Home / Berita / Simpang Susun Semanggi Dapat Apresiasi

Simpang Susun Semanggi Dapat Apresiasi

Integrasi Antarangkutan Publik Masih Belum Maksimal
Infrastruktur jalan layang Simpang Susun Semanggi diresmikan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Ke-72 RI, Kamis (17/8). Di tengah upaya pemerintah menggenjot infrastruktur, Presiden Joko Widodo mengapresiasi pembangunan jalan di salah satu simpul kemacetan Ibu Kota itu.

“Simpang susun ini bukan hanya di jantung ibu kota Jakarta, melainkan juga di negara. Keramaian paling padat juga ada di Semanggi. Saya sangat menghargai kecepatan pembangunannya. Cepat sekali, satu tahun,” ujar Presiden Joko Widodo seusai menekan bel sirene tanda peresmian yang membuka tirai penutup nama “Simpang Susun Semanggi”, Kamis malam.

Turut hadir Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat. Seusai peresmian, presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, mampir di lokasi sekitar lima menit. Sambil tersenyum, ia menyalami Presiden Joko Widodo, Djarot, dan Basuki.

Kemarin, sambil mengacungkan jempol, Presiden secara khusus mengapresiasi kerja mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat. Seiring peresmian, kendaraan pribadi dibolehkan melintas.

Simpang Susun Semanggi merupakan bentang melengkung 80 meter tanpa penyangga. Dua ramp (bidang miring landai) jalan layang membentuk lingkaran eliptik mengelilingi empat jalan semi-melingkar Jembatan Semanggi karya Sutami (Menteri Pekerjaan Umum) yang dibangun pada 1961-1962.

Keberadaan simpang susun itu diharapkan mengurangi kemacetan 20-30 persen. Proyek itu menelan dana Rp 360 miliar yang dikerjakan PT Wijaya Karya sejak April 2016 dan terhitung selesai konstruksi Mei 2017.

Dana pembangunan merupakan pembayaran kompensasi koefisien lantai bangunan (KLB) yang diajukan PT Mitra Panca Persada. Dari perhitungan pengajuan KLB, Pemprov DKI menghitung perusahaan itu harus membayar Rp 579 miliar.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Simpang Susun Semanggi, Jakarta, yang baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo, Kamis (17/8). Joko Widodo memuji pengerjaan Simpang Susun Semanggi yang cepat dengan biaya Rp 360 miliar.

Pembayaran tidak dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk infrastruktur. “Saya mengapresiasi keberanian Pak Basuki Tjahaja Purnama mengambil keputusan membangun simpang susun ini. Juga kepada Kepala Dinas Bina Marga Yusmada Faizal,” ujar Djarot.

Sisa dana yang ada digunakan untuk pembangunan trotoar bagi pejalan kaki di sejumlah rute. Di trotoar itu juga akan dilengkapi saluran pipa (ducting) untuk selubung kabel-kabel utilitas sehingga rapi.

Kelengkapan dekorasi
Djarot menyebutkan, pembangunan simpang susun merupakan pengembangan dari Simpang Semanggi yang telah ada. Pembangunan awalnya berdasarkan kajian kemacetan di ruas jalan arteri nasional se-Jabodetabek oleh Kementerian PUPR dan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA). Studi itu dikenal dengan Metropolitan Arterial Road Improvement Project (MARIP) 2011-2012.

Untuk menegaskan Simpang Susun Semanggi saat ini sebagai ikon kedua Jakarta, PT Wijaya Karya melengkapi simpang susun dengan tata cahaya (artlighting) yang apik. Demi mewujudkan tata cahaya, belasan ribu lampu LED dipasang. Kontraktor menggunakan lampu dari Panasonic, Philips, dan produksi Lumascape, Australia.

Lampu LED yang dipesan dari Australia adalah lampu yang dipesan khusus 1.500 unit serta dipasang di bagian bawah jembatan dan tiang penyangga. Lalu, 16.000 lampu dot atau bulb lamp dari Philips dipasang di pagar ruas simpang susun. Lampu dari Panasonic dipasang di jembatan eksisting.

Secara kasatmata, lampu-lampu itu tak terlihat. Di badan simpang susun, lampu-lampu ditutup satu material agar cahaya tak menyebar ke mana-mana. Adapun permainan cahaya dikendalikan sistem khusus dari Jakarta Smart City.

Simpang Susun Semanggi mulai dibangun 16 Maret 2016 dengan peletakan batu pertama oleh Basuki Tjahaja Purnama. Adapun desainnya dikerjakan Achmad Noerzaman dan tim arsitek Arkonin.

Integrasi Koridor 13
Hampir bersamaan dengan peresmian Simpang Susun Semanggi, Jakarta juga meresmikan jalur Transjakarta Koridor 13 yang menghubungkan kawasan Tendean, Jakarta Selatan, dengan Ciledug, Kota Tangerang, sepanjang 9,3 kilometer.

Namun, integrasi antarangkutan yang berhubungan dengan Koridor 13 dinilai belum maksimal. Saat ini, integrasi baru menyambung pada Koridor 1 rute Blok M-Kota dan Koridor 8 rute Lebak Bulus-Harmoni.

Meski demikian, menurut rencana, semua angkutan yang melintas di Koridor 13 akan terintegrasi, baik dengan angkutan massal cepat (MRT), bus penghubung menuju stasiun terdekat, maupun antarkoridor Transjakarta lainnya.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Bambang Prihartono mengatakan, semua angkutan direncanakan terintegrasi. Saat ini masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Koridor 13. “Seperti yang disampaikan Pak Gubernur, yang penting syarat dasar (sertifikat laik fungsi) sudah ada dulu. Nanti kekurangan minornya bisa sambil jalan, termasuk integrasi dengan angkutan lain,” ujarnya.

Mengenai keterpaduan dengan MRT, Bambang menyampaikan masih akan menunggu proyek itu selesai dulu. Namun, itu dipastikan akan menyambung dengan Halte CSW yang berada di atas Mabes Polri, Jakarta Selatan. “Nanti baru dibangun kalau sudah selesai. Bisa saja dibangun sky bridge juga. Yang penting selalu kami lakukan pemantauan. Integrasi memang menjadi urusan kami,” katanya.

Menanggapi keluhan pengemudi Metromini S69 yang merasakan penurunan pendapatan sekitar 50 persen setelah beroperasinya Koridor 13, BPTJ menyatakan ada solusinya. “Mereka juga harus berubah agar kualitas angkutan umum semua sama. Jadi, harus ber-AC sehingga penumpang merasa nyaman dan aman,” ujar Bambang.

Minitrans merupakan salah satu rencana yang akan ditawarkan sebagai solusi bagi pengemudi metromini. Syaratnya, siap bersinergi.

Lebih luas, integrasi antarangkutan itu diharapkan mewujudkan sistem transportasi yang andal sehingga memberikan kenyamanan dan keamanan penumpang. Itu juga terkait harapan pemerintah menuju masyarakat yang mengandalkan angkutan publik. (HLN/INA/DD04/DD13)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Agustus 2017, di halaman 31 dengan judul “Simpang Susun Semanggi Dapat Apresiasi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: