Home / Berita / Terapkan ”Digital First”, Korporasi Berpotensi Untung Lebih Besar

Terapkan ”Digital First”, Korporasi Berpotensi Untung Lebih Besar

Perusahaan-perusahaan yang memiliki pola pikir prioritas digital atau digital first meraih keuntungan dua kali lipat jika dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Kunci dari pola pikir ini terletak pada pemberdayaan sumber daya manusia dalam perusahaan.

Keuntungan yang dapat didulang berupa produktivitas perusahaan meningkat, keuntungan meningkat, dan pelayanan kepada pelanggan lebih cepat. Berdasarkan studi Transformasi Digital Asia 2018 dari International Data Corporation (IDC) dan Microsoft, rata-rata pencapaian bisnis perusahaan yang telah menerapkan sistem digital naik hingga 30 persen dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan survei yang sama, tujuh persen perusahaan sudah dianggap pemimpin dalam transformasi teknologi dan berorientasi prioritas digital. Rata-rata perusahaan ini mengalami keuntungan dua kali lipat dari perusahaan yang masih menjadi pengikut transformasi digital.

Secara nasional, transformasi digital dapat membantu industri-industri dan perusahaan meningkatkan kontribusinya pada produk domestik bruto (PDB). Pada 2017, kontribusinya sebesar empat persen. Angka ini akan meningkat menjadi 21 persen pada 2019 dan 40 persen pada 2021.

Prediksi ini disertai dengan kenaikan laju pertumbuhan majemuk tahunan atau compound annual growth rate (CAGR) Indonesia hingga 0,4 persen pada 2021. Laju ini setara dengan 22 miliar dollar AS.

M PASCHALIA JUDITH J UNTUK KOMPAS–President Microsoft Asia Pacifik Andrea Della Mattea (paling kanan), Vice President Information Technology Citilink Indonesia Achmad Royhan (kedua dari kanan), Head of Consulting Department PT International Data Corporation Indonesia Mevira Munindra (kedua dari kiri), dan Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee dalam pemaran Studi Asia Digital Transformation 2018 di Jakarta, Selasa (13/2).

Head of Consulting Department IDC Indonesia Mevira Munindra mengatakan, transformasi digital pada sektor jasa akan berkontribusi paling banyak terhadap PDB. Proporsinya berkisar dua pertiga jika dibandingkan dengan sektor lainnya.

Transformasi teknologi suatu perusahaan membutuhkan pola pikir yang berorientasi pada digital first atau prioritas digital. ”Pola pikir ini membutuhkan sikap adaptasi yang cepat dan luas dari sumber daya manusia dalam perusahaan itu,” ucap Mevira dalam diskusi media di Jakarta, Selasa (13/2).

Pemberdayaan sumber daya manusia merupakan komponen penting sebagai aktor transformasi digital perusahaan. Pada aspek ini, pola organisasi diperhatikan.

Jika dikontekskan dalam organisasi, sikap itu diwujudkan dalam komunikasi dan kolaborasi antarpihak di dalam perusahaan. ”Sikap-sikap itu akan menumbuhkan budaya fast learning atau belajar cepat dan berani mengambil risiko,” ucap Presiden Microsoft Asia Pasifik Andrea Della Mattea, Selasa.

Perusahaan yang berorientasi digital first atau prioritas digital memiliki peta jalan transformasi digital. Selain pemberdayaan manusia, peta jalan ini juga meliputi target investasi dan manajemen data sebagai aset.

Perusahaan juga membutuhkan unit kerja pendobrak untuk menyukseskan transformasi digital. Unit kerja ini memiliki fokus mengembangkan sistem dan model bisnis digital yang akan diterapkan dalam perusahaan.

Pelatihan sumber daya manusia dalam perusahaan juga menjadi strategi. Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee menyatakan, adaptasi tenaga kerja dapat dicapai dengan menambahkan keterampilan-keterampilan yang baru dan meningkatkan keterampilan-keterampilan yang sudah dimiliki.

Oleh sebab itu, key performance indicators (KPI) perusahaan yang dalam proses transformasi digital akan mengacu pada teknologi. Misalnya, inovasi serta efektivitas proses dan pelayanan.

Salah satu contoh perusahaan yang telah menerapkan transformasi digital adalah PT Citilink Indonesia. ”Selama bertransformasi, kami memiliki mental seperti pengusaha rintisan, yaitu cepat belajar (learn fast), cepat gagal (fail fast), dan tumbuh cepat (grow fast),” kata Vice President Teknologi Informasi PT Citilink Indonesia Achmad Royhan, Selasa.

Royhan menceritakan, Citilink memulai perjalanan digital pada 2008, yakni dengan berjualan tiket pesawat secara dalam jaringan atau daring (online). Pada 2013, Citilink menerapkan teknologi komputasi awan guna menyimpan data raksasa. Penerapan itu dilatarbelakangi proses pemesanan tiket yang berlangsung lambat, apalagi sedang ada promo.

Setahun kemudian, pemesanan tiket Citilink dapat melalui aplikasi ponsel. ”Proses ini bukan proses yang mudah. Kami harus meyakinkan manajemen dan organisasi perusahaan untuk terlibat dalam transformasi digital,” ujar Royhan.

Tim yang fokus mengurus transformasi digital di Citilink awalnya terdiri atas 25 orang. Namun, saat ini teknologi digital justru menjadi salah satu pilar organisasi perusahaan. Royhan mengatakan, transformasi digital berdasarkan pengalamannya mulai dari unit yang kecil dan uji coba yang sederhana tetapi berdampak besar.

Dari 2014 hingga saat ini, penumpang Citilink meningkat 24 persen. Kenaikan ini diiringi dengan peningkatan efisiensi kinerja sistem teknologi informasi sebesar 60 persen.

Investasi dan data
Jika perusahaaan berorientasi pada prioritas digital, investasinya ditanamkan pada sektor transformasi teknologi. Mevira mengatakan, pada 2018 perusahaan paling banyak akan berinvestasi pada teknologi analisis data raksasa dan komputasi awan.

Selain itu, perusahaan juga akan memperlakukan data sebagai aset. Lebih dari itu, data dapat dinilai perusahaan sebagai sumber pendapatan baru.

Selain itu, analisis data raksasa memudahkan perusahaan untuk mengenal pelanggannya secara lebih pribadi. ”Dengan mengenal, kita dapat lebih mendekatkan diri pada pelanggan karena tahu kebutuhan mereka,” ujar Haris.

Teknologi analisis data raksasa dimanfaatkan oleh PT Citilink Indonesia dalam kartu loyalitas pelanggan yang disebut Garuda Miles. Royhan mengatakan, transformasi digital yang memungkinkan data dan otomatisasi dapat meningkatkan performa pelayanan pada pelanggan.

Pelanggan Citilink meningkat dalam tiga tahun terakhir. Royhan memaparkan, pada 2015 jumlah pelanggannya sekitar 9 juta orang, pada 2016 sekitar 11 juta orang, dan pada 2017 mencapai 12,3 juta orang. (DD09)

Sumber: Kompas, 14 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: