Home / Berita / Studi di Swedia; Bisa Irit meski Biaya Hidup Tinggi

Studi di Swedia; Bisa Irit meski Biaya Hidup Tinggi

Mahalnya biaya hidup membuat Swedia belum jadi tujuan pelajar Indonesia untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang magister atau doktor. Padahal, Swedia memiliki sejumlah perguruan tinggi yang cukup bersaing di dunia dan industri-industri ternama yang memiliki pengaruh global.

Swedia adalah tempat lahir Nobel, penghargaan ilmu pengetahuan paling prestisius yang diumumkan setiap awal Oktober. Negara utama di kawasan Skandinavia itu juga memiliki sejumlah industri terkemuka yang sudah dan sedang tumbuh di Indonesia, seperti H&M, Ikea, Scania, Skype, Ericsson, Electrolux, ABB, dan Volvo.

Dengan penduduk 10 juta jiwa, Swedia punya tiga universitas yang masuk peringkat 100 dunia dan delapan universitas di peringkat 300 dunia. Lebih dari 1.000 program studi sarjana dan magister diberikan dalam bahasa Inggris.

Kualitas hidup masyarakat Swedia sangat tinggi. Lingkungan hidup mereka terjaga. Sistem kesehatan sangat baik karena ditopang riset dari berbagai universitas. Swedia ada di posisi ke-2 negara paling inovatif dalam Indeks Inovasi Global (GII) 2012.

Dengan berbagai keunggulan itu, banyak siswa Indonesia tetap harus berpikir ulang untuk belajar di Swedia. Biaya hidup di negara itu sangat tinggi, sekitar 9.000 krona atau Rp 15 juta per orang per bulan.

Bagi penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Pemerintah Indonesia, biaya hidup sebesar itu terpenuhi karena siswa menerima 9.400 krona per bulan. Jika membawa keluarga, mereka akan mendapat tambahan biaya hidup 25 persen.

Namun, bagi pelajar Indonesia penerima beasiswa dari universitas dan sejumlah lembaga Swedia, mereka biasanya hanya menerima 9.000 krona. Tak ada tambahan bantuan biaya jika mereka membawa keluarga. Meski demikian, itu bukan berarti mereka tidak bisa hidup. “Karena niatnya ingin belajar, biaya hidup yang terbatas bisa disiasati,” kata Arlisa Febriani, mahasiswi program magister Teknik Sumber Daya Air, Universitas Lund, Kamis (8/10).

Ia tetap bisa hidup bersama suami dan anak balitanya dengan 9.000 krona sebulan. Dari jumlah itu, 6.000 krona habis untuk biaya perumahan. Karena membawa keluarga, Arlisa tak mungkin tinggal di asrama yang hanya butuh sekitar 3.000 krona per bulan.

Alicia Nevriana, mahasiswi magister Kesehatan Masyarakat Institut Karolinska di Stockholm, ibu kota Swedia, juga mengeluarkan 6.000 krona per bulan untuk biaya perumahan. Itu pun lokasinya di pinggiran kota yang butuh waktu sekitar satu jam ke kampus. “Kalau di pusat kota harganya bisa mencapai belasan ribu krona,” katanya. Untungnya, biaya angkutan umum 500 krona sebulan bisa digunakan untuk perjalanan dekat atau jauh.

Biaya makan butuh 2.000-3.000 krona sebulan. Besaran biaya itu hampir sama di seluruh Swedia. Biaya bisa ditekan makin murah jika mengganti beras dengan kentang. Jumlah itu dengan catatan harus masak sendiri dengan selingan satu-dua kali makan di luar rumah dalam satu bulan. Harga makan di luar berkisar 100-150 krona per orang untuk sekali makan.

Dengan biaya makan sebesar itu, siswa Indonesia tetap bisa makan enak dan berkualitas. Menurut Satu Cahaya Langit, mahasiswa magister Ilmu Komputer di KTH-Royal Institute of Technology Stockholm, harga salmon di Swedia jauh lebih murah ketimbang di Indonesia. Terlebih lagi, setiap minggu ada diskon bahan pangan bermutu di beberapa supermarket.

Info diskon itu biasanya langsung disebar ke mahasiswa Indonesia lain. Alhasil, “Menu satu minggu mahasiswa Indonesia bisa sama semua,” kata Roy Thaniago, mahasiswa magister Studi Media dan Komunikasi di Universitas Lund.

Di beberapa kota kecil, seperti Lund atau Umeå, membeli sepeda adalah pilihan terbaik. Dengan harga 500-900 krona, sebuah sepeda bekas berkualitas bisa didapat. Namun, kondisi sepeda harus dipastikan baik karena biaya memperbaiki kerusakan sepeda sekecil apa pun minimal 300 krona atau Rp 500.000.

“Di sini, mahasiswa Indonesia dituntut bisa mengganti ban dalam atau memperbaiki sepeda sendiri,” ujar Roy. Beruntung, ada sejumlah klub yang bisa membantu mahasiswa mempelajari cara memperbaiki sepeda.

Keperluan lain yang cukup mahal di Swedia adalah cukur rambut, yaitu 400 krona atau Rp 670.000. “Karena mahal, saya mencukur rambut sendiri walau hasilnya pasti tidak bagus,” kata Raka Prasetya, mahasiswa magister Manajemen Teknologi Informasi di Universitas Umeå yang sempat menjadi mahasiswa Indonesia satu-satunya di universitas itu pada tahun pertamanya.

Untuk pakaian, mahasiswa Indonesia dan mahasiswa negara lain serta masyarakat Swedia terbiasa membeli baju bekas di sejumlah toko atau pasar yang menjual barang bekas. “Walau bekas, kualitasnya bagus, kok,” ujar Alicia.

Membeli pakaian bekas di Swedia tidak dianggap memalukan. Tindakan itu justru dianggap mulia karena menjaga keberlanjutan alam dan lingkungan, menghemat energi, serta mengurangi sampah. Berkat 1.001 siasat, mahasiswa Indonesia terbukti mampu bertahan dan berprestasi. (MUHAMMAD ZAID WAHYUDI)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Oktober 2015, di halaman 26 dengan judul “Bisa Irit meski Biaya Hidup Tinggi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: