Voyager di Google Earth, Bercerita dengan Peta

- Editor

Rabu, 4 Desember 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Google Earth membuka ruang publik untuk saling berbagi cerita. Melalui fitur Voyager, pengguna tak lagi sekadar menjelajah bumi dengan citra satelit. Pengguna kini bisa mengetahui kisah otentik lokasi tujuannya.

IMG_20191203_205806.jpgKOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI–Google mengenalkan fitur Voyager saat lokakarya bertajuk ”Google Earth Story Creation” yang diselenggarakan Google Indonesia di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Sejak 2001, Google Earth menyediakan visualisasi tiga dan dua dimensi suatu wilayah kepada pengguna. Layanan itu berkembang dengan menyisipkan narasi yang ditulis para pengguna melalui fitur Voyager. Fitur ini diluncurkan secara global pada 2017.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Head of Corporate Communications Google Indonesia Jason Tedjasukmana mengatakan, ada sedikitnya 400 narasi yang telah diunggah di Google Earth. Narasi tersebut ditulis oleh para pengguna/mitra profesional Google dari seluruh dunia yang disebut Voyager. Salah satu Voyager di Indonesia menulis tentang hutan konservasi di Aceh dan Sumatera Utara ialah The Leuser Ecosystem.

Fitur Voyager punya akses yang terbatas. Namun, pengguna Google Earth bisa mengunggah narasi layanya Voyager dengan layanan Story Creation. Layanan ini bisa diakses secara gratis.

“Siapa saja bisa mengunggah konten atau cerita mereka di Google Earth (dengan Story Creation). Namun, ada pedoman komunitas yang harus ditaati. Konten yang tidak sesuai pedoman bisa dilaporkan dan dicabut,” kata Jason pada lokakarya terbatas bertajuk Google Earth Story Creation di Jakarta, Senin (2/12/2019).

IMG_20191203_205947.jpgKOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI–Head of Corporate Communications Google Indonesia Jason Terjasukmana (tengah) berfoto bersama pembuat narasi dalam Google Earth, Rita Jhon Harsono (kiri) dan Suparman Elmizan, saat lokakarya ”Google Earth Story Creation” di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Menurutnya, fitur ini bukan sekadar inovasi, namun juga upaya meningkatkan keterlibatan pengguna dengan Google Earth. Voyager dan Story Creation ia nilai potensial untuk berkembang di Indonesia. Pasalnya, masing-masing wilayah memiliki kekayaan alam, budaya, dan narasi unik untuk dibagikan ke publik.

Media berbagi
Salah satu pembuat narasi (story creator), Rita Jhon Harsono, mengatakan, ia memanfaatkan Google Earth untuk berbagi pengetahuan tentang batik Nusantara. Narasi tersebut menceritakan antara lain tentang sejarah batik, kota-kota penghasil batik, dan tantangan eksistensi batik di masa depan.

”Hal pertama yang harus dilakukan dalam membuat cerita ini adalah menentukan tema. Pengerjaan dilanjutkan dengan riset, membangun aliran cerita, dan menentukan tata letak desain,” kata Rita.

Narasi itu ia tulis dalam bahasa Inggris untuk memperluas cakupan pembaca. Ia berharap agar kisah tentang batik bisa dinikmati penduduk dari negara-negara lain. ”Sebagai pengajar sekolah internasional, saya jadi bisa berbagi cerita batik kepada sejumlah kolega yang kebanyakan orang asing,” ujarnya.

IMG_20191203_205922.jpgKOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI–Pembuat narasi Google Earth, Rita Jhon Harsono dan Suparman Elmizan, berbagi pengetahuan pada lokakarya ”Google Earth Story Creation” di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Ia memerlukan waktu 3-4 hari untuk membuat narasi berjudul ”Indonesian Batik: A Beauty in Diversity”. Narasi itu dilengkapi dengan peta, gambar, dan video terkait. Pengguna bisa mengunggah grafis dari arsip pribadi atau menggunakan grafis yang tersedia di internet. Sumber grafis harus dicantumkan pada kolom yang tersedia.

Selain Rita, ada pula Suparman Elmizan, pembuat narasi yang berbagi kisah tentang kehidupan di sekitar Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. Narasi ini diharapkan bisa mengajak publik peduli terhadap ketersediaan pendidikan anak-anak Bantargebang.

”Sejumlah komunitas telah bergerak untuk menyediakan pendidikan anak di sana. Cerita-cerita mereka saya himpun dalam Google Earth karena mereka (anak-anak) butuh bantuan,” kata Suparman.

IMG_20191203_205847.jpg–Tampilan tiga dimensi di Google Earth.

Rita dan Suparman sepakat bahwa fitur ini bisa menjadi media mengajar yang efektif. Hal ini sesuai dengan pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar dan mengajar.

Fitur ini bisa membawa anak didik menjelajah dunia secara virtual. Anak didik pun bisa memanfaatkan fitur ini untuk mempelajari suatu wilayah, menuliskan hasil belajar di Google Earth, lalu membagikannya secara daring.

”Ini termasuk bagian dari creative learning (pembelajaran kreatif) bagi murid dan guru,” kata Suparman.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

Editor ANTONIUS PONCO ANGGORO

Sumber: Kompas, 2 Desember 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB
Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 1 April 2024 - 11:07 WIB

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 3 Januari 2024 - 17:34 WIB

Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB