Home / Artikel / Sebuah Narasi Ironi Laut

Sebuah Narasi Ironi Laut

Hanya tiga hari dari Hari Lingkungan Sedunia 5 Juni 2019, tanggal 8 Juni adalah Hari Laut Sedunia. Luas permukaan planet bumi yang tertutup air laut mencapai 71 persen. Meski mengambil porsi besar dari planet, pada kenyataannya, manusia telah melupakannya. Ironisnya, laut justru dilihat sebagai sebuah kotak sampah besar yang diasumsikan mampu menyerap semua sampah dan limbah.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Nelayan bersiap melaut di Pantai Karakat, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, 23 April 2019).

Selama ini, manusia memandang laut sebagai hamparan luas air yang hanya berbatas cakrawala. Laut adalah keheningan, misteri, dan kedalaman. Cara pandang terhadap laut melahirkan persepsi: laut adalah sang maha luas, sebuah “lubang hitam” yang menyerap apapun ke kedalamannya.

Laut di planet bumi seperti juga atmosfer, merupakan satu hamparan tak bersekat. Hanya satu laut di planet bumi. Lautan kemudian dinamai melalui pendekatan historis, budaya, geografis, dan alasan-alasan ilmiah.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melepas ribuan bayi lobster ilegal hasil tangkapan Sub Direktorat Unit IV Tindak Pidana Ekonomi Tertentu Direktorat Kriminal Khusus Polda Jawa Timur di Perairan Pulau Menjangan, Selat Bali, Sabtu (1/6/2019). Sebanyak 37.000 bayi lobster ilegal tersebut hendak diselundupkan ke Singapura melalui jalur darat.–KOMPAS/ANGGER PUTRANTO (GER)
01-06-2019

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melepas ribuan bayi lobster hasil sitaan di Perairan Pulau Menjangan, Selat Bali, 1 Juni 2019.

Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), ada tiga (wilayah) laut utama yaitu Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Dua lagi yang dipandang penting yaitu Antartika di kutub utara dan Arktik di kutub selatan.

Ketika kita mengira laut mampu “menelan” semua sampah, fakta berbicara lain. Kini di media sosial maupun grup-grup WhatsApp berseliweran video dan gambar-gambar: penyu terjerat tali jaring, atau paus mati dengan ratusan kantong plastik di perutnya. Banyak mahluk menderita dan mati karena sampah yang manusia buang ke laut.

Polusi lingkungan laut tak hanya dari daratan. Emisi gas rumah kaca, terutama karbondioksida, menyebabkan asidifikasi laut (OA-ocean acidification). Sejak Revolusi Industri, tingkat keasaman air laut telah meningkat sekitar 30%.

Dengan laju emisi gas karbondioksida seperti sekarang, diperkirakan pada akhir abad ini tingkat keasaman itu menjadi 2,5 kali lipat dari kondisi sebelum Revolusi Industri, pertama kali terjadi pada lebih dari 20 juta tahun terakhir.

Asidifikasi air laut memengaruhi spesies-spesies laut dengan cangkang seperti kerang-kerangan, tiram, juga terumbu karang di laut dangkal, serta plankton. Mereka berada di lapis bawah rantai makanan di laut. Laut menjadi sumber pangan kita, sumber protein bagi sekitar satu miliar manusia.

Para peneliti iklim menegaskan, fungsi laut sebagai pengatur iklim pun terganggu karena pemanasan global akibat peningkatan emisi gas rumah kaca. Badai, fenomena El Nino dan La Nina semakin sering terjadi karena perubahan pola iklim.

Perubahan iklim pada akhirnya memengaruhi pasokan pangan kita yang berasal dari darat. Sebuah ironi jika kita terus memandang laut sebagai “tempat sampah” dan bukannya sebagai penunjang (utama) pangan kita, … hidup kita.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Editor A TOMY TRINUGROHO

Sumber: Kompas, 11 Juni 2019

Share
x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: