Home / Berita / Sistem Keselamatan Reaktor Tinggi

Sistem Keselamatan Reaktor Tinggi

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menargetkan pembangunan reaktor daya eksperimental (RDE) bisa dilakukan tahun 2021. RDE berkapasitas 10 megawatt termal (MWt) yang menghasilkan listrik 3 megawatt elektrik (MWe) itu akan memakai reaktor generasi terbaru dengan tingkat keselamatan tinggi.

Teknologi reaktor yang digunakan adalah reaktor berpendingin gas temperatur tinggi (HTGR). Pendingin yang digunakan bukan air seperti reaktor generasi sebelumnya, tapi gas helium. Reaktor generasi keempat ini mulai dilirik kembali sejumlah negara karena memiliki tingkat keselamatan tinggi.

“Tipe reaktor ini bisa menyelematkan diri sendiri jika terjadi kecelakaan karena dilengkapi sistem keselamatan melekat dan pasif,” kata Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Batan Suryantoro di Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (16/11/2018).

KOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Rancangan Kompleks Reaktor Daya Eksperimental yang dibangun Badan Tenaga Nuklir Nasional di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan. Reaktor berkapasitas 10 mega watt termal atau setara 3 mega watt elektrik ini akan menggunakan teknologi reaktor generasi terbaru dengan tingkat keselamatan tinggi. Diharapkan, reaktor sudah mulai dibangun pada 2021.

Saat terjadi kecelakaan, bahan bakar uranium pada reaktor HTGR tidak meleleh dan menyebarkan radiasi berlebih ke lingkungan seperti yang terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang yang rusak akibat gempa dan tsunami 2011.

Bahan bakar uranium pada reaktor HTGR berbentuk bola yang dilapisi grafit dan silikon karbida. Menurut Suryantoro, titik leleh tertinggi uranium mencapai 1.600 derajat celsius, sedangkan grafit dan silikon karbida sekitar 2.600 derajat celsius. Artinya, saat uranium meleleh, sebagian besar radiasinya masih terkungkung dalam lapisan grafit dan silikon karbida sehingga lebih aman bagi lingkungan.

Kepala Bidang Teknik Keselamatan Reaktor Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir Batan Muhammad Subekti menambahkan, saat terjadi kecelakaan, daya reaktor HTGR akan melemah sendiri. Situasi itu lebih memudahkan pengendalian reaktor saat terjadi kecelakaan dibanding dengan pengendalian reaktor generasi sebelumnya, yaitu reaktor air bertekanan (PWR) yang kini banyak digunakan.

Jenis reaktor HTGR sebenarnya pernah dioperasikan tahun 1960-an tapi dihentikan karena masalah politik. Sekarang, China jadi negara yang mengoperasikan HTGR dengan daya terbesar, yaitu 3 x 200 MWe.

Selain keamanan tinggi, reaktor HTGR yang dikembangkan Batan bisa diperbesar atau diperkecil skalanya hingga pemanfaatannya bisa digunakan sesuai kondisi wilayah. HTGR dengan daya besar bisa dikembangkan di Jawa, Sumatera dan Bali, sedang skala lebih kecil untuk daerah Indonesia timur.

Lebih ekonomis
“Penggunaan HTGR skala kecil lebih ekonomis dibanding membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Bahan bakar HTGR skala kecil cukup dikirim dua tahun sekali, sedangkan bahan bakar PLTU harus dikirim berkala,” katanya. Karena ukurannya kecil, skala keselamatannya juga lebih kecil sehingga lebih aman bagi sekitar.

Pengembangan RDE itu dilakukan untuk memperkenalkan pengelolaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bagi masyarakat. Meski rencana pembangunan PLTN sudah digagas sejak 1960an, hingga kini PLTN belum bisa diwujudkan. Kekurangpahaman masyarakat tentang nuklir dan aspek keselamatannya membuat sebagian masyarakat takut berlebihan dan menolaknya. Padahal, teknologi reaktor sudah berkembang pesat.

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan sebagai lembaga penelitian dan pengembangan Batan tertantang mengembangkan teknologi reaktor terbaru HTGR. Reaktor ini juga sedang ramai dikembangkan berbagai negara karena berbagai keunggulan yang dimiliki.

“Kalau Batan mengembangkan teknologi reaktor yang sudah digunakan saat ini, seperti PWR, dalam bentuk mini, tentu tidak akan banyak berguna,” katanya.

Terlebih, panas tinggi yang dihasilkan reaktor HTGR juga bisa dikembangkan untuk menghasilkan hal lain selain listrik, seperti desalinasi air laut, memproduksi hidrogen, memperkaya kalori batubara muda, pengoperasian sumur minyak tua, pemurnian mineral (smelter), hingga keperluan industri lain. Fungsi ganda HTGR itulah yang membuat banyak negara tertarik mengembangkan reaktor ini.

Desain mandiri
Pengembangan RDE ini juga dilakukan secara mandiri oleh perekayasa Batan. Jumat (16/11/2018) kemarin, tim penyusunan desain RDE Batan menyerahkan desain rekayasa detail ke Kepala Batan. Desain detail itu akan diserahkan secara bertahap ke Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (Bapeten) untuk ditinjau dan disetujui.

KOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Kepala Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Geni Rina Sunaryo beserta tim menyerahkan desain rekayasa detail reaktor daya eksperimental kepada Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto (kedua dari kanan) di Kawasan Nuklir, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (16/11/2018). Reaktor daya eksperimental ini diharapkan akan bisa dibangun pada 2021 dan beroperasi pada 2024 sebagai cikal bakal pembangkit listrik tenaga nuklir Indonesia.

Upaya untuk mendapat persetujuan Bapeten sebenarnya sudah dilakukan sejak 27 Juli 2018 dengan mengirimkan sebagian dokumen desain detail dan dokumen laporan analisis keselamatan. Berbagai desain reaktor itu diharapkan bisa disetujui pada 2020 sehingga izin konstruksi bisa diperoleh pada 2021.

Pengembangan desain detail itu melibatkan berbagai bidang keahlian, mulai dari keamanan dan keselamatan nuklir, desain proses, mekanik, pemipaan, instrumentasi dan kendali, elektrik serta teknik sipil. Selain itu, ahli komunikasi, ekonomi, hukum, dan bidang non teknis lain juga dilibatkan sehingga mempercepat seluruh proses pembuatan RDE.

Perancangan mandiri desain RDE itu membuat biaya pembangunannya bisa ditekan. Semula, dari desain konseptual RDE yang disusun konsorsium perusahaan Jerman-Indonesia pada 2015 memperkirakan anggaran pembangunan RDE mencapai 300 juta dollar Amerika Serikat atau Rp 4,5 triliun dengan kurs 1 dollar sama dengan Rp 15.000. Dengan rancangan mandiri, kebutuhan anggarannya diperkirakan hanya Rp 1,5 triliun.

“Meski anggaran bisa ditekan, aspek keselamatan RDE tetap utama. Tidak ada kompromi untuk aspek keselamatan nuklir,” tegas Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir Batan Geni Rina Sunaryo.

Penghematan itu diperoleh dari banyak hal, seperti penggunaan tenaga ahli yang semuanya berasal dari Batan dan tenaga peninjau dan sertifikasi desain dari Bapeten. Penggunaan tenaga dari kalangan aparatur sipil negara itu membuat negara tidak perlu membayar biaya lagi untuk mempekerjakan tenaga ahli.

Sementara itu, Ketua Tim Penyusunan Desain RDE Batan Topan Setiadipura menambahkan hal yang membuat murah adalah penyusunan desain secara mandiri membuat desain dan hal yang dibutuhkan menjadi lebih pasti. Setiap persoalan yang muncul bisa dicarikan solusi teknisnya yang lebih terukur.

Meski demikian, Topan mengakui tidak mudah dan butuh banyak usaha untuk menyusun sendiri desain reaktor. Tim harus banyak belajar hal baru sehingga memiliki dasar pengetahuan atas setiap pilihan yang diambil. Kemampuan baru itu tidak hanya menantang para perekayasa Batan, namun juga memberi kesempatan para tenaga Bepeten untuk belajar meninjau hal yang baru.

Dengan desain mandiri itu, Djarot yakin target tingkat komponen dalam negeri pada pengembangan RDE ini bisa mencapai lebih dari 60 persen. Kandungan lebih tinggi diharapkan disumbang dari bagian penunjang RDE, seperti turbin, pipa, dan generator yang bisa diproduksi di dalam negeri. Sedangkan kandungan lebih rendah dan masih banyak bergantung dari luar adalah bagian RDE yang terkait dengan reaktor nuklirnya.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 17 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...