Sosialisasi GMT di Ternate Belum Tampak

- Editor

Kamis, 4 Februari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wilayah Ternate, Maluku Utara, menjadi tujuan banyak orang untuk menyaksikan gerhana matahari total (GMT), 9 Maret 2016. Gerhana matahari total paling lama dapat dilihat dari Ternate yang menjadi bagian dari 12 provinsi di Indonesia yang dapat melihat GMT. Namun, hingga Rabu (3/2), sosialisasi tentang GMT belum tampak.

Di beberapa lokasi strategis tidak ada pemberitahuan. Sejumlah warga tidak tahu akan ada fenomena alam yang langka itu. Jalanan di Ternate masih didominasi baliho berisi pesan politik terkait pemilihan kepala daerah yang baru berakhir. Sofian (34) mengaku tidak mengetahui tentang GMT. “Setiap hari saya melayani warga di sekitar pusat kota. Selama ini tidak ada sosialisasi,” ujar tukang ojek itu. Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Pemkot Ternate Sutopo Abdullah mengatakan, sosialisasi sudah dilakukan, tetapi belum masif. Paling lama akhir pekan ini, semua lokasi strategis sudah dipasang baliho. Saking istimewanya lokasi Ternate, salah seorang putri Raja Thailand dikabarkan akan menyaksikan GMT dari Ternate. (FRN)
———————–
Insentif Dana Riset untuk Perguruan Tinggi

Saat ini, riset belum banyak menghasilkan produk pangan dan obat-obatan yang dapat menguatkan ekonomi dalam negeri. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, riset bioteknologi perlu didorong untuk memaksimalkan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berjumlah 28.000 jenis tanaman di Indonesia. “Inovasi dan penelitian di pendidikan tinggi merupakan daya ungkit ekonomi nasional. Jika inovasi tinggi, akan ada lompatan pertumbuhan ekonomi. Tugas utamanya, bagaimana inovasi bisa meningkatkan daya saing,” kata M Nasir dalam kuliah umum bertajuk “Sumber Daya Manusia Indonesia yang Melek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Eksplorasi Keanekaragaman Hayati Indonesia hingga Berdaya Saing di Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)” yang diadakan Universitas Atma Jaya Jakarta, Rabu (3/2), di Jakarta. Kemenristek dan Dikti mengarahkan dukungan riset yang berorientasi pasar dan permintaan. Perguruan tinggi yang mengadakan riset didorong agar hasil risetnya meningkat. Caranya dengan pemberian insentif alokasi pendanaan. (C07)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Februari 2016, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru