Segera Revitalisasi Politeknik

- Editor

Senin, 26 Agustus 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mutu politeknik harus diperbaiki untuk memenuhi pekerja pelaksana yang mencapai 85-90 persen kebutuhan tenaga kerja.

Kesenjangan kebutuhan tenaga kerja antara yang diharapkan industri dengan lulusan perguruan tinggi membuat revitalisasi politeknik mendesak dilakukan. Namun, hal itu butuh dukungan dana yang tidak kecil.

Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo di sela-sela Pameran Riset, Inovasi, dan Teknologi (Ritech Expo) 2019 di Denpasar, Minggu (25/8/2019), mengatakan, 85-90 persen tenaga kerja yang dibutuhkan industri berkarakter sebagai pekerja pelaksana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tenaga kerja dengan karakter pekerja pelaksana itu bias dipenuhi politeknik,” katanya.

Nyatanya, sebagian besar lulusan perguruan tinggi justru berkarakter pemikir atau perencana. Jumlah politeknik di Indonesia juga hanya 300-an, jauh lebih kecil dari 4.700-an universitas yang ada. Karena itu, revitalisasi pendidikan vokasi mendesak dilakukan meski tidak murah.

Presiden Joko Widodo, lanjut Patdono, menargetkan lulusan politeknik maksimal tiga bulan sesudah diwisuda harus bekerja. Target itu bisa dicapai dengan menyaratkan mahasiwa politeknik hanya bisa diwisuda jika memiliki minimal satu sertifikat kompetensi.

Nyatanya, banyak mahasiswa politeknik yang gagal saat mengikuti uji kompetensi. Untuk itu, mutu politeknik harus diperbaiki yang dananya diperkirakan Rp 4 triliun-Rp 5 triliun per tahun pada 2020-2024.

Dana itu diperlukan untuk memperbaiki laboratorium dan melatih ulang dosen politeknik yang 90 persen bukan lulusan politeknik sehingga tidak punya kemampuan praktis. Kurikulum politeknik juga perlu diperbaiki yang disusun bersama industri. Politeknik juga butuh dilengkapi lembaga sertifikasi profesi, tempat uji kompetensi, hingga pembangunan teaching factory yang menjadi model industri di kampus.

Lebih mahal
Untuk mendongkrak jumlah lulusan politeknik, pemerintah ingin membangun 150 politeknik baru hingga 2024 dengan anggaran Rp 126 triliun. Jika itu terlalu besar, pilihan lebih murah yang bisa diambil antara
lain memaksa politeknik bekerja dua kali lipat dengan membuka kelas malam, meningkatkan kapasitas politeknik dengan menambah laboratorium dan dosen, serta membuat politeknik satelit atau cabang,

“Pendidikan vokasi memang lebih mahal dibanding universitas karena 70 persen materi adalah praktik kerja. Tanpa investasi memadai, lulusan perguruan tinggi yang punya kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja dan industri sulit diharapkan,” kata Patdono.

Secara terpisah, Manajer Revitalisasi Politeknik Negeri Jember (Polije) Dadik Pantaya mengatakan, perbaikan kurikulum Polije dengan sistem ganda (dual system) yang disusun bersama industri membuat lulusan Polije bisa langsung diserap industri. Bahkan, sebagian besar lulusan Program Studi Produksi
Ternak sudah ikut tes masuk kerja sebelum lulus.

Bahkan, sejumlah perusahaan mau memberikan beasiswa bagi mahasiswa Polije untuk studi banding atau ikut pelatihan di Thailand. Setelah selesai, mereka direkrut jadi karyawan. “Lulusan politeknik punya gaya dan kegigihan kerja tersendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Menristek dan Dikti Mohamad Nasir saat membuka Ritech Expo 2019 mengatakan, perguruan tinggi berperan membangun ekonomi rakyat dengan mengembangkan inovasi berbasis teknologi. Karena itu, pemerintah mendorong terus tumbuhnyainovasi dan penerapan hasil riset yang inovatif di sejumlah daerah. (COK/MZW)

Sumber: Kompas, 26 Agustus 2019

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB