Home / Berita / Terang Jejak Sang Pendobrak

Terang Jejak Sang Pendobrak

Di Bandung, Bacharuddin Jusuf Habibie punya jejak romantis sekaligus fantastis. Gula-gula masa remaja, karya yang bakal dikenang hingga sosok yang ramah dermawan terpatri erat di kota kembang.

Pesawat itu masih tersimpan rapi di hanggar PT Dirgantara Indonesia (DI), Kota Bandung, Jawa Barat. Warnanya masih terang. Putih di bagian atas dan biru di sisi bawah. Pada bagian depan badan pesawat terdapat tulisan Gatotkaca. Pesawat dengan kapasitas 50 penumpang itu merupakan purwarupa pertama dari N-250 yang terbang perdana pada 10 Agustus 1995.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Pesawat N-250 karya Presiden ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie disimpan di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (12/9/2019). Habibie wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9), pukul 18.05.

Purwarupa kedua bernama Krincing Wesi terbang perdana pada 1996. Sementara rencana pembuatan purwarupa ketiga dan keempat terhenti karena krisis ekonomi pada 1997. Proyek N-250 dihentikan sebelum sempat diproduksi.

Untuk memulihkan ekonomi nasional, pemerintah mengajukan pinjaman ke International Monetary Fund (IMF). Celakanya, IMF mensyaratkan Indonesia tak melanjutkan proyek N-250. Syarat itu diduga berkaitan dengan persaingan industri dirgantara dunia.

KOMPAS/ HERU SRI KUMORO–Sebagian pesawat N250 dipamerkan dalam Habibie Festival di Museum Nasional, Jakarta, Minggu (14/8/2016). Pameran yang antara lain menampilkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut digelar untuk memperingati ulang tahun ke-80 mantan Presiden BJ Habibie.

”Jika proyek N-250 dilanjutkan dan diproduksi massal, itu sangat berpotensi menjadi saingan produk pesawat jenis ATR dari negara lain,” ujar Pelaksana Tugas Sekretaris Perusahaan PT DI Irlan Budiman, Kamis (12/9/2019).

Pesawat N-250 tak hanya unjuk gigi di dalam negeri. Pesawat dengan panjang 26 meter itu juga diterbangkan di Perancis saat mengikuti Paris Air Show pada 1997. Ajang ini merupakan pameran industri dirgantara tingkat dunia.

Dilengkapi sistem Fly by Wire, N-250 mencuri perhatian. Sistem ini diyakini memudahkan pesawat saat memakai landasan. ”Ini membuat dunia melek. Indonesia mampu membuat pesawat terbang dengan teknologi paling canggih di kelasnya,” ujarnya.

Lebih 24 tahun berlalu sejak terbang perdana, pesawat N-250 masih tersimpan di hanggar meski Habibie, perancangnya, sudah berpulang, Rabu (11/9). Jejaknya menginspirasi banyak hal. Proyeknya berhenti, tetapi semangatnya justru membuat anak bangsa lebih percaya diri untuk berkarya.

Sejak 2007, PT DI merintis pembuatan pesawat N-219. Proyeknya masih berjalan dalam memenuhi sertifikasi jam terbang. Sertifikasi ditargetkan selesai tahun ini. Jika target itu tercapai, N-219 dapat diproduksi tahun depan. Pesawat bermesin ganda dengan kapasitas 19 penumpang itu dirancang dapat mendarat di landasan pendek, 400-600 meter. Kualifikasi ini dinilai cocok digunakan untuk menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.

Irlan mengatakan, dalam tahapan riset, pihaknya mempelajari sejumlah wilayah 3T di sejumlah daerah. Hasilnya, masih ditemukan landasan yang tidak memadai untuk pendaratan pesawat berbadan besar. Proyek N-219 memang bukan kelanjutan dari N-250. Namun, pencapaian N-250 menjadi pijakan bagi generasi saat ini akan kemampuan bangsa Indonesia bersaing di industri dirgantara.

”Jadi, semangat Pak Habibie yang kami teruskan. Berkarya di bidang dirgantara untuk membangun bangsa,” ujarnya. Jejak Habibie di PT DI (dahulu Industri Pesawat Terbang Nusantara atau IPTN) tak hanya dalam karya pesawat terbang. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, itu juga menanamkan nilai-nilai optimisme dalam bekerja.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Pesawat N219 – Pesawat N219 seusai mendarat setelah terbang perdana di PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2015). Pesawat ini menjadi pembuktian bahwa seluruh pengerjaan mulai rancang bangun, testing, sertifikasi, sampai produksi seluruhnya dilakukan anak bangsa, tanpa asistensi teknik dari bangsa asing.

”Pak Habibie selalu memotivasi karyawan agar optimistis. Ia penyemangat dan mengajarkan untuk berbesar hati,” ujar Manajer Komunikasi Perusahaan dan Promosi PT DI Adi Prastowo. Pada Kamis siang, ratusan pegawai PT DI melaksanakan shalat ghaib di Masjid Habiburrahman atas berpulangnya Habibie. Masjid itu juga diresmikan Habibie pada 11 Maret 1994.

Saat itu, Habibie menjabat sebagai menteri negara riset dan teknologi. Di atas prasasti peresmian masjid terukir nama Habibie dan istrinya, almarhumah Hasri Ainun Habibie. ”Kami mendoakan Pak Habibie mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Kebetulan masjid ini juga diresmikan oleh beliau,” ujarnya.

Doa juga datang dari Sekolah Menengah Atas Kristen (SMAK) Dago, Bandung. Habibie adalah siswa angkatan tahun 1952 di sekolah yang berdiri tahun 1950 itu. Kepala SMAK Dago Rosmian Simorangkir mengenang jejak sang motivator dengan bangga dan bahagia. ”Kenangan terakhir bersama saat 2016 lalu. Itu kali terakhir beliau berkunjung ke sini. Itu pun datang mendadak, tak ada pemberitahuan. Beliau kangen,” kata Rosmiar.

Nostalgia pun mengalir. Suasananya sangat cair karena ingatan Habibie masih sangat kuat di usia senja. Salah satunya, saat siswa yang dikenal cerdas ini diminta turun kelas ke SMP Negeri 5 di Jalan Jawa, Bandung. Kepala sekolah saat itu menilai Habibie muda belum terlalu fasih bahasa Indonesia. ”Lulus dari sana, Pak Habibie baru masuk lagi ke SMAK Dago,” katanya.

Sistem kendali di cockpit N219 dipamerkan pada pameran Forum Inovasi di Puspiptek Serpong 13 April 2015.–Kompas/Yuni Ikawati (YUN)–13-04-2015

Dalam kunjungan tiga tahun lalu itu, Habibie juga masih hafal di mana kelasnya berada. Tak lupa, ia mengunjungi aula yang menyimpan kisah romantis bersama istrinya, Hasri Ainun Besari Habibie. Saat itu, Ainun adalah adik kelas Habibie.

”Beliau bilang, ada salah seorang guru bilang agar ia menikah dengan Ainun. Mereka dianggap pandai dalam ilmu pasti. Bila menikah, pasti menghasilkan keturunan yang cerdas dan pintar,” katanya.

Akan tetapi, bagi Rosmian, kenangan dan jejaknya lebih dari sekadar kemampuan akademisnya. Menurut dia, Habibie adalah contoh kekuatan Indonesia yang dibangun lewat keberagaman. Meski berbeda keyakinan, ia tidak ragu menempuh pendidikan di SMAK Dago. ”Cikal bakal saya seperti saat ini, di sinilah proses nilai tambah pribadi saya,” kata Rosmiar, mengulang apa yang dikatakan Habibie.

Pancaran doa juga mengalir dari warga di Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Bandung. Warga di sekitar rumah Habibie itu melakukan shalat ghaib di Masjid Nurul Iman, Rabu malam.

”Tadinya kami ingin mendoakan beliau lekas sembuh karena beberapa hari terakhir media mengabarkan kesehatannya menurun. Ternyata Allah SWT berkehendak lain. Beliau sudah tiada. Jadi, kami langsung menyelenggarakan shalat ghaib untuk mendoakan beliau,” ujar Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid Nurul Iman, Sukmana (42).

Sukmana mengenal Habibie sebagai figur dermawan. Habibie rajin membantu dan bersedekah. Beberapa di antaranya pembangunan Masjid Nurul Iman dan pemakaman umum untuk warga RW 004, Kelurahan Isola, dan dapur jompo yang tak jauh dari rumahnya. ”Pak Habibie mengingatkan pengurus masjid untuk tetap memegang teguh agama dan menjalankan ibadah. Beliau mengingatkan untuk tetap menjaga persatuan bangsa,” ujarnya.

Aan (61), istri Ketua RT 001 RW 004 yang menjadi pengawas Dapur Jompo menuturkan, kegiatan di Dapur Jompo berlangsung sejak 1982. Dapur ini membagikan makanan untuk warga jompo dari pukul 09.00-11.00 WIB. Saat ini, warga lanjut usia yang mendapatkan makanan dari Dapur Jompo berjumlah 18 orang. Aktivitas di panti jompo itu tidak pernah berhenti sampai sekarang.

KOMPAS/ HERU SRI KUMORO–Presiden Joko Widodo memberi hormat kepada almarhum Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie saat tiba di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9/2019).

”Kegiatan itu berlangsung setiap hari, tidak berhenti. Jadi, nanti ada beberapa relawan yang mengambil makanan dari rumah Eyang (Habibie). Ada beras, telur, ikan, dan lain-lain. Saat para relawan masak, para jompo bercengkerama sambil menunggu makanan siap dibagikan. Kami semua merasakan kebaikan beliau,” tuturnya.

Selamat jalan Pak Habibie. Kenangan padamu akan terus hidup di Bandung. Tempat di mana banyak orang selalu merindukan kehadiranmu.

Oleh MACHRADIN WAHYUDI RITONGA/SAMUELOKTORA/TATANG MULYANA SINAGA)

Sumber: Kompas, 13 September 2019

Share
x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: