Home / Berita / Zealandia dan Riwayat Bumi yang Dinamis

Zealandia dan Riwayat Bumi yang Dinamis

Misteri adanya manusia dan Bumi yang dihuninya terus menggelitik pemikiran ilmuwan berbagai bidang. Mereka kini meyakini bahwa terdapat benua kedelapan di planet ini yang disebut Zealandia melalui penelitian sejumlah ilmuwan yang berakhir pengujung September lalu.

Benua Zealandia tersebut saat ini dalam keadaan tenggelam di Samudra Pasifik. Kontinen tersebut berada dalam satu bentangan daratan dengan Selandia Baru dan Kaledonia Baru saat ini.

Zealandia selama ini jarang menjadi obyek penelitian karena bagian benua ini yang tenggelam berada di kedalaman lebih dari 1 kilometer di bawah permukaan laut.

Sejumlah 32 peneliti dari 12 negara pada akhir September lalu kembali dari lapangan setelah 9 minggu melakukan penelitian di beberapa lokasi yang diyakini merupakan bagian dari Zealandia.

Penelitian yang berakhir pada September lalu merupakan penelitian besar yang pertama kali dilakukan terhadap wilayah tersebut. Penelitian itu dilakukan International Ocean Discovery Program (IODP) di Texas A&M University, AS, dengan menggunakan kapal penelitian JOIDES Resolution.

Peneliti mengebor hingga kedalaman 2.500 meter di bawah permukaan laut untuk mengungkap riwayat 70 juta tahun benua yang tenggelam ini.

Nama Zealandia sendiri pertama kali diperkenalkan geofisikawan Bruce Peter Luyendyk dari University of California, Santa Barbara, AS, tahun 1995. Sejak itu, sebutan Zealandia umum digunakan untuk menyebut bagian barat daya Samudra Pasifik.

Pendapat soal bukti keberadaan benua kedelapan tersebut muncul dalam laporan yang dituliskan di jurnal GSA Today, jurnal ilmiah terbitan The Geological Society of America, edisi Maret-April 2017. Laporan tersebut berjudul “Zealandia: Earth’s Hidden Continent”.

Dalam tulisan tersebut diperjelas bahwa Selandia Baru dan Kaledonia Baru terpisah dari Benua Australia. Selandia Baru dan Kaledonia Baru merupakan puncak-puncak dari bentangan kerak benua (continental crust) seluas 4,9 juta kilometer (km) persegi.

Bentangan itu terlalu besar untuk sebuah kepingan benua kecil (mikrokontinen) atau pecahan benua. Kesatuan bentangan itu, menurut laporan yang ditulis Nick Mortimer, Hamish J Campbell, dan kawan-kawan ini, adalah sebuah benua. Benua baru ini adalah yang terkecil dibandingkan tujuh benua yang telah kita kenal: Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartika, dan Australia.

Mortimer menyadari pentingnya keberlanjutan penelitian soal Zealandia karena temuan di sana akan memengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan lain secara luas.

Mortimer menyebut Zealandia sebagai benua karena memenuhi empat kriteria. Pertama adalah ketinggian bentangan Zealandia yang rata-rata di atas kerak dasar samudra. Batas- batas wilayah samudra di Selandia Baru dan sekitar Kaledonia Baru telah diteliti selama lebih dari satu abad, jadi kerak samudra di wilayah itu telah dikenal.

Kriteria kedua terkait dengan kondisi geologi, yakni usia batuan pada kerak benua. Lapisan kerak bumi dan samudra mulai terbentuk berbeda pada era Archaean (sekitar 3,8 juta tahun-2,5 juta tahun lalu). Batuan yang ditemukan di Zealandia terbukti berasal dari era tersebut sehingga bisa dikatakan Zealandia adalah kerak benua.

Kriteria ketiga adalah dari ketebalan lapisan kerak bumi. Ketebalan kerak benua diketahui bervariasi 30 km-46 km. Sementara ketebalan kerak samudra (oceanic crust) hanya 7km-10 km.

Penentuan lapisan mana yang merupakan kerak bumi atau bukan dilakukan dengan mengukur kecepatan gelombang seismik dalam lapisan batuan yang diteliti. Ditemukan bahwa ketebalan Zealandia 10 km-30 km, bahkan mencapai lebih dari 40 km di bawah Pulau Selatan Selandia Baru.

Kriteria berikutnya adalah menyangkut keluasan wilayah dan batas-batasnya. Dengan luas bentangan lebih dari 1 kilometer persegi dan memiliki batas geologi dan geografi yang jelas, maka Zealandia, menurut Mortimer dkk, cukup luas untuk disebut sebagai benua.

Bagian Gondwana
Zealandia juga disebutkan sebagai bagian dari superbenua Gondwana. Gondwana adalah pecahan dari benua purba Pangaea yang kemudian terbelah menjadi Laurasia di sebelah utara dan Gondwanaland (Gondwana) di sebelah selatan.

Pada sekitar 300 juta tahun lalu, Pangaea adalah satu satunya daratan dan satu-satunya lautan yang ada pada waktu itu adalah Panthalassa. Teori Lempeng Benua menyebutkan bahwa Pangaea terbelah karena dia terapung di atas mantel yang lebih lembek dibandingkan dengan lapisan kerak bumi. Terjadi konveksi. Material yang lebih panas di dekat inti bumi naik ke permukaan dan lapisan mantel yang lebih dingin turun.

Konveksi tersebut mengakibatkan ada sebagian dari kerak bumi yang terdorong dan ada yang terpisah. Bagian yang terpisah ini membentuk punggungan tengah samudra (mid-ocean ridges) yang berupa deretan pegunungan di laut tempat kerak baru terbentuk, yang merupakan tempat keluarnya aliran konveksi dari mantel.

Bukti fosil
Menurut salah satu pemimpin riset, Gerald Dickens dari Rice University di Houston, Texas, ada beberapa penemuan fosil yang menarik dan penting yang bisa membuktikan bahwa Zealandia tak selalu berada di bawah permukaan laut seperti saat ini.

Dia mengatakan, “Lebih dari 8.000 spesimen kami teliti, dan teridentifikasi beberapa ratus spesies fosil. Penemuan cangkang mikroskopis dari organisme yang hidup di laut dangkal yang hangat, juga ada spora dan pollen dari tumbuhan darat, menyingkap fakta bahwa kondisi geografi dan iklim Zealandia di masa lalu amat dramatis perbedaannya.”

Rupert Sutherland dari Victoria University, Wellington, Selandia Baru, mengatakan, Zealandia tenggelam saat terpisah dari Australia dan Antartika sekitar 80 juta tahun lalu.

“Perubahan-perubahan besar geografis di Zealandia bagian utara memberi jawaban akan pertanyaan seperti bagaimana tanaman dan bintang menyebar dan berevolusi di Pasifik Selatan. Temuan daratan di masa lalu dan lautan dangkal menjadi penjelasan soal itu. Ada jalur untuk hewan dan tanaman untuk berpindah (di masa lalu),” ujar Sutherland.

Zealandia temuan yang berawal dari penelitian lima dekade lalu menandai bahwa sejarah alam dan manusia selalu dinamis. Kita diingatkan untuk terus terbuka pada temuan-temuan terkait dengan keberadaan Bumi, terkait dengan keberadaan manusia. Semoga nalar kita mampu menjangkau dan budi kita mampu menerima.

BRIGITTA ISWORO LAKSMI 9 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: