Home / Berita / Udara Jakarta Makin Kotor, Ganjil-Genap Belum Efektif Kurangi Polusi

Udara Jakarta Makin Kotor, Ganjil-Genap Belum Efektif Kurangi Polusi

Mendekati pesta olahraga Asian Games 2018, kualitas udara Jakarta memburuk. Sumber pencemaran bukan hanya dari kendaraan bermotor tetapi juga emisi dari industri dan juga pembangunan infrastruktur.

Upaya untuk mengurangi pencemaran udara yang terjadi di Jakarta sebelum Asian Games 2018 terus dilakukan, namun belum mencapai hasil yang signifikan.

Menurut Kepala Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jakarta Diah Ratna Ambarwati, banyak faktor yang mempengaruhi pencemaran kualitas udara di Jakarta.

KOMPAS/ROBERT ADHI KSP–Kualitas udara Jakarta makin menurun. Foto ini diambil Kamis 26 Juli 2018 dari lantai 51 Hotel the Westin Jakarta. Tampak udara Jakarta tidak bersih.

Pembangunan infrastruktur kan sedang berjalan besar-besaran di Jakarta. Ini mempengaruhi kualitas udara Jakarta yang buruk

“Pembangunan infrastruktur kan sedang berjalan besar-besaran di Jakarta. Ini mempengaruhi kualitas udara Jakarta yang buruk,” ujarnya, Selasa (31/7/2018). Selain itu, dipengaruhi juga dari emisi gas atau asap industri dan kendaraan bermotor yang merupakan faktor utama dalam mempengaruhi kualitas udara.

FRANSISCA NATALIA ANGGRAENI UNTUK KOMPAS–Kepala Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jakarta Diah Ratna Ambarwati, Selasa (31/7/2018)

Udara tidak sehat
Untuk mengurangi gas polutan dari kendaraan bermotor, pemerintah sudah berupaya melalui uji emisi dan penerapan aturan ganjil-genap. Hasil evaluasi dari konsentrasi polutan penerapan ganjil-genap memperlihatkan presentase penurunan beberapa kandungan gas emisi.

Pada kendaraan bermotor dapat dilihat dari kandungan CO (Karbon Monoksida), NO (Nitric Oxide), THC (Total Hydrocarbon), dan Partikulat PM 10 (Partikel udara berukuran lebih kecil dari 10 mikron.

Pada DKI 1 (Bunderan HI) penurunan presentase CO dari sebelum penerapan ganjil-genap dan sesudah, yaitu 26,92 persen, NO naik 3,70 persen, THC turun 12,62 persen, dan PM10 naik 41,73 persen. Pada DKI 2 (Kelapa Gading) konsentrasi CO turun 10,19 persen, NO turun 32,89 persen,dan PM10 naik 23,08 persen.

ARSIP HARIAN KOMPAS–Jajak pendapat Litbang Kompas tentang polusi udara Jakarta

Di DKI 3 (Jagakarsa) konsentrasi CO turun 4,69 persen, NO turun 65,64 persen THC turun 13,46 persen, dan PM10 naik 26,70 persen. DKI 4 (Lubang Buaya) konsentrasi CO turun 6.75 persen, NO turun 22,65 persen, dan PM10 naik 36,98 persen. DKI 5 (Kebon Jeruk) konsentrasi CO turun 12,52 persen, NO turun 38,36 persen, THC turun 3,11 persen, dan PM10 naik 51,83 persen.

Diah menambahkan, pengukuran partikulat debu yang lebih halus belum bisa dilakukan “Kita belum mengukur PM 2,5 karena alat kita di fix station belum ada. Rencananya tahun ini baru akan diperbarui,” katanya. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah penghijauan, dan menghidupkan paru-paru kota.

Data terakhir, Senin (30/7/2018), ISPU DKI Jakarta pada DKI 2 (Kelapa Gading), DKI 3 (Jagakarsa), dan DKI 5 (Kebon Jeruk) masuk dalam kategori tidak sehat dengan parameter kritikalnya adalah O3 (ozon).

Standar baku mutu yang digunakan berpatokan dari Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 1997 dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2006, yang seharusnya peraturan tersebut perlu diperbaharui agar lebih relevan.

ANTARA/APRILLIO AKBAR–Suasana kepadatan arus lalu lintas pada hari pertama uji coba perluasan kawasan ganjil genap di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (2/7/2018). Perluasan kawasan lalu lintas ganjil genap di sejumlah ruas jalan di Ibu Kota mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB yang saat ini dalam tahap uji coba itu akan diberlakukan mulai 1 Agustus 2018 guna mendukung kelancaran arus lalu lintas pada penyelenggaraan Asian Games 2018.

Ganjil-genap belum efektif
Sementara itu, Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko mengatakan, selama ini sudah melakukan pemantauan kualitas udara di wilayah DKI Jakarta. “Ganjil genap bisa mengurangi, tapi belum signifikan karena masih uji coba. Kita lihat nanti pada bulan Agustus,” ujarnya.

Agung menambahkan, upaya lain yang dilakukan adalah melalui uji emisi besar-besaran wilayah kota beberapa pekan lalu yang drencanakan menjelang Asian Games 2018. Ada 10.000 kendaraan roda empat yang sudah diuji emisi. Selain itu, kegiatan industri yang dalam prosesnya menimbulkan emisi, sudah diimbau melalui surat.

FRANSISCA NATALIA ANGGRAENI UNTUK KOMPAS–Uji emisi kendaraan roda empat oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Jakarta Pusat, Kamis (19/7/2018)

“Bagaimana mereka bisa menekan untuk membatasi emisi yang dikeluarkan. Terutama, industri besi baja. Kita akan melakukan pengawasan ketat,” katanya.

Respon yang diberikan cukup baik. Selama ini, Pemprov DKI mengawasi emisi gas buang industri. Berdasarkan dokumen lingkungan hidup, pelaku industri berkewajiban melaporkan emisi gas buang enam bulan sekali ke LH. Selain itu, dari Dinas Lingkungan Hidup juga melakukan sidak langsung ke lapangan dan menguji secara langsung.

“Jika terbukti tidak memenuhi standar baku mutu, mereka akan terkena sanksi administrasi dulu. Kami lakukan sesuai tahapan dan mengikuti hukum,” ujar Agung. (FRANSISCA NATALIA ANGGRAENI)-ADHI KUSUMAPUTRA

Sumber: Kompas, 31 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: