Home / Berita / SHELL ECO-MARATHON ASIA 2015; Sampai Jumpa Lagi, Jangan Lelah Berinovasi

SHELL ECO-MARATHON ASIA 2015; Sampai Jumpa Lagi, Jangan Lelah Berinovasi

Jalanan di Luneta Road di kawasan One Rizal Park, akhir Februari 2015, menjadi episentrum perhelatan Shell Eco-Marathon Asia. Tahun ini, enam prestasi diboyong Indonesia yang mengirim 23 tim mahasiswa dari 17 perguruan tinggi. Total 130 tim bertarung dari 17 negara di Asia, Timur Tengah, dan Pasifik.

Jika ukurannya juara, capaian tahun ini menurun. Tahun 2014, tim Indonesia mengantongi tujuh prestasi, empat di antaranya juara pertama. Tahun ini, tiga tim menyapu juara I, II, dan III kategori konsep urban bahan bakar diesel. Dua tim juara II dan III kategori konsep urban bahan bakar etanol (gasoline alternative). Satu tim juara III kategori prototipe bensin.

Pada dasarnya, kompetisi inovasi mahasiswa itu merupakan ajang membangun unit kendaraan paling irit. Peserta bisa memilih sumber energi minyak diesel, bensin, etanol, gas alam terkompresi (CNG), hidrogen, dan baterai.

Satu tim terdiri atas delapan mahasiswa di luar dosen pembimbing.

Pencapaian
Pada kategori konsep urban berbahan bakar diesel, tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2 mencatat jarak tempuh terjauh 152,7 kilometer per liter (km/l), disusul tim Cikal Diesel Institut Teknologi Bandung (ITB) sejauh 136,9 km/l, dan tim Bengawan II Universitas Sebelas Maret (UNS) sejauh 99,2 km/l.

Pada kategori konsep urban bahan bakar etanol, tim Horas Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) juara II dengan jarak tempuh 134,7 km/l, disusul juara III tim Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta (89 km/l). Juara I tim LH-Gold Energy Lac Hong University Vietnam (164,4 km/l).

Sementara juara III kategori prototipe bensin diraih Batavia Generation Universitas Negeri Jakarta (484,5 km/l), jauh tertinggal dibanding juara I dari tim ATE.1 Kong Thabbok Upatham Changkol Ko So Tho Bo School Thailand (1.490,2 km/l).

Catatan khusus bisa diberikan kepada tim ITS. Mereka juara bertahan sejak SEMA 2011. ”Ini karena kerja tim yang solid,” kata Manajer Tim ITS 2 Rizaldy Hakim Ash Shiddieqy.

Sebelumnya, ia menargetkan kendaraan ”Sapu Angin” mencapai jarak 300 km/l. Namun, terkendala lintasan, pada tahun ini berupa beton cor, berbeda dengan tahun lalu berupa aspal.

Adapun Manajer Tim Horas Mesin USU Arie menyatakan, mereka akan meningkatkan performa mesin dan kemampuan mengemudi hingga penguasaan lapangan.

Bukan mainan
Ajang SEMA 2015 merupakan perhelatan ke-6. Berbagai persyaratan dan ujian menghadang untuk memastikan unit kendaraan tak hanya irit, tetapi juga aman bagi pengemudinya.

Prototipe kendaraan peserta bukanlah mainan untuk melintas berkeliling Luneta Road sejauh 10 kali 1,2 kilometer. Namun, diharapkan menjadi wajah kendaraan sesungguhnya. Untuk itu, ada tahap inspeksi teknis, di mana kendaraan rakitan itu diuji ketat dalam 10 stasiun dengan lebih dari 240 titik pengecekan. Tahap ini menjadi ”neraka” bagi banyak tim.

Tim Bengawan 1 UNSmerasakan jam-jam kritis, ketika dihadapkan kualitas baterai tak standar. Saat uji teknis, baterai kendaraan prototipe elektrik tak menggunakan pengontrol suhu dan pemutus sirkuit. Cemas dan tegang menyelimuti bengkel tim. ”Kami tak tahu jika ternyata baterai kami tanpa pengontrol suhu,” kata Yusra ”Bilal” Sabila, Manajer Tim Bengawan 1, mahasiswa semester enam UNS. Beruntung, ada suku cadang pengganti beberapa saat sebelum kompetisi ditutup.

Pengalaman dan kerja tim, itulah salah satu yang diburu para peserta. Mereka bekerja mulai dari konsep, mencari sponsor/sumber dana, membangun unit, mengirim kendaraan dan perwakilan tim, melewati inspeksi teknis yang rumit, hingga menguji kendaraan di lapangan. Semua itu pengalaman berharga bagi mahasiswa.

”Kami ikut untuk menyalurkan bakat dan keterampilan. Juga mengaplikasikan ilmu di kampus. Syukur-syukur dapat beasiswa,” kata Dwiki Saputro Waluyo (20), mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

Tahun lalu, ia ikut kategori urban bensin. Kini, pindah ke urban etanol. Konsekuensinya, biaya mengulik mesin Rp 5 juta. Ongkos tertinggi pada ekspedisi logistik Rp 60 juta. Dari sisi hadiah tidak besar, yakni 2.000 dollar AS (setara Rp 25 juta) bagi juara pertama.

Pelajaran dan pengalaman itu yang ditanamkan. Inovasi dan terobosan para generasi muda adalah modal awal moda transportasi efisien energi.

Colin Chin, Direktur Teknik SEM Asia, mengatakan, kekurangan tim-tim Asia di antaranya pada bahan dan sifat ergonomis bodi kendaraan. Selain itu, bahan-bahan pembakaran mesin dibuat berbahan keramik.

Namun, dengan segala keterbatasan biaya, ia salut pada tim-tim dari Asia, khususnya Indonesia, yang menunjukkan prestasi dan semangat tinggi. ”Saya pusing menyaring tim dari Indonesia. Animo sangat tinggi, tetapi persyaratan tiap kampus hanya boleh dua tim,” katanya.

Ia mendorong tim dari Asia lebih berani berinovasi agar bersaing dengan tim Shell Eco-Marathon Eropa dan Amerika. ”Jangan lelah berinovasi demi efisiensi energi,” ujarnya. Tahun depan, SEMA masih di Filipina. (ICHWAN SUSANTO)
—————————

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Maret 2015, di halaman 9 dengan judul “Sampai Jumpa Lagi, Jangan Lelah Berinovasi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: