Publikasi Riset dan Inovasi Tumbuh Pesat

- Editor

Kamis, 9 November 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah publikasi internasional yang dihasilkan perguruan tinggi di Indonesia meningkat signifikan. Pemerintah terus mendorong terbitnya publikasi internasional dan inovasi dengan meningkatkan anggaran riset.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, saat menghadiri Dies Natalis Ke-57 Universitas Sriwijaya, Selasa (7/11), di Palembang, mengatakan, saat ini jumlah publikasi internasional yang dihasilkan perguruan tinggi di Indonesia 13.893 publikasi, jauh lebih banyak dibandingkan dengan 2014 yang hanya 4.200 publikasi. Aspek inovasi pun mencapai 661 inovasi, meningkat pesat daripada jumlah inovasi 2014 yang hanya 15 inovasi.

Meski demikian, publikasi yang dihasilkan masih di bawah sejumlah negara lain, seperti Malaysia dan Singapura. Pada 2015, jumlah publikasi internasional yang dihasilkan akademisi di Singapura 18.000 publikasi dan Malaysia mencapai 26.000 publikasi. Karena itu, para akademisi Indonesia dituntut meningkatkan risetnya guna memacu daya saing internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anggaran riset
Nasir menambahkan, peningkatan inovasi dan publikasi ini disebabkan sejumlah hal, mulai kenaikan anggaran riset hingga peran aktif universitas. Dari segi anggaran, pada 2017, Kemristek dan Dikti mengalokasikan dana riset Rp 2,3 triliun, naik dibandingkan 2016 sebesar Rp 1,7 triliun. Itu disebabkan peran aktif sejumlah universitas menyediakan dana riset bagi penelitinya, tahun ini Rp 600 miliar.

Dana itu diharapkan menghasilkan inovasi bermanfaat. Tak sekadar riset yang disimpan di perpustakaan, tetapi berlanjut untuk kepentingan ekonomi bagi masyarakat dan komersialisasi bagi para investor.

Sejumlah bidang yang diprioritaskan untuk dikembangkan menjadi inovasi ialah bidang pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, teknologi informasi, serta komunikasi. Bidang lain adalah transportasi, teknologi manufaktur, teknologi pertahanan, dan energi.

Agar jumlah inovasi bisa meningkat, pihaknya mengolaborasikan para investor dengan akademisi. Dalam banyak kasus, kemandekan inovasi disebabkan keterbatasan dana para inovator saat memulai usahanya. “Inilah pentingnya kolaborasi inovator dan investor,” ucapnya.

Rektor Universitas Sriwijaya Anis Saggaff menambahkan, pihaknya memacu para dosen atau guru besar untuk menghasilkan publikasi, baik riset maupun inovasi. Ada tunjangan khusus bagi mereka untuk berinovasi. Itu membuat publikasi di Universitas Sriwijaya di posisi kelima universitas dengan publikasi terbanyak di Indonesia. (RAM)

Sumber: Kompas, 8 November 2017

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB