Home / Berita / arkeologi-antropologi / Warga Punan Berkomunikasi dengan Ranting Kayu dan Bahasa Kuno

Warga Punan Berkomunikasi dengan Ranting Kayu dan Bahasa Kuno

Di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ada masyarakat Punan Batu. Mereka mengembangkan bahasa kuno dan simbol dengan ranting kayu. Cara berkomunikasi macam itu masih hidup, bahkan ketika kini dunia sudah berubah.

Para peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan tim harus menyusuri sungai selama sembilan jam dari Kota Malinau ke Kuala Rian, Desa Rian Tubu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Rabu (4/2).

Masyarakat Punan Batu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang hidup berpindah-pindah sebagai pemburu dan peramu di hutan telah mengembangkan sistem komunikasi yang unik. Selain memiliki bahasa kuna, mereka juga menggunakan ranting dan dedaunan untuk berkomunikasi dengan sesama.

Penggunaan bahasa kuno dan bahasa simbol di kalangan komunitas Punan Batu ini, ditemukan para peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan kolaborator mereka, profesor antropologi dari Complexity Science Hub Vienna, Austria, J. Stephen Lansing.

“Bahasa kuno ini mereka sebut sebagai bahasa Latala. Bahasa kuno ini berbeda dengan Austronesia yang menjadi bahasa ibu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia maupun bahasa Austroasiatik yang banyak dipakai di daratan Asia Tenggara,” kata Lansing, Selasa (10/3/2020).

Lansing mengatakan, bahasa Latala ini biasanya digunakan untuk berdoa dan saat bernyanyi, sedangkan untuk berkomunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa pergaulan Austronesia. Jika disandingkan dengan data genetiknya, orang Punan Batu tidak memiliki DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) Austronesia sebagaimana komunitas dayak lain, yang ada di sekitar tempat hidup mereka, seperti Kenyah atau Lundayeh.

Seperti disebutkan peneliti Eijkman, Pradiptajati Kusuma, berbeda dengan orang Dayak, populasi Punan tidak memiliki bauran DNA dari penutur Austronesia. Akan tetapi, leluhur mereka berasal dari Asia Daratan (Mainland Asia) seperti orang Aslian di Malaysia, yang kalau dirunut juga berbagi leluhur dengan orang Andaman. Punan mendapatkan tambahan bauran genetik dari leluhur pra-Austronesia dari Asia Timur (Kompas, 10/3/2020).

“Keberadaan bahasa kuno di kalangan Punan ini sejalan dengan bukti DNA, yang menunjukkan mereka memiliki perbedaan asal-usul dengan Dayak,” kata Pradiptajati.

Bahasa Latala
Berdasarkan data ini, menurut Pradiptajati, bahasa Austronesia Sarawakan Utara yang dipakai sehari-hari di Punan Batu saat ini kemungkinan hanya sebagai bahasa pergaulan yang dipinjam dari tetangga mereka, seperti Kenyah atau Lundayeh. Sedangkan bahasa lama mereka kemungkinan Latala.

Survei yang dilakukan di Punan Tubu di Hulu Sungai Tubu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, pekan lalu juga menemukan penggunaan bahasa kuno yang hanya dimengerti oleh komunitas ini. Seperti masyarakat Punan Batu, orang Punan Tubu juga menggunakan bahasa ini untuk bernyanyi dan berdoa.

Lansing telah mengumpulkan 200 kata dari bahasa kuno di Punan Tubu ini sesuai daftar Swadesh, untuk dipelajari lebih lanjut, sehingga nantinya bisa diklasifikasikan ke dalam pohon bahasa di dunia. Daftar Swadesh digunakan dalam leksikostatistik atau penilaian kuantitatif hubungan silsilah bahasa dan hubungan kronologis antarbahasa.

“Sampai saat ini, kami belum menemukan asosiasi bahasa Latala ini dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia. Ada kemungkinan bahasa ini dikembangkan sendiri sebagai sistem komunikasi di dalam komunitas ini,” kata dia.

Sebagai bahasa untuk berdoa, menurut Lansing, bahasa Latala ini seperti bahasa Roma yang dipakai untuk berdoa oleh umat Katolik hingga saat ini, atau juga bahasa Arab yang dipakai umat Islam di berbagai negara. Sedangkan sebagai bahasa untuk seni, hal ini dipraktikkan populasi di Jerman yang menciptakan bahasa Kunstsprache, yang digunakan dalam puisi.

“Di Punan mereka bisa mengkreasi lagu baru dengan bahasa Latala ini, yang menunjukkan bahwa bahasa ini masih fungsional, walaupun saat ini hanya orang-orang tua tertentu yang masih bisa menggunakannya. Ini kekayaan budaya yang luar biasa,” kata dia.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Masyarakat Punan Batu masih tinggal berpindah-pindah di gua-gua karst dan hutan di pedalaman Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, seperti terlihat, Senin (15/10/2018). Mereka merupakan penghuni awal Kalimantan yang kini semakin terdesak oleh pembukaan hutan yang masif, terutama untuk penambangan dan konversi perkebunan sawit.

Bahasa Ranting
Seperti di Punan Batu, masyarakat Punan Tubu juga memiliki bahasa simbol dengan menggunakan sejumlah benda di alam, seperti ranting, dedaunan, tali, hingga bebatuan. “Sejauh ini, hanya pemburu dan peramu Punan yang menggunakan stick language (bahasa ranting). Kami tidak menemukannya di pemburu dan peramu Afrika atau di Amerika Latin,” kata Lansing.

Guy Arnold dalam laporannya di jurnal Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society pada 1958 telah menyebutkan, orang suku Punan di Serawak, yang disebut Penan di Malaysia, telah menggunakan ranting untuk berkomunikasi dengan sesama mereka di tengah hutan. “Ternyata masih dipraktikkan pada orang Punan Batu dan Punan Tubu,” kata Lansing.

Salah satu bahasa simbol itu misalnya, jika ada orang yang sakit, maka di jalan menuju gua tempat tinggal mereka akan ditaruh ranting dengan daun yang telah diberi lubang yang menandai identitas pasien guna memperingatkan kelompok mereka agar tidak mendekat. Cara yang sama, dengan simbol berbeda, dibuat jika mereka membutuhkan bantuan, khususnya makanan.

Oleh AHMAD ARIF

Editor ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 11 Maret 2020

Share
x

Check Also

Bintik Superbesar Memicu Peredupan Bintang Raksasa Merah Betelgeuse

Cahaya bintang raksasa merah Betelgeuse meredup secara tiba-tiba. Fenomena itu diduga akibat munculnya bintik bintang ...

%d blogger menyukai ini: