Home / Berita / Astronomi / Teknologi Menggapai Bulan

Teknologi Menggapai Bulan

TANGGAL 16 Juli 1969 Apollo 11 diluncurkan dari Cape Canaveral dengan membawa tiga orang astronot: Neil Amstrong, Edwin Aldrin, dan Michael Collins. Empat hari kemudian, 20 Juli 1969, modul pendaratan Eagle berhasil mendarat di Bulan dengan dua orang astronot, Amstrong dan Aldrin. Berikutnya, pada tanggal 24 Juli 1969, ketiga astronot kembali dengan selamat ke Bumi setelah tinggal selama 21,5 jam di Tranquillity Base.

Sukses Apollo 11 tersebut sekaligus memenangkan Amerika Serikat dalam perlombaannya dengan Uni Soviet untuk menjadi negara nomor satu di antariksa. Perlombaan itu dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Penjelajahan
PARA filsuf Yunani jaman Pythagoras percaya bahwa Bulan adalah sebuah dunia. Mereka mencoba menaksir ukuran dan jaraknya. Hasilnya tidak terlampau jauh menyimpang. Sejak saat itulah spekulasi mengenai ‘dunia lain’ tersebut dimulai. Orang pun mulai mereka-reka keadaan alam, bertanya-tanya tentang kemungkinan ada tidaknya kehidupan, dan —akhirnya— menulis gagasan dan cerita tentang penjelajahan ke dunia yang misterius dan romantis itu.

Orang pertama yang menulis tema klasik tersebut adalah Lucian dari Samosata yang hidup pada abad kedua. Dalam bukunya, True History, pahlawan Lucian sampai ke Bulan karena pancaran air yang menimpa perahunya saat berlayar di balik pilar-pilar Hercules, suatu daerah yang kala itu dikenal orang sebagai tempat di mana segala sesuatunya dapat terjadi.

Dalam bukunya yang kedua, pahlawan Lucian pergi ke Bulan dengan menggunakan sepasang sayap dan lepas landas dari Gunung Olympus. Saat itu, tahun 160, tidak disadari bahwa ada perbedaan fundamental antara aero astronotika. Dan dengan memiliki sepasang sayap, dianggap perjalanan ke Bulan sudah dapat dilakukan.

Orang kembali mengangkat tema ini lima abad kemudian saat iklim intelektual sudah jauh berbeda. Ketika itu, kepercayaan akan Bumi sebagai pusat alam semesta mulai digugat. Di atas semua itu, yang terpenting adalah penemuan teleskop oleh Galileo.

Yang tampil menulis kali ini adalah Johannes Kepler, astronom terbesar pada jamannya. Kepler menulis dengan serius karena dialah yang menunjukkan hukum yang mengatur gerak planet dan gerak wahana antariksa yang dikenal dengan hukum Kepler.

Dalam tulisannya, yang tidak sempat dipublikasikan, Somnium, Kepler mengirim pahlawannya ke Bulan dengan cara supranatural. Hal ini bisa dimengerti karena Kepler hidup di jaman yang masih percaya pada sihir dan semacamnya. Tanpa ragu-ragu Kepler menggunakan cara yang melibatkan ‘kekuatan gaib’ karena dia tidak tahu cara lain untuk mengirim seseorang ke Bulan.

Berbeda dengan Lucian, Kepler sudah tahu benar bahwa tidak ada udara antara Bumi dan Bulan, kendati dia percaya bahwa Bulan pun punya atmosfer dan berpenghuni.

Tahun-tahun berikutnya masalah ini masih saja menjadi tema yang menarik. Yang menarik untuk dikemukakan di sini adalah penulis buku Voyages to the Moon and the Sun (1656), Cyrano de Bergerac. Cyrano sudah menggunakan roket dan yang lebih mengejutkan adalah digunakannya ramjet!.

Dua abad kemudian, diselingi beberapa penulis lain, tampil penulis legendaris Jules Verne dengan bukunya From the Earth to the Moon (1865). Verne tahu betul bahwa jika sebuah benda dapat dilemparkan ke luar Bumi dengan kecepatan yang cukup, maka benda tersebut akan bisa sampai sampai ke Bulan. Dan Verne pun mengirim pahlawannya ke Bulan dengan alat semacam proyektil. Semua perhitungan, waktu, dan kecepatan untuk melanglang buana ke Bulan dikerjakan dengan mendetil oleh iparnya yang seorang profesor astronomi.

Yang menarik dari ide Verne adalah digunakannya roket sebagai pengendali saat mencapai ruang angkasa. Verne paham betul, sementara banyak orang sesudahnya tidak, bahwa roket dapat bekerja di tempat yang tidak mengandung udara, kendati Verne tidak pernah berfikir menggunakannya untuk seluruh perjalanan.

Verne tidak tahu bagaimana cara membawa pulang pahlawannya dengan selamat. Untuk itu diperlukan penerbangan mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi di lautan sebagaimana dilakukan, seabadkcmudian, oleh astronot Mercury dan Gemini.

Misi Luna Soviet
KENDATI penjelajahan imajiner telah dilakukan orang sejak jaman Pythagoras, namun penjelajahan yang sebenarnya baru dimulai lebih dari sembilan belas abad kemudian.

Tahun 1958 baik Amerika Serikat dan Uni Soviet berupaya untuk dapat mengirimkan ‘utusan’nya ke Bulan. Namun berulang kali mereka mengalami kegagalan. Tercatat empat buah wahana antariksa milik Soviet (Luna 1958A, B, C, dan D) dan empat wahana antariksa milik Amerika (Pioneer 0, 1, 2, dan 3) gagal, bahkan tidak sempat mencapai kecepatan lepas gravitasi Bumi.

Benda langit buatan manusia pertama yang berhasil mendekati Bulan adalah Luna 1 yang diluncurkan Uni Sovict tanggal 2 Januari 1959. Walaupun Luna 1 Soviet gagal mencapai targetnya, menabrak Bulan (?), namun Luna 1 jauh lebih sukses daripada Pioneer 4 Amerika yang diluncurkan dua bulan kemudian, tepatnya 4 Maret 1959. Luna 1 mampu mendekati Bulan pada jarak 5999 km, sedangkan Pioneer 4 hanya dapat mendek ati Bulan dari jarak 60.027 km, sebelum akhirnya menjadi benda langit yang mengitari Matahari dengan periode 407 hari.

Luna 1, yang disebut ‘Mechta’ (‘Mimpi’), segera diikuti oleh misi Luna yang lain. Luna 2 yang diluncurkan 12 September 1959 berhasil menabrak Bulan setelah menempuh perjalanan selama 35 jam (bandingkan dengan pendaratan Apollo 11 yang memerlukan lebih dari 102 jam).

Sebulan kemudian, tepatnya 4 Oktober 1959, Soviet kembali meluncurkan Luna 3. Misi Luna 3 yang dirancang agar tertangkap medan gravitasi dan mengorbit Bulan, karena kesalahan perhitungan malah justru ‘terlempar’ menjauhi Bulan. Meskipun demikian, kesalahan perhitungan tersebut menyebabkan Luna 3 menjadi wahana antariksa pertama yang berhasil memotret punggung Bulan, bagian yang tidak tampak dari Bumi.

Amerika Serikat yang sudah ketinggalan jauh dari Uni Soviet bahkan gagal meluncurkan Atlas Able 4 tanggal 26 November 1959. Misi yang dimaksudkan untuk mengorbit Bulan tidak berhasil mengangkasa karena kegagalan boosternya.

Selama dua tahun kemudian, sampai awal tahun 1962, tak satu pun wahana antariksa yang berhasil dikirim ke Bulan. Ranger 3 AS, diluncurkan tanggal 26 Januari 1962, yang direncanakan mendarat di Bulan tetapi karena kesalahan peluncuran hanya mampu mendekati Bulan dari jarak 32.000 km. Bahkan koreksi orbit yang dimaksudkan untuk mendekatkan Ranger 3, malah membuat titik terdekat antara Ranger 3 dengan Bulan makin jauh, yaitu menjadi 36.785 km sedangkan titik terdekat nominalnya 32.000 km.

Ranger 4 yang diluncurkan tanggal 23 April 1962 men-jadi wahana antariksa AS pertama yang menabrak Bulan. Sebenarnya misi ini adalah misi pendaratan, bukan untuk menabrak Bulan.

Ranger 5 yang diluncurkan tanggal 18 Oktober 1962 hanya mendekati Bulan pada jarak 724 km (tanggal 21 Ok-tober 1962) dari rencana pendaratan. Sedangkan Ranger 6 yang diluncurkan tanggal 30 Januari 1964, karena kerusakan kamera, tidak dapat mengirimkan apa-apa dan akhirnya menabrak Bulan.

Soviet melanjutkan seri Lunanya dengan Luna 4 yang diluncurkan tanggal 2 April 1963 dan hanya mampu melintas Bulan pada jarak 8500 km. Nampaknya Soviet menggunakan seri Luna 4 sampai dengan 8 untuk mencari informasi mengenai pendaratan mulus (soft landing). Di samping kegagalan Luna 4 dan 6, yang tidak sempat menyentuh permukaan Bulan, Luna 5, 7, dan 8 Soviet semuanya menabrak Bulan. Luna 5 yang diluncurkan pada tanggal 9 Mei 1965 dan Luna 8 yang diluncurkan pada tanggal 3 Desember 1965 menabrak Bulan karena kegagalan pada sistem retroroketnya. Sedangkan kegagalan mendarat Luna 7 yang diluncurkan pada tanggal 4 Oktober 1965 disebabkan oleh kegagalan skenario pendaratan.

Sementara Soviet sibuk dengan tes pendaratan mulusnya yang banyak mengalami kegagalan, Amerika menembus serangkaian kegagalannya dengan kesuksesan peluncuran Ranger 7 pada tanggal 28-Juli 1964. Misi yang dimaksudkan untuk menabrak Bulan berhasil mengirimkan gambar-gambar Bulan dengan resolusi tinggi sebanyak 4308. Sukses ini disusul misi serupa, Ranger 8 yang diluncurkan pada tanggal 17 Fcbruari 1965, dan mendapatkan 7137 foto. Sedangkan Ranger 9 yang diluncurkan tanggal 21 Maret 1965 mendapatkan lebih dari 5800 foto.

Tahun Keemasan
PADA Luna 9 yang diluncurkan tanggal 31 Januari 1966, Uni Soviet dcngan gemilang mampu mendaratkan wahana antariksanya dengan pendaratan setengah mulus (semi soft landing) pada tanggal 3 Februari 1966 dan sekaligus mengirimkan foto permukaan Bulan untuk pertama kalinya. Luna 9 mendarat di bagian barat Oceanus Procellarum dan mengirimkan foto tiga hari. Sukses ini disusul oleh Luna 10, diluncurkan pada tanggal 31 Maret 1966, yang berhasil mengorbit Bulan sesuai dengan rencana.

Nampaknya tahun 1966 adalah tahun yang penuh dengan kesuksesan. AS berhasil mengirimkan dua wahana antariksa seri baru, yaitu Lunar Orbiter 1 dan 2, yang masing-masing untuk misi mengorbit Bulan dan menabrak Bulan. Kedua misi ini menyusul keberhasilan Surveyor 1 yang diluncurkan tanggal 30 Mei 1966 dan mendarat dengan mulus tanggal 2 Juni 196 juga di Oceanus Procellarum dekat kawah Flamsteed. Sementara itu Surveyor 2, yang diluncurkan tanggal 20 September 1966 gagal mendarat dan menabrak bagian tenggara Copernicus karena kegagalan pada sistem kendalinya.

Uni Soviet melanjutkan seri Luna dengan Luna 11, 12, dan 13. Luna 11 diluncurkan tanggal 24 Agustus 1966 dan berhasil menjadi orbiter keempat. Pada akhir tahun 1966, tepatnya tanggal 22 Desember 1966, Soviet kembali berhasil mendaratkan Luna 13 dan misi ini berakhir delapan hari setelah pendaratan.

Misi Apollo
SELAMA tahun 1967, tak kurang dari tujuh wahana antariksa milik AS berhasil mengorbit atau-pun mendarat di Bulan, yaitu Lunar Orbiter 3 (diluncurkan 5 Februari), Surveyor 3 (17 April), Lunar Orbiter 4 (4 Mei), Explorer 35 (19 Juli), Lunar Orbiter 5 (1 Agustus), Surveyor 5 (8 September), idan Surveyor 6 (7 November). Hanya Surveyor 4 yang gagal dan kehilangan kontak sesampainya di Bulan, sedangkan Soviet gagal dengan Zond 1967A-nya.

Tahun 1967 adalah titik balik untuk AS. AS yang semula selalu ketinggalan dalam perlombaan dan Perang Dinginnya dengan Soviet kini mulai memimpin.

Memasuki tahun 1968, Soviet selain melanjutkan seri Luna 14 juga melakukan testing dalam upaya penerbangan berawak ke Bulan melalui misi Zond 4, 5, dan 6. Sementara AS muncul dengan Surveyor 7-nya dan menutup tahun 1967 dengan penerbangan berawak mengorbit bulan untuk pertama kalinya melalui misi Apollo 8.

Tahun 1969 AS mengkonsentrasikan diri pada misi Apollo. Tanggal 18 Mei 1969 kembali AS berhasil mengorbitkan Apollo 10 dan mencanangkan pendaratan manusia melalui misi Apollo 11 pada tanggal 16 Juli 1969.

Uni Soviet, yang sudah ketinggalan, berupaya untuk mendaratkan wahana antariksa tak berawak, mengambil sampel, dan membawanya kembali ke Bumi sebelum astronot AS menjejakkan kaki di Bulan. Misi Luna 15 yang diluncurkan Soviet tiga hari sebelum Apollo 11 nampaknya dimaksudkan untuk tujuan itu. Tetapi Luna 15 gagal mendarat dengan baik dan akhirnya jatuh menabrak Bulan.

Sementara itu AS dengan Apollo 11-nya berhasil mendaratkan dua orang astronot pada tanggal 20 Juli 1969 dan memenangkan akhir perlombaan kedua negara. Baru pada misi Luna 16, Uni Soviet berhasil mendaratkan, mengambil sampel (sebanyak 100 gram), dan membawanya kembali ke Bumi. Pada misi Luna 17, Soviet berhasil mendaratkan penjelajah otomatik Lunokhod 1 yang sempat mengembara sejauh 10,5 km melintasi kawah dan menguji bebatuan Bulan.

Kalau Uni Soviet melanjutkan penjelajahannya di Bulan dengan robot-robot otomatik sampai misi Luna 24 (diluncurkan tanggal 9 Agustus 1975) maka Amerika, setelah berhasil mendaratkan astronotnya, menghentikan misi Apollonya sampai dengan Apollo 17 yang diluncurkan tanggal 7 Desember 1972.

Oleh: Rusdi Fatani

Sumber: Majalah AKUTAHU/ OKTOBER 1989

Share
%d blogger menyukai ini: