Home » Artikel

Skripsi: Apa Itu dan Buat Apa? (1)

9 April 1996 1,463 views One Comment

DI sekitar berbagai kampus tampak menjamur usaha pengetikan dan penjilidan skripsi seperti misalnya di Gejayan – Yogyakarta yang letaknya di kabupaten yang terpadat jumlah perguruan tingginya per km persegi luas lahan. Di kalangan awam pasti muncul pertanyaan apa sebenarnya skripsi itu dan buat apa mahasiswa harus membuat skripsi terlebih dahulu sebelum diluluskan sebagai sarjana oleh perguruan tingginya.

Tanpa menyadari apa perlunya dan tujuannya sesungguhnya, skripsi telah diterima sebagai syarat kelulusan program sarjana di berbagai universitas di Indonesia. Mereka mencontoh dua perguruan tinggi tertua di Indonesia Universiteit Gadjah Mada dan Universiteit Indonesia yang kemudian berkat kejeniusan Mahaputra Muhammad Yamin dinamakan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Di luar pertentangan pengindonesiaan nama universiteit, dalam banyak hal termasuk dalam hal pembuatan skripsi sebagai syarat mutlak kelulusan seorang sarjana, kedua universitas ini sangat bersepakat.

Kesepakatan itu disebabkan karena hal itu juga adalah syarat kelulusan bagi para doktorandus lulusan perguruan tinggi di negeri Belanda. Kebiasaan yang diambil-alih oleh kedua perguruan tinggi tertua ini akhirnya menjalar menjadi kelaziman di seluruh Indonesia. Oleh karena itu mahasiswa tingkat doktoral dalam bidang ilmu-ilmu pertanian dari Yogya selalu mengadakan studi kepustakaan di Pusat Perpustakaan Ilmu-ilmu Pertanian dan Biologi serta lembaga-lembaga penelitian pertanian yang bertapak di Bogor. Mahasiswa Fakultas Pertanian dari Bogor pun melewatkan sebagian besar waktunya untuk mengadakan telaah pustaka di Bibliotheca Bogoriensis dan perpustakaan lembaga-lembaga penelitian lainnya karena perpustakaan fakultas tidak lengkap koleksi jurnal ilmiahnya. Sekarang muncul pendapat bahwa untuk persyaratan lulus sebagai sarjana, skripsi itu tidak diperlukan lagi. Cukup diadakan kerja magang saja di luar, karena lulusan S-1 zaman sekarang tidak dikhususkan untuk menjadi peneliti sehingga tidak memerlukan pengalaman memecahkan masalah melalui penulisan karya penelitian. Tulisan ini mencoba menelaah dalam keadaan apa hal itu dapat dibenarkan dan kapan kita harus berhati-hati.

Saringan
Dalam awal dasawarsa limapuluhan lulusan SMA dapat diterima langsung di Fakultas Pertanian (FP) dengan menunjukkan ijazah negeri SMA-B yang dimilikinya. Setelah diterima ia harus mengikuti kuliah di tingkat Propaedeuse I (P-1) dan Propaedeuse II (P-2). Tingkat tiga dan tingkat empat dijalaninya sebagai mahasiswa Candidaat I (C-1) dan Candidaat II (C-2). Setelah lulus dari C-2 ia menjadi mahasiswa tingkat Ingenieur. Tingkatan ini secara resmi berlangsung selama satu setengah tahun, berupa satu semester kerja praktek dan satu tahun mengikuti kuliah sambil menyusun skripsi.

Mahasiswa baru mengikuti program persiapan P-1 dan P-2 yang sangat bersaing. Dari setiap sembilan sampai sepuluh mahasiswa baru hanya ada seorang yang akan berhasil lolos dari saringan ketat tingkat P-1 dan P-2. Setelah duduk di tingkat tiga seorang mahasiswa secara praktis sudah menjadi insinyur karena lolosnya dari saringan di P-1 dan P-2 itu dengan sendirinya juga memberinya latar belakang yang cukup untuk memahami kuliah-kuliah di tingkat tiga ke atas. Untuk menjadi sarjana hanya soal waktu saja.

Bahwa semua lulusan SMA-B dapat diterima di Fakultas Pertanian Bogor berarti yang lulus dari SMA-B itu sudah tersaring dengan ketat. Kalau tidak demikian akan terlalu banyak yang mendaftar dan mengingat akan keterbatasan tempat, pasti harus diadakan ujian saringan. Kemudian dari mahasiswa baru yang sudah tersaring di SMA-B ini di tingkat P-1 dan P-2 diadakan saringan lagi. Yang lolos hanya sepersembilan bagian atau satu dari sembilan orang. Persamaan antara mahasiswa yang mampu lulus dari tingkat P-1 dengan cepat ialah bahwa mereka tidak mengandalkan belajar dari kuliah-kuliah para gurubesar.

Bahan kuliah hanya merupakan panduan belajar. Untuk dapat lulus dengan baik secara langsung dari ujian lisan Botani mahasiswa harus mempelajari tiga buku-ajar, yaitu buku Lehrbuch der Botanik-nya Strassburger, Introduction to Plant Anatomy-nya Eames dan Mc Daniels, serta buku berjudul sama karangan Katharine Esau dari Oregon. Demikian pula untuk ujian lisan matakuliah lainnya perlu dipelajari buku-ajar yang telah ditetapkan.

Buku-ajar terjangkau
Setiap mahasiswa dapat membeli misalnya buku-ajar Kimia Organik Fieser dan Fieser karena harganya hanya Rp 80, sedangkan beasiswa besarnya Rp 240, dan honorarium asisten mahasiswa Rp 75 untuk pebeasiswa dan Rp 125 untuk mahasiswa bebas. Dengan demikian bukan alasan bagi mahasiswa untuk tidak mempelajari buku-ajar. Demikianlah dengan mempelajari buku Stassburger dapat disimpulkan bahwa dalam mempelajari morfologi tumbuhan, satuan penyusun pengetahuannya ialah pengertian sel, yang setelah didefinisikan unsur-unsurnya dijadikan pengertian primitif untuk mendefinisikan organ dan bagian tumbuhan lainnya.

Kalau misalnya Boedijn menanyakan apa yang dimaksud dengan ascus, jawabannya ialah bahwa ascus itu adalah suatu sel khusus fungi yang di dalamnya terdapat empat spora yang tugasnya untuk mengecambah menjadi miselium baru. Kalau ia menanyakan lagi apa miselium itu, jawabannya juga harus didefinisikan atas dasar sel sebagai satuan pengetahuan primitif. Banyak mahasiswa yang disuruh keluar dalam waktu tidak lebih dari satu menit karena mencoba menjawab bahwa ascus itu adalah seperti apa yang dicoba digambarkannya di atas kertas.

Boedijn akan menjadi berang dan mengatakan bahwa itu bukan ascus melainkan hanya goresan pinsil di atas kertas. Namun ada pula mahasiswa yang dipersilakan keluar dari ruang kerjanya setelah ujian berlangsung hanya beberapa menit sambil dijabat tangannya oleh Boedijn. Mahasiswa seperti ini dianggapnya telah memahami pelajaran Morfologi Tumbuhan dengan baik sehingga tidak perlu ditahan lebih lama lagi untuk diwawancarai.

Kuliah dari ilmuwan aktif
Mahasiswa yang naik ke tingkat C-1 dan C-2 dengan bekal ilmu-ilmu dasar fisika, kimia, biologi, dan matematika yang cukup kuat itu mulai mempelajari bidang ilmu yang sifatnya lebih profesional. Matakuliah-matakuliah utama dalam bidang profesi sarjana pertanian ialah ilmu bercocoktanam, ilmu tanah, sosiologi pedesaan dan ekonomi pertanian.

Ilmu bercocoktanam umum diberikan Prof Hille Ris Lambers yang veteran peneliti kopi dari Jember. Gurubesar ini sepanjang tahun bercerita mengenai kopi walau kuliah resminya ialah bercocoktanam umum. Namun pada akhir tahun semua mahasiswanya yang dapat menangkap inti isi kuliahnya akan tahu apa yang harus dihadapinya dalam menangani bercocoktanam tanaman apa saja, karena prinsip-prinsip penanganan bercocoktanam sama saja, apakah pada kopi ataukah pada padi. Walaupun ia tidak secara eksplisit memberi kuliah dalam filsafat sains, Hille Ris Lambers berhasil menyampaikan pesan kepada mahasiswanya bahwa inti sains itu adalah perumusan atau generalisasi.

Gurubesar ilmu tanah tidak kalah menariknya. Profesor Jan van Schuylenborgh memberi kuliah dalam fisika tanah, genesis tanah, dan kesuburan tanah. Sejak ia memulai tugasnya sebagai gurubesar di Bogor ia tahu bahwa ia tak akan selamanya menetap di Fakultas Pertanian. Untuk fisika dan genesis tanah ia telah mengangkat seorang asisten ahli, yaitu Ir Tan Kim Hong, sedangkan untuk kimia dan kesuburan tanah ia telah mengangkat Ir Go Ban Hong. Kedua asistennya ini diberinya tugas memilih asisten-asisten tambahan. Go Ban Hong memilih Kang Biauw Tjwan sebagai asistennya sedangkan Tan Kiam Hong memilih saya.

Schuylenborgh mempersiapkan Go Ban Hong dan Tan Kim Hong untuk menulis disertasi. Disertasi Go Ban Hong pada saat itu menimbulkan penolakan dari hampir semua kalangan bercocoktanam padi, namun menjadi kenyataan pada tahun 1965 sewaktu padi ajaib IR-5 dan IR-8 masuk ke Indonesia. Demikian pula Tan Kim Hong membuat disertasi yang kemudian berkembang dan membantu menolak pendapat bahwa genesis dan klasifikasi tanah di Indonesia itu lain dari apa yang diketahui untuk mintakad iklim sedang.

Sambil mengawasi disertasi Tan Kim Hong itu isi kuliah Schuylenborgh mengenai genesis dan klasifikasi tanah mulai bertentangan dengan buku-ajar yang dianjurkan olehnya. Tetapi hal itu terjadi bukan karena ia salah melainkan karena buku-ajar itu sudah menjadi kadaluwarsa akibat temuan langsung Tan Kim Hong dan Schuylenborgh dalam penelitian lapangan.

Alat untuk menemukan pertanyaan
Sebagai mahasiswa tingkat Insinyur saya harus menulis skripsi sebagai persyaratan akhir menjadi insinyur pertanian. Ada empat skripsi yang harus saya tulis, yaitu dalam kesuburan tanah, bercocoktanaman karet, statistika, dan pemuliaan tanaman. Dan skripsi yang belakangan itu adalah untuk memenuhi persyaratan matakuliah pilihan. Yang paling berkesan bagi saya adalah skripsi saya dalam ilmu tanah yang juga adalah skripsi pertama saya. Sesudah menyusun satu skripsi, skripsi lain hanya menjadi pekerjaan rutin.

Selain mengesankan karena adalah skripsi yang pertama saya buat, skripsi ilmu tanah itu juga membuka mata saya akan permasalahan kesuburan yang sangat menarik dalam bercocoktanam padi. Judul skripsi kesuburan tanah yang ditugasi Schuylenborgh kepada saya ialah Nitrogen Fixation in Tropical Soils yang saya tulis dalam bahasa Belanda sedangkan praktikum di laboratorium yang harus saya kerjakan ialah mengenai penggunaan polarografi yang diciptakan Jaroslav Heyrovsky sebagai cara menentukan kadar unsur-unsur Zn, Mo, dan Mn di dalam larutan abu bahan organik. Mula-mula saya sangka kedua tugas itu tidak ada hubungannya. Belakangan saya sadari bahwa polarograf itu dapat menjadi alat untuk memeriksa hambatan-hambatan fiksasi nitrogen yang dapat terjadi di tanah sawah karena kurangnya unsur-unsur mikro yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Skripsi yang harus saya buat itu sama sekali tidak ada komponen percobaannya. Skripsi itu benar-benar merupakan tulisan seperti makna harafiah script yang isinya meliputi tinjauan kepustakaan mutakhir yang ada tentang proses pengikatan nitrogen oleh jasad renik di tanah sawah. Pada tahun 1957 itu Schuylenborgh agaknya sudah punya intuisi bahwa pada suatu ketika kita harus menghemat penggunaan pupuk buatan baik di lahan kering maupun di lahan sawah. Hal itu mungkin pula dibantu oleh temuan Go Ban Hong di dalam disertasinya. Untuk mengangkat semua permaasalahan ke permukaan, ditugasinya saya menulis skripsi itu karena di dalam angan-angannya juga sudah ada bayangan bahwa di jurusan Tanah Fakultas Perta-nian Bogor harus dikembangkan juga kelompok minat mikrobiologi tanah.

Untuk dapat menulis skripsi itu saya membongkar semua makalah yang berkenaan dengan fiksasi nitrogen di dalam tanah dari majalah ilmu-ilmu pertanian Indonesia, Belanda, Inggris, Trinidad, Jerman, Amerika Serikat, dan Belgia, yang ada di Bogor. Selain ada di perpustakaan Fakultas Pertanian, sebagian besar jurnal ini ada di Bibliotheca Bogoriensis. Tetapi dari katalog induk Bibliotheca ini juga saya temukan bahwa saya harus merujuk jurnal-jurnal Bakteriologi yang ada di Balai Penelitian Penyakit Hewan. Maka akhirnya jadilah skripsi saya itu dan saya serahkan kepada van Schuylenborgh dengan cemas-cemas harap karena tebalnya hanya kira-kira 35 lembar folio. Tidak saya sangka esok harinya saya dipanggil dan dinyatakan lulus tanpa harus menempuh tanya-jawab lisan. Rupanya yang dinilai dari skripsi saya bukan tebalnya halaman melainkan isinya, apakah sudah memberikan gambaran apakah saya mengerti pertanyaan penelitian apa yang ada ka-lau pada suatu ketika saya harus menulis disertasi mengenai fik-sasi nitrogen pada tanah sawah. Setelah saya dinyatakan lulus ini saya cari skripsi Go Ban Hong di perpusatakaan. Ternya-ta tebal skripsinya cuma 11 halaman termasuk daftar kepustakaan. Hanya saja daftar kepustakaanhya ini meliputi tidak kurang dari 100 judul yang semuanya terangkum dalam pembahasan skripsinya.

Dari asisten-asisten van Schuylenborgh itu, dua orang menerima gelar doktor ilmu-ilmu pertanian di bawah asuhannya, yaitu Dr Go Ban Hong dan Dr Tan Kim Hong. Dr Tan Kim Hong akhirnya menjadi Gurubesar Agronomi di Universitas Georgia dengan ijazah tertinggi berlambangkan Universitas Indonesia. Beliau juga kemudian dianggap sebagai ahli mengenai Andosol yang adalah juga akibat tak langsung pekerjaan disertasinya. Sesudah itu juga beliau berkali-kali mendapat penghargaan sebagai guru yang mempesonakan pada taraf nasional di Amerika Serikat. Pada usia pensiun ini beliau sekarang menjadi gurubesar tamu di Universitas Andalas. Rektor Universitas Andalas adalah turunan akademik beliau. Dr Kang Biauw Tjwan tidak sempat menjadi doktor binaan van Schuylenborgh yang harus pulang pada tahun 1958. Di Purdue University ia menyelesaikan pendidikan Ph.D-nya dalam dua tahun dan kembali ke Bogor tahun 1961. Ialah alumnus IPB pemegang rekor waktu belajar terpendek untuk mendapat gelar Ph.D sampai saat ini. Sekarang beliau menjadi ilmuwan internasional di International Institute of Tropical Agriculture di Ibadan. Di sana beliau men-dapatkan penghargaan Agha Khan serta kemudian juga penghargaan dari International Society of Soil Science.

* Andi Hakim Nasoetion, Guru Besar pada jurusan Statistika FMIPA Institut Pertanian Bogor.

tulisan diambil dari Kompas, Selasa, 09 April 1996
Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Share

One Comment »

  • chairul daniel said:

    Tugas akhir atau skripsi itu kelihatan keren,bukan? Apakah dengan skripsi tersebut sudah dapat dipastikan mahasiswa tersebut dapat dipastikan berguna dalam jenjang keilmuaannya nanti dalam berkarya.Demikian sering terpikir dalam benak saya sebagai orang bodoh dan tidak mengerti ini. Menurut hemat saya kalau mahasiswa itu jurusan farmasi maka jenjang ilmu dalam obat obatan , bagaimana cara bekerja membuat obat lebih penting daripada karya tulis.Mungkinkan semua orang itu pandai dalam menulis dan berkomunikasi?Kalau mahasiswa itu jurusan design yang ditekankan apakah mahasiswa itu menekuni pekerjaan mendesign, bukan karya tulis membuat design gimana gimana karena tidak semua orang bisa menyatakan dalam bentuk kata kata bagaimana caranya mendesign suatu objek, bukan? Menurut hemat saya yang bodoh ini spesialisasi dalam bidang keilmuaannya lebih penting daripada skripsi yang nota bene dalam pelaksanaannya amat sulit dan berliku liku.Mungkin inilah yang dialami oleh mahasiswa tingkat akhir?Tak usah saya sebutkan namanya , sedih.Menurut saya yang bodoh ini karya tulis menulis itu bagus,tapi tidak semua orang yang berbakat menuangkan dalam bentuk karya tulis.Mungkin anak itu pintar,cerdik berpikir tapi dalam berkomunikasi alias kuper atau kurang pergaulan maka akibatnnya ya susah menuangkan dalam bentuk skripsi, kalau begini gimana dosen pembimbing?

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.