global terjadi peningkatan rata-rata skor e-government pada 193 negara anggota ...

%d blogger menyukai ini: