Home / Berita / Wabah Covid-19, Cerita Mereka yang ”Work from Home”

Wabah Covid-19, Cerita Mereka yang ”Work from Home”

Imbauan untuk bekerja dan beraktivitas di rumah selama wabah Covid-19 merebak menuai beragam reaksi dari masyarakat. Beberapa dari mereka merayakan kebijakan ini sambil rebahan dan mengurus anak.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Pekerja dan pegawai kantor berjalan kaki melewati terowongan Jalan Kendal, Jakarta Pusat, saat jam pulang kerja, Senin (16/3/2020). Pemerintah mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di ruang publik, termasuk dengan bekerja di rumah, untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun, belum semua kantor menerapkan kebijakan untuk bekerja di rumah bagi para pegawainya.

Mewabahnya penyakit Covid-19 membuat pemerintah dan sejumlah warga masyarakat terpaksa ”memindahkan” kantornya ke rumah. Profesionalisme kerja yang semula kaku kini lebur dalam atmosfer rumahan. Kapan lagi bisa bekerja sambil pakai kaus oblong?

Karyawan swasta Putri (25) menikmati benar aturan baru yang ditetapkan perusahaan tempatnya bekerja. Kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) berlaku sejak Senin (16/3/2020) hingga tiga minggu ke depan. Menurut dia, kebijakan ini merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Putri merasa lebih produktif dengan bekerja dari kamar indekos. Energi yang ia keluarkan untuk bekerja pun lebih sedikit dibandingkan ketika harus ke kantor. Dengan berada di kamar indekos, ia juga bisa melakukan banyak hal lain yang tidak bisa dilakukan saat berada di kantor.

”Aku bisa baca buku sambil bekerja tanpa perlu merasa canggung dengan teman-teman kantor. Biasanya, kalau aku melakukan hal lain selain mengetik di depan komputer, orang akan beranggapan bahwa aku tidak bekerja,” katanya di Jakarta, Rabu (18/3/2020).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Penumpang KRL duduk berjauhan saat perjalanan dari Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan, menuju Stasiun Tanah Abang, Jakarta, sekitar pukul 11.28, Selasa (17/3/2020). Imbauan Presiden Joko Widodo agar warga bekerja, belajar, dan beribadah di rumah untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran Covid-19 membuat moda transportasi umum, seperti KRL, lebih sepi dibandingkan biasanya.

Kini, ia bebas mengatur energi dan waktunya untuk melakukan banyak hal. Selain bekerja, ia dapat membaca buku, menelepon teman dan keluarga, beristirahat, serta bebas mendengarkan musik dengan suara keras. Hal ini justru membuat produktivitas kerjanya meningkat.

Ia juga bebas mengenakan pakaian rumah yang nyaman saat bekerja. Satu-satunya hal yang harus ia khawatirkan adalah kerapian kamar indekos, khususnya yang menjadi latar saat melakukan panggilan video. ”Di sisi lain, aku sadar bahwa WFH adalah sebuah privilese. Tidak semua orang bisa bekerja dari rumah,” kata Putri.

Karyawan swasta lain, Hasto (24), mengatakan, kebijakan bekerja dari rumah diterapkan kantornya sejak Rabu ini. Bekerja dari rumah tidak langsung membuatnya produktif. Pasalnya, ia lebih suka berkumpul dengan rekan-rekan kerja dan berdiskusi soal proyek yang mereka kerjakan.

”Gangguan” kerja
Bagi sejumlah orang, bekerja di rumah tidak selalu menenangkan. Adakalanya mereka harus sabar menghadapi ”gangguan-gangguan” domestik, khususnya mereka yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Kendati demikian, gangguan itu justru jadi hiburan di tengah pekerjaan yang membosankan.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Suasana arus lalu lintas saat jam pulang kerja di Jalan Darmo, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (18/3/2020). Imbauan pemerintah untuk mengindari tempat-tempat umum dan bekerja dari rumah untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 membuat jalanan yang biasanya macet menjadi lengang.

Diskusi antara Putri dan rekan kerjanya melalui panggilan video (video call) beberapa kali terganggu. Alasannya, tetangga indekos Putri beberapa kali mengetuk dan membuka pintu kamarnya.

”Ada teman indekos yang mengajak pesan makanan daring. Ada juga yang tiba-tiba masuk kamar dengan pakaian terbuka. Padahal, aku sedang rapat melalui video call dengan senior,” kata Putri sambil tertawa.

Karyawan swasta lain, Iqbal (29), juga mengalami kejadian serupa. Ia kerap terdistraksi karena anaknya yang berusia 16 bulan menuntut diperhatikan. Anaknya pun kerap membuat suara saat Iqbal mengikuti rapat daring.

Kebijakan bekerja dari rumah mulai berlaku di kantor Iqbal sejak Senin lalu hingga 3 April 2020. Kondisi tersebut bisa diperpanjang apabila wabah Covid-19 memburuk. Menurut Iqbal, ini pertama kalinya kebijakan WFH berlaku dalam jangka panjang.

”Selama itu pula saya sering diganggu anak saat bekerja. Dia jadi lebih manja setelah ibu dan ayahnya bekerja di rumah,” katanya.

Iqbal tidak habis akal agar pekerjaannya dapat selesai. Ia menyediakan satu laptop dalam keadaan mati untuk anaknya. Dengan begitu, sang anak dapat ikut ”bekerja” dan orangtua dapat menyelesaikan pekerjaannya.

Rapat daring pun tidak lepas dari gangguan anak yang minta digendong. Iqbal akhirnya menghadiri rapat bersama sang anak di pangkuan. Hal ini juga dialami rekan-rekan kerjanya yang lain.

”Banyak kejadian lucu saat rapat daring. Ada yang harus meninggalkan rapat karena anaknya menangis, ada yang diteriaki oleh anggota keluarganya, dan ada yang ketiduran. Ada juga yang rumahnya tiba-tiba ramai didatangi tetangga saat kami rapat,” katanya.

Warganet juga membagikan kejadian serupa di media sosial, salah satunya Twitter. Akun @umenumen mengompilasi sejumlah kisah warga saat bekerja di rumah. Hingga Rabu sore, cuitan ini mendapat lebih dari 19.300 tanda suka dan lebih dari 12.600 retweet.

Imbauan Presiden
Kebijakan bekerja dari rumah disampaikan Presiden Joko Widodo pada Senin (16/3/2020). Presiden juga mengimbau masyarakat menjaga jarak satu sama lain atau social distancing. Tujuannya ialah untuk mencegah penyebaran virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19.

”Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah perlu kita gencarkan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” kata Presiden di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin.

Imbauan ini diperkuat oleh sokongan Kementerian Komunikasi dan Informatika yang bekerja sama dengan operator penyelenggara telekomunikasi. Kerja sama ini menghasilkan tambahan bandwidth atau lebar pita transfer data untuk menunjang akses internet masyarakat (Kompas.id, 16/3/2020).

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengatakan, cadangan kapasitas bandwidth yang dimiliki operator seluler cukup untuk menghadapi peningkatan kepadatan arus data selama masa darurat korona. Besaran tambahan bandwidth bergantung pada kepadatan di setiap wilayah dan kapasitas operator.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 18 Maret 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: