Waspada Sesar Darat di Perkotaan

- Editor

Jumat, 22 Juni 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa tektonik berkekuatan M 6,1 yang mengguncang Kota Osaka, Jepang pada Senin (18/6/2018) menjadi peringatan bagi negara lain, termasuk Indonesia, tentang bahaya jalur patahan di darat. Gempa kali ini menyebabkan empat orang tewas dan 370 orang terluka.?

Kekuatan gempa ini setara dengan gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 yang menewaskan 6.000 orang dan menyebabkan 30.000 orang terluka.

“Jika gempa di Osaka ini terjadi di Indonesia, potensi korbannya bisa sebesar di Yogyakarta. Sebagai perbandingkan, bangunan di Jepang rata-rata sudah memenuhi kaidah tahan gempa sehingga jumlah korban relatif kecil,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono, di Jakarta, Selasa (19/6).?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika gempa di Osaka ini terjadi di Indonesia, potensi korbannya bisa sebesar di Yogyakarta.

Pusat gempa di kawasan Takatsuki, Osaka bagian utara ini tergolong dangkal, yaitu di kedalaman 13 kilometer (km). Sementara itu, pusat gempa di Yogyakarta pada 2006 di kedalaman 33 km. ?Episenter gempa ini terletak pada koordinat 34,833 Lintang Selatan dan 135,612 Bujur Timur di kawasan Takatsuki Osaka Utara pada kedalaman hiposenter 13 km.

USGS–Lokasi pusat gempa tektonik berkekuatan M 6,1 yang mengguncang Kota Osaka, Jepang pada Senin (18/6/2018). Dalam versi USGS kekuatan gempa disebut M 5,5.

?Menurut Daryono, guncangan gempa Osaka dirasakan sangat kuat mencapai skala 6 (Japanese Seismic Intensity Scale), merupakan gempa terkuat yang dirasakan di kawasan ini sejak 1923. Gempa ini dilaporkan membuat listrik padam, merusak jalur pipa air bersih dan gas di Prefektur Osaka. Beberapa bangunan rusak sedang hingga berat. Setidaknya 4 orang tewas dan 370 orang lainnya menderita luka-luka.?

Daryono menambahkan, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini dipicu aktivitas sesar aktif di darat. Secara tektonik kawasan ini dilalui beberapa jalur sesar aktif yang dapat memicu gempa dangkal, seperti jalur Sesar Uemachi (Uemachi fault belt), Sesar Arima Takatsuki (Arima Takatsuki fault belt), dan Sesar Ikoma (Ikoma fault belt).

?”Terkait gempa merusak di Osaka Utara ini, harus menjadi pelajaran penting bagi kita mengingat di wilayah Indonesia banyak kota besar yang letaknya berdekatan bahkan dilewati jalur sesar aktif,” kata Daryono.?

Terkait gempa merusak di Osaka Utara ini, harus menjadi pelajaran penting bagi kita mengingat di wilayah Indonesia banyak kota besar yang letaknya berdekatan bahkan dilewati jalur sesar aktif.

Menurut Daryono, di Pulau Jawa banyak sesar aktif berdekatan dengan kota besar, seperti jalur sesar Lembang di dekat Kota Bandung, sesar Cimandiri yang melintas dekat Kota Sukabumi, Sesar Opak di dekat Kota Yogyakarta, sesar Semarang di dekat Kota Semarang, juga sesar Kendeng yang jalurnya dekat Kota Surabaya.?

Sedangkan di luar Jawa kita juga dapat kita jumpai jalur sesar berdekatan dengan kota besar, seperti Sesar Palu-Koro yang membelah Kota Palu, sesar Sorong yang melintas Kota Sorong, sesar Gorontalo, serta berbagai sesar aktif lain.

Adaptasi
?Peneliti gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung Rahma Hanifa mengatakan, sampai saat ini sesar yang menjadi sumber gempa Osaka masih dicari. Ini menjadi peringatan agar pemahaman tentang kondisi tektonik harus terus digali, diteliti, dan diidentifikasi.

?Selain itu, pentingnya mengembangkan kesadaran terhadap risiko dan membangun budaya untuk beradaptasi dengan gempa bumi. “Upaya pengurangan risiko bencana gempa dapat dilakukan dan terbukti mampu meminimalkan korban dan kerusakan,” kata dia.

Menurut Rahma, upaya ini dapat dilakukan melalui konstruksi bangunan yang baik dan tahan gempa, edukasi dalam kesiapsiagaan dan merespon gempa, serta kebijakan yang selalu diupdate berdasarkan evaluasi kejadian terkini.–AHMAD ARIF

Sumber: kompas, 21 Juni 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru