Home / Berita / Semar Proto dan Rakata Meraih Juara Ketiga

Semar Proto dan Rakata Meraih Juara Ketiga

Mobil purwarupa karya Universitas Gadjah Mada Semar Proto dan Rakata dari Institut Teknologi Bandung meraih juara ketiga di kelas purwarupa Shell Eco-Marathon Asia 2019. Semar Proto menang di kategori baterai listrik dan Rakata di kategori pembakaran internal.

Penghargaan diberikan di hari terakhir SEM Asia 2019, Kamis (2/5/2019), di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia. Semar Proto berhasil menorehkan rekor menempuh jarak 387 kilometer dengan menggunakan daya baterai 1 kilowatt per hour (kwh). Juara dua adalah Tim Averera dari Institut Teknologi India dengan rekor 465 kilometer/kwh dan juara satu Tim Huaqi-EV dari Universitas Teknologi China Selatan di Guangzhou. Rekor mereka adalah 502 km/kwh.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Tim Semar Proto Universitas Gadjah Mada memenangi juara ketiga untuk jenis mobil purwarupa kategori baterai listrik di Shell Eco-Marathon Asia 2019. Penghargaan diberikan di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia hari Kamis (2/5/2019).

Zaky Maulana Fikri, anggota Tim Semar Proto UGM menuturkan, mobil mereka kalah secara onderdil dari juara pertama dan kedua. “Onderdil yang bagus biayanya sangat mahal dan harus impor dari China,” ujarnya.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Tim Rakata Institut Teknologi Bandung mendapat peringkat ketiga di lomba mobil purwarupa kategori pembakaran internal di Shell Eco-Marathon Asia 2019 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia pada hari Kamis (2/5/2019).

Sementara Rakata ITB yang menggunakan ethanol mencetak rekor 926 kilometer per liter. Angka ini mengalahkan capaian mereka di tahun 2018, yaitu 560 km/liter. Adapun juara satu ialah Universitas Teknologi Rajamangala dari Thailand dengan rekor 1.547km/liter. Di tempat kedua Universitas Tongji dan China yang capaian mobilnya adalah 966 km/liter.

“Badan Rakata lebih berat dibandingkan mobil-mobil lain. Kami akan coba kembangkan badan yang lebih ringan,” kata Manajer Tim Rakata Fikri Imam Ramadhan.

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 3 Mei 2019

Share
x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: