Home / Berita / Tidak Sekolah Pun Bisa Berprestasi

Tidak Sekolah Pun Bisa Berprestasi

Belum genap berusia 15 tahun, Mikail Kaysan Leksmana (14) sudah menghasilkan sejumlah karya. Mulai dari sebuah buku hasil penelitian di Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, hingga inisiatif membangun komunitas pengamatan burung untuk anak-anak di Jakarta.

Saat ditanya rahasianya, tanpa ragu Kaysan menjawab, ”Karena aku tidak sekolah.”

Tahun 2017 bisa jadi awal dari kegemilangan prestasi bocah laki-laki pencinta burung itu. Ia berhasil mengumpulkan anak-anak lain pencinta burung dalam komunitas Amati Jakarta. Bersama teman-teman baru dari seluruh penjuru Jakarta, ia bertualang ke beberapa tempat, mulai dari kota Jakarta hingga ke Gunung Gede dan Gunung Halimun, Jawa Barat, untuk mengamati burung-burung yang hidup di sana.

Hasilnya, Kaysan pun membuat peta dalam jaringan (daring) persebaran jenis burung di setiap lokasi yang pernah dikunjungi.

Kaysan menuturkan, pengamatan yang dilakukan setiap dua bulan itu mencatat jenis dan jumlah burung yang muncul dalam satu hari, satu kali periode, yaitu pukul 07.00-11.00. Daerah dengan kondisi geografis yang berbeda, jenis dan jumlah burung yang hidup juga berbeda.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Mikail Kaysan Leksmana di Jakarta, Minggu (11/3). Sejak 2013, ia memutuskan untuk keluar dari sekolah dan belajar di rumah.

”Jenis burung yang hidup di Jakarta itu burung gereja, kutilang, cabe, madu, betet biasa, dan tekur. Dalam sekali pengamatan, biasanya muncul 20 ekor,” kata Kaysan di kediamannya di Jakarta, Minggu (11/3). Sementara itu, di Gunung Gede dan Halimun, biasa ditemukan 30-40 burung sikatan.

Mengamati burung, ujarnya, bukan berarti selalu menengadahkan kepala ke atas ketika mereka terbang. Pengamatan juga dapat dilakukan dengan memperhatikan burung-burung yang sedang mencari makanan di tanah atau tengah bersarang.

Kaysan yang sudah menekuni pengamatan burung secara rutin sejak 2013 itu menyiapkan sendiri semua keperluan pembangunan dan kegiatan komunitasnya. Mulai dari mendesain poster, mempromosikan kegiatan di media sosial, dan mengajak beberapa teman secara langsung.

Selain itu, Kaysan juga memilih dan menyurvei lokasi pengamatan serta menyusun prosedur pengamatan secara sistematis.

”Aku ingin mengamati burung dengan teman-teman sebaya,” ujar Kaysan. Sebelum membentuk Amati Jakarta, ia bergabung dengan beberapa komunitas lain yang sebagian besar anggotanya telah dewasa.

Ibunda Kaysan, Shanty Syahril (43), mengatakan, anak semata wayangnya memang begitu bersemangat belajar di luar sekolah. Kaysan yang pernah bersekolah di sekolah dasar negeri (SDN) selama tiga tahun itu cepat bosan dengan situasi di sekolah.

”Jika ada pekerjaan rumah (PR), semua bisa aku selesaikan di sekolah, jadi sepulang sekolah sudah tidak ada apa-apa lagi,” kata Kaysan.

Meski demikian, jadwal sekolah dari Senin hingga Sabtu membuat aktivitas dalam komunitasnya terhambat. Oleh karena itu, ia memutuskan keluar dari sekolah.

”Sekolah itu kan hanya salah satu cara untuk belajar, di luar itu masih banyak cara yang lain,” ujar Shanty.

Ia menambahkan, SD merupakan sekolah formal pertama yang diikuti Kaysan. Sebelumnya, alih-alih memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak (TK), Shanty justru menginisiasi sebuah kelompok bermain dengan lima anak di kompleks permukimannya.

Ia ingin membuktikan bahwa pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam ruang kelas.

Di dalam kelompok bermain itu, Shanty dan para orangtua lain menggagas beragam kegiatan, seperti piknik atau berkunjung ke museum. Sebelum bepergian, anak-anak diajarkan mengenai ketertiban di jalan raya, tata cara menaiki angkutan umum, dan memasuki tempat yang dikunjungi.

Dengan demikian, kata Shanty, ketika tiba waktu bepergian, mereka sudah siap dan bisa memaknai perjalanan yang dilakukan.

Berbekal pengalaman tersebut, Shanty tidak kaget saat Kaysan mengajukan diri keluar dari sekolah. Alumnus Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menganggapnya sebagai tantangan. Ia ingin membuktikan bahwa pembelajaran tidak hanya bisa dilakukan di dalam ruang kelas.

”Saya percaya, lingkungan di sekitar kita dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar,” kata Shanty.

Ia menambahkan, pembelajaran untuk Kaysan tidak lain merupakan praktik hidup sehari-hari yang berbasis pada kehidupan keluarga. Ia tidak menyediakan waktu khusus untuk belajar. Seluruhnya berjalan secara organik.

Shanty mencontohkan, pembelajaran matematika didapat dari kegiatan berbelanja sayuran. Kaysan biasa memperhatikan penjual sayur yang menghitung biaya belanja para ibu kemudian mempraktikkannya.

Pembelajaran mengenai literasi juga menjadi salah satu penekanan. Shanty membiasakan anaknya menyimak dan mendengarkan orang lain ketika tengah berbicara kemudian mengemukakan pendapat dengan suara dan maksud yang jelas.

Di samping itu, ia menyediakan sejumlah buku dan berlangganan koran untuk dibaca setiap hari. Titik puncaknya, Kaysan diminta menuliskan kegiatan dalam bentuk jurnal harian.

”Kami punya proyek 365, yaitu menuliskan kegiatan harian selama satu tahun penuh,” kata Shanty. Selain itu, ia dan Kaysan juga selalu merumuskan proyek-proyek belajar yang hendak dilakukan selama satu tahun.

”Tahun ini, karena Kaysan sudah remaja, saya ingin fokus pada persoalan perencanaan,” kata Shanty. Oleh karena itu, pencatatan jurnal harian bukan lagi sebuah latihan, melainkan sudah harus dibuat setiap hari secara konsisten.

Di jurnal tersebut, Kaysan menuliskan rencana hidupnya, antara lain proyek belajarnya selama satu tahun, daftar buku yang akan dibaca, anggaran belanja, dan kata-kata motivasi. Seluruhnya tertulis runut dan teratur.

Karakter anak-anak pada dirinya pun tampak jelas dari penekanan di beberapa bagian catatan yang dibuat warna-warni serta tulisan tangan yang khas.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Salah satu halaman dalam jurnal harian Kaysan.

Selain mengamati burung, Kaysan juga aktif dalam kegiatan Pramuka di Klub Oase, komunitas keluarga pelaku sekolah di rumah (homeschooling). Di komunitas Pramuka Oase, anak-anak yang dikelompokkan dalam gugus usia itu diajak membuat proyek belajar bersama.

Setelah empat tahun bergabung, menurut Kaysan, proyek yang paling menantang adalah ketika mereka diminta membuat festival pada 2017.

Dalam festival tersebut, anggota Pramuka Oase ditantang untuk mendapatkan sejumlah uang untuk membiayai rencana perjalanan riset mereka ke Pulau Harapan, Kabupaten Kepulauan Seribu.

”Akhirnya mereka membuat acara yang menjual pengalaman perjalanan riset mereka tahun sebelumnya,” kata Shanty yang saat itu menjabat Koordinator Bidang Eksplorasi Pramuka Oase.

Ia menambahkan, di usia yang sudah memasuki remaja, anak-anak harus ditantang untuk menyelesaikan masalah sekreatif mungkin. Sementara itu, orangtua berada dalam posisi mendampingi dan menjadi tempat bagi mereka untuk berkonsultasi.

Tantangan itu pun diterima dan diselesaikan dengan tuntas. Kaysan mengatakan, ia anggota Pramuka Oase lain menyiapkan ihwal konsep hingga teknis persiapan festival. Hasilnya pun memuaskan, mereka bisa menjual 200 tiket festival yang diisi dengan presentasi hasil karya mereka.

Sejumlah uang yang didapatkan itu digunakan untuk perjalanan penelitian. Setiap anak mewujudkan hasil penelitian sesuai minat. Ada yang membuat cerpen, video, dan buku ilustrasi. Kaysan sendiri menerbitkan buku mengenai cara masyarakat pesisir mendapatkan air bersih.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Rancangan awal tata letak buku Berlimpah tapi Susah, Air di Pulau Harapan karya Kaysan. Ia merancang sendiri tata letak buku tersebut.

Memerdekakan anak
Keputusan menyekolahkan anak di rumah juga dibuat oleh pasangan Sumardiono yang akrab disapa Aar dan Mira Julia. Mereka tidak menyekolahkan anak di sekolah formal sejak usia kanak-kanak.

Menurut Aar yang pernah bekerja sebagai guru sekolah menengah atas (SMA), kepribadian anak-anaknya lebih cocok bersekolah di rumah. Sebab, di sekolah konvensional, anak sulit berkembang sesuai bakat dan minatnya. Aturan-aturan di sekolah mewajibkan anak bertingkah serupa dengan yang lain (Kompas, 17/3/2015).

KURNIA YUNITA RAHAYU–Mantan Ketua Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) Ki Prijo Mustiko (kanan) di Jakarta, Rabu (7/3).

Mantan Ketua Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) Ki Prijo Mustiko mengatakan, sekolah formal saat ini cenderung tidak mampu mengakomodasi minat dan bakat siswa. Padahal, prinsip tersebut sudah jauh-jauh hari diterapkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara.

Alumnus Taman Siswa Yayak Yatmaka mengatakan, ketika ia bersekolah pada 1969, Taman Siswa masih menerapkan pola belajar yang sama dengan saat Ki Hadjar masih hidup. Guru-guru lebih banyak mengajar dengan pendekatan budaya dan menggunakan kesenian sebagai metode belajar.

Salah satu yang diingat Yayak adalah soal pementasan teater. Setiap anak dilibatkan dalam pementasan dan mendapatkan peran yang sesuai dengan karakternya sehari-hari.

”Saya itu dulu mendapatkan peran sebagai Arya Penangsang, tokoh yang dianggap pemberontak dalam sejarah kerajaan Jawa,” kata aktivis di masa Orde Baru itu.

Ada sekolah yang muridnya seragam, hanya berasal dari satu kelompok status sosial, atau hanya dari satu agama, bagi saya itu kurang cocok untuk perkembangan anak

Di samping itu, kata Yayak, suasana belajar di Taman Siswa juga tidak mendikotomikan anak sebagai murid pintar atau bodoh yang diukur dengan nilai ujian. Anak-anak dibiasakan bisa memahami kepiawaian dalam bidang masing-masing.

”Meskipun ada teman yang mendapatkan nilai di bawah standar dalam salah satu mata pelajaran, kami tidak terbiasa menganggapnya bodoh karena tahu dia pasti memiliki kemampuan di bidang lain,” ucapnya.

Ia melanjutkan, solidaritas antarmurid juga terbangun ketika terdapat murid yang tidak naik kelas. Anak-anak dengan nilai tertinggi justru berkewajiban mengajarkan materi-materi kepada teman yang tidak naik kelas.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Alumnus Taman Siswa Yayak Yatmaka.

Sayang, kata Ki Prijo, prinsip-prinsip belajar yang memerdekakan anak dari Bapak Pendidikan tidak diterapkan secara optimal dalam sekolah formal saat ini. Padahal, beberapa prinsip tersebut bisa menjadi referensi penyelenggaraan pendidikan.

”Saya pun baru sadar ketika sudah lulus dari Taman Siswa, ternyata kami selama itu belajar untuk hidup,” katanya.

Di samping soal kemerdekaan anak dalam belajar, menurut Shanty, situasi sekolah formal saat ini kurang kondusif karena cenderung homogen.

”Ada sekolah yang muridnya hanya berasal dari satu status sosial, ada yang hanya berasal dari satu agama, bagi saya itu kurang cocok untuk perkembangan anak,” ucapnya.

Menurut dia, melalui sekolah di rumah, ia justru bisa mengenalkan anak pada lingkungan yang lebih beragam. Contohnya, ketika belajar dalam komunitas burung, Kaysan bergaul dengan orang-orang dari beragam latar belakang, usia, dan pekerjaan. Hal itu dapat membantu anak memahami kehidupan dan bertoleransi.

Meski demikian, Shanty dan Kaysan tidak anti pada sekolah formal. Kaysan merencanakan kembali memasuki institusi formal pada jenjang perguruan tinggi. ”Aku mau kuliah di perguruan tinggi agar bertemu banyak teman lain, masa selamanya mau di rumah terus,” kata Kaysan sambil terkekeh. (DD01)

Sumber: Kompas, 12 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: