Umbi Lokal Dihargai Tinggi di Luar Negeri

- Editor

Jumat, 16 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Umbi jenis iles-iles (Amorphophallus muelleri) yang merupakan tanaman endemik Indonesia saat ini diminati pasar luar negeri, terutama Jepang, China, dan Korea. Pangan lokal ini di luar negeri digunakan untuk diet kaya serat dan rendah protein. Di Indonesia tanaman ini cenderung diabaikan.

“Di Jepang, iles-iles ini merupakan makanan sangat istimewa. Dia memiliki kandungan glukomanan sangat tinggi yang biasa dipakai untuk diet dan makanan kesehatan,” kata peneliti umbi-umbian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Edy Santosa, Kamis (15/3), ketika dihubungi dari Jakarta.

Glukomanan merupakan serat alam kental yang mudah larut. Zat ini memiliki kapasitas menampung air sangat tinggi sehingga banyak dipakai untuk makanan sejenis puding atau jelly. Selain untuk makanan dan minuman, glukomanan juga banyak digunakan dalam industri obat dan kosmetika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Karena iles-iles ini juga bebas gluten dan indeks glikemik rendah, sehingga baik untuk penderita diabetes,” kata Edy.

–Tanaman Iles-iles (Amorphophallus muelleri) di kebun Institut Pertanian Bogor. Umbi tanaman asli Indonesia ini banyak diminati pasar luar negeri untuk bahan baku pangan sehat, industri obat dan kosmetik, namun di Indonesia belum banyak dikembangkan. Dokumentasi foto: Edy Santosa, IPB (2018)

Di Jepang, tanaman ini dinamakan konnyaku dan sering dijadikan bahan untuk membuat shirataki atau sejenis mi. “Di restoran-restoran Jepang ini harganya cukup mahal, sementara di petani di Indonesia, iles-iles biasa dipasarkan Rp 3.000 per kilogram,” kata Edy.

Di Jepang sebenarnya juga punya sejenis iles-iles ini yang dikenal sebagai konnyaku atau Amorphophallus konjac dan dihasilkan di Provinsi Gunma. Namun demikian, produktivitasnya kalah jauh dengan iles-iles dari Indonesia.

“Mereka hanya bisa tanam di musim hujan dan begitu musim kering mati. Sedangkan di Indonesia bisa sepanjang tahun,” kata Edy.

Iles-iles bisa tumbuh di bawah tegakan hutan sehingga cocok dikembangkan dengan sistem tumpang sari. “Dari kebun percobaan kami produktivitas iles-iles bisa mencapai 30-40 ton per hektar (ha). Di Madiun, Jawa Timur sekarang sudah ada yang membudidayakan sekitar 2.000 ha dengan sistem tumpangsari dengan Perhutani. Produk mereka diekspor dalam bentuk kering, namun kemudian kita impor dalam bentuk glukomanan untuk industri makanan,” kata Edy.

Edy mengatakan, seharusnya Indonesia mengembangkan ekstraksi iles-iles ini untuk menghasilkan glukomanan. “Iles-iles tidak bisa dimakan langsung karena mengandung asam oksalat yang bisa bikin sangat gatal,” kata dia.

Namun demikian, secara tradisional, sebagian masyarakat di Indonesia, seperti di Kulon Progo, Yogyakarta masyarakat sebenarnya bisa mengolah iles-iles ini sebagai sumber pangan. “Mereka melumatkan iles-iles ini dan kemudian dicuci bersih sehingga tinggal glukomanan lalu dikukus. Di Kulon Progo ini disebut lotrok,” kata dia.

Sangat Diminati
Ketua Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S Lukman mengatakan, saat ini permintaan iles-iles dari Indonesia cukup tinggi. “Untuk ekspor ke Jepang sekarang ada bea masuk yang tinggi karena mereka memproteksi petani lokalnya, sehingga sekarang banyak dikirim ke China dan Korea,” kata dia.

Selain iles-iles, permintaan aneka bahan pangan lokal dari Indonesia sebenarnya sangat tinggi, seperti singkong dan ubi jalar.

“Persoalan bahan pangan lokal ini adalah ketersediaannya yang tidak menentu karena pasar di dalam negeri juga tidak stabil. Padahal, umbi-umbian ini gencar dipromosikan di luar negeri sebagai makanan sehat, tetapi di Indonesia justru sering dianggap rendah. Perhatian kita terhadap pangan lokal masih sangat kurang,” kata Adhi

Edy menambahkan, jika Indonesia tidak memanfaatkan secara optimal potensi keragaman pangannya, justru negara lain yang akan memanfaatkannya. “Sekarang China sudah mencoba mengembangkan iles-iles dari Indonesia ini. Mereka tanam ribuan hektar. Entah bagaimana bisa dapat bibit dari kita. Ini kerugian besar bagi kita sebenarnya,” kata dia.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 16 Maret 2018

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB