Home / Berita / Tim Gabungan Mencari Jejak Iklim

Tim Gabungan Mencari Jejak Iklim

Setidaknya 40 peneliti dari sejumlah negara bersiap mencari jejak iklim dari lapisan sedimen Danau Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sedimen danau yang berusia sekitar sejuta tahun itu diyakini mengandung rekam jejak sejarah iklim.

“Danau ini besar, sangat tua, dan berada di kawasan penting dalam isu iklim dunia,” kata James Russell dari Department of Earth, Environmental, and Planetary Sciences Brown University, Amerika Serikat, melalui surat elektroniknya, pekan lalu. Tujuan pengeboran sedimen Towuti untuk merekonstruksi perubahan iklim yang terekam pada sedimen.

Tim ingin mengetahui variasi siklus hidrologi pada sumber penguapan air terbesar di dunia dengan menelusuri sejarah. “Terutama pada periode perubahan iklim global,” ujar Russell, yang juga anggota Institute at Brown for Environment and Society.

Mengetahui perubahan iklim pada masa lalu merupakan umpan balik penting memprediksi perubahan iklim.

Indonesia berada pada kolam panas laut yang mengendalikan fenomena El Nino yang memengaruhi tingkat kekeringan di berbagai belahan dunia. Kolam panas itu juga menyumbang uap air ke atmosfer. Uap air berperan dalam sistem iklim dan Indonesia dinilai memegang peranan penting mengatur suhu global.

Pemimpin tim dari Indonesia, Satria Bijaksana, dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung, yang dihubungi terpisah, Rabu (20/5), menyatakan, Towuti memenuhi tiga syarat penelitian dengan pengeboran: lapisan batuan berlapis teratur, usia sedimen bisa lebih dari satu juta tahun, dan sistemnya tertutup.

Aktivitas Lake Towuti Drilling Project disiapkan 3 tahun. Situs itu masuk daftar prioritas pengeboran sejak 20 tahun lalu. “Danau ini besar, sangat tua, dan ada di wilayah penting bagi iklim dunia,” kata Russell. Peneliti yang terlibat dari 10 negara.

Hingga dasar danau
Russell menjelaskan, pengeboran akan dilakukan hingga ke lapisan batuan dasar danau (bed rock) sekitar 1.000 kaki (sekitar 300 meter). Diharapkan memberi data 1 juta tahun atau lebih.

Penelitian 2010, pengeboran dilakukan sedalam 30 kaki (sekitar 10 meter). Saat itu ditemukan jejak sekitar 60.000 tahun hujan. Dari sana diketahui, pada Zaman Es terakhir-saat belahan bumi utara diselimuti es-Indonesia kekeringan. Curah hujan periode itu berkurang 50 persen.

“Namun, zaman es terjadi berkali-kali yang berlangsung sekitar satu juta tahun terakhir. Kami ingin mengetahui apakah temuan waktu itu bisa diperluas. Ketika bumi menjadi panas atau dingin, apakah Indonesia secara konsisten menjadi lebih basah atau lebih kering?” ujar Russell.

Menurut Satria, selain penelitian terkait jejak iklim, juga dilakukan penelitian tentang lingkungan purba. (ISW)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Tim Gabungan Mencari Jejak Iklim”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: