Home / Berita / Unpatti, Kelautan dengan “Hotu Messe”

Unpatti, Kelautan dengan “Hotu Messe”

Universitas Pattimura (Unpatti) di Poka, Ambon, Selasa (23/4) berulang tahun ke-33. Dengan motto ”Hotu Messe” (terus menanjak), Unpatti terus mengembangkan diri. Upaya membina kerjasama dengan perguruan tinggi lain dari Australia, Papua Nugini dan Tasmania sudah dilakukan sejak Unpatti menetapkan Pola Ilmiah Pokok (PIP) tahun 197 6. Pola itu disusun dalam rangkuman ”Bina Mulia ke Lautan”.

”Dengan PIP itu, semua kurikulum Unpatti mengarah kepada kawasan kelautan, bukan saja fakultas eksakta tapi juga non-eksakta. Mahasiswa hukum diarahkan memahami hukum kelautan, juga Sospol dikaitkan dengan situasi politik dan pola hidup masyarakat maritim” ujar Pembantu Rektor (Purek) II Unpati, Ir A.F.Salamony MSc.

Lewat Fakultas Teknik, khususnya jurusan Perkapalan dan Permesinan Kapal, mahasiswa disiapkan untuk pengelolaan kekayaan laut. Namun upaya ini menghadapi kendala, dana dan tenaga ahli. Untuk itu,mahasiswa yang akan menyelesaikan kuliah wajib magang di perusahaan kapal selama tiga bulan, antara lain di PT PAL-Surabaya, PT IKI-Ujungpandang, PT Intan Sentuni-Jakarta dan lain-lain.

KELEBIHAN alumni Unpatti, kata Modi Kusnadi (26) alumnus Fakultas Perikanan 1995, cewek asal Jakarta adalah kemampuan praktek lapangan. Untuk beberapa mata kuliah, mahasiswa terjun langsung ke lapangan yang disebut laboratorium alam, mulai dari menyelam, menjaring ikan sampai pemasaran hasil tangkapan.

”Namun pengalaman ini hampir tak pemah diperhatikan lembaga yang membuka lowongan pekerjaan. Soal terjun langsung di kapal penangkapan ikan sudah merupakan hal biasa bagi kami. Kalau teori ya hanya sebatas yang tercetak di buku,”ujar Modi yang menampik tawaran kerja di perusahaan. Keahlian menyelam yang diperoleh saat kuliah, mendorongnya membuka Diving Center bersama beberapa teman, menjual jasa untuk membantu jika ada peneIitian didasar Iaut. Gadis ini sadar, kekayaan Maluku ada di bawah laut.

Selain itu, peserta Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) belum menempatkan Unpatti sebagai favorit. Meski demikian, Unpati tak sulit menemukan mahasiswa yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia. Memang, mereka yang datang ke Maluku untuk kuliah, perlu keberanian besar. Maklum, informasi mengenai Unpati amat minim. Yang umumnya diketahui hanya sebatas Maluku, Ambon, Banda, cengkeh, pala, sagu, suhu panas dan Iain-lain.

Kini mahasiswa di Unpatti amat beragam, dari Sumatera, Jawa, Irian, dan Sulawesi terwakili. ”Dulu, asal milih. Setelah lulus, baru berpikir, terus atau mundur. Tapi, karena persaingan makin ketat dan swasta mahal, ya pilih di sini,” ujar Evi asal Padang

Kini, Unpati memiliki 9.346 mahasiswa, 833 dosen, 657 tenaga administrasi dan 14.007 alumni. Alumninya kebanyakan tersebar di Irian Jaya dan Timor Timur. Meski demikian rasio mahasiswa-dosen,belum ideal. Guru besar yang ada baru tujuh orang, sedangkan lulusan S-3 -14 orang, S-2 – 163 orang, sisanya 656 orang lulusan S-1.

SEJARAH berdirinya Unpatti bermula ketika beberapa tokoh masyarakat Maluku yang diprakarsai dr M. Haulussy ingin mendirikan sebuah perguruan tinggi, sebagai perwujudan aspirasi masyarakat. Untuk itu dibentuk Yayasan Perguruan Tinggi Maluku-Irian Barat, 20 Juli 1955 yang saat itu diketuai Cor Lopies, Hamid bin Hamid, Dr Manuputty, dan F. M. Pupella. Yayasan itu, 3 Oktober 1956 mendirikan Fakultas Hukum, disusul Fakultas Sosial Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan dan dua Fakultas Eksakta, Pertanian/Kehutanan dan Peternakan. Lembaga ini menjadi universitas lewat SK Presiden No 66 tahun 1963, 23 April 1963 dan bernama Universitas Pattimura.

Kini Unpatti berdiri dari tujuh fakultas dan satu Politeknik telah dipimpin oleh lima rektor. Rektor pertama (1971) ditetapkan Ir L. A. Nanlohy, lalu berturut-turut Muh R. L Lestaluhu, Dr. Ir. Ch Lawalata; Dr Ir. JL Nanere, Msc. Yang terakhir, Dr Mus Huliselan memimpin universitas sejak 1994 hingga kini.

LAHAN yang digunakan Unpatti kini sebenarnya untuk pendirian Institut Teknologi Ambon (ITA) tahun 1961. Bekerja sama dengan Rusia, Waktu itu ITA akan dibangunkan sebuah kampus. Beberapa lulusan SMA sebagai calon tenaga pengajar, disekolahkan ke Rusia. Rencana pendirian ITA terhenti karena gejolak G30S/PKI. Namun pengembangan Teknik Perkapalan dan Oceanografi mulai dilakukan setelah para calon dosen pulang menimba ilmu di Rusia, 1970.

”Para dosen yang kini belajar di luar negeri pun berusaha membawa nama almamater dan berusaha membuat prestasi sebaik mungkin, sehingga dapat dijadikan contact person dalam menjalin kerja sama. Hasilnya, kadang mereka membawa delegasi ke Unpatti untuk melihat proses belajar-mengajar di sini,” ujar Salamony.(bb)

Sumber: Kompas, tanpa tanggal

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: