Sebuah Narasi Ironi Laut

- Editor

Selasa, 11 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melepas ribuan bayi lobster ilegal hasil tangkapan Sub Direktorat Unit IV Tindak Pidana Ekonomi Tertentu Direktorat Kriminal Khusus Polda Jawa Timur di Perairan Pulau Menjangan, Selat Bali, Sabtu (1/6/2019). Sebanyak 37.000 bayi lobster ilegal tersebut hendak diselundupkan ke Singapura melalui jalur darat.



KOMPAS/ANGGER PUTRANTO (GER)

01-06-2019

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melepas ribuan bayi lobster ilegal hasil tangkapan Sub Direktorat Unit IV Tindak Pidana Ekonomi Tertentu Direktorat Kriminal Khusus Polda Jawa Timur di Perairan Pulau Menjangan, Selat Bali, Sabtu (1/6/2019). Sebanyak 37.000 bayi lobster ilegal tersebut hendak diselundupkan ke Singapura melalui jalur darat. KOMPAS/ANGGER PUTRANTO (GER) 01-06-2019

Hanya tiga hari dari Hari Lingkungan Sedunia 5 Juni 2019, tanggal 8 Juni adalah Hari Laut Sedunia. Luas permukaan planet bumi yang tertutup air laut mencapai 71 persen. Meski mengambil porsi besar dari planet, pada kenyataannya, manusia telah melupakannya. Ironisnya, laut justru dilihat sebagai sebuah kotak sampah besar yang diasumsikan mampu menyerap semua sampah dan limbah.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Nelayan bersiap melaut di Pantai Karakat, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, 23 April 2019).

Selama ini, manusia memandang laut sebagai hamparan luas air yang hanya berbatas cakrawala. Laut adalah keheningan, misteri, dan kedalaman. Cara pandang terhadap laut melahirkan persepsi: laut adalah sang maha luas, sebuah “lubang hitam” yang menyerap apapun ke kedalamannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Laut di planet bumi seperti juga atmosfer, merupakan satu hamparan tak bersekat. Hanya satu laut di planet bumi. Lautan kemudian dinamai melalui pendekatan historis, budaya, geografis, dan alasan-alasan ilmiah.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melepas ribuan bayi lobster ilegal hasil tangkapan Sub Direktorat Unit IV Tindak Pidana Ekonomi Tertentu Direktorat Kriminal Khusus Polda Jawa Timur di Perairan Pulau Menjangan, Selat Bali, Sabtu (1/6/2019). Sebanyak 37.000 bayi lobster ilegal tersebut hendak diselundupkan ke Singapura melalui jalur darat.–KOMPAS/ANGGER PUTRANTO (GER)
01-06-2019

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melepas ribuan bayi lobster hasil sitaan di Perairan Pulau Menjangan, Selat Bali, 1 Juni 2019.

Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), ada tiga (wilayah) laut utama yaitu Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Dua lagi yang dipandang penting yaitu Antartika di kutub utara dan Arktik di kutub selatan.

Ketika kita mengira laut mampu “menelan” semua sampah, fakta berbicara lain. Kini di media sosial maupun grup-grup WhatsApp berseliweran video dan gambar-gambar: penyu terjerat tali jaring, atau paus mati dengan ratusan kantong plastik di perutnya. Banyak mahluk menderita dan mati karena sampah yang manusia buang ke laut.

Polusi lingkungan laut tak hanya dari daratan. Emisi gas rumah kaca, terutama karbondioksida, menyebabkan asidifikasi laut (OA-ocean acidification). Sejak Revolusi Industri, tingkat keasaman air laut telah meningkat sekitar 30%.

Dengan laju emisi gas karbondioksida seperti sekarang, diperkirakan pada akhir abad ini tingkat keasaman itu menjadi 2,5 kali lipat dari kondisi sebelum Revolusi Industri, pertama kali terjadi pada lebih dari 20 juta tahun terakhir.

Asidifikasi air laut memengaruhi spesies-spesies laut dengan cangkang seperti kerang-kerangan, tiram, juga terumbu karang di laut dangkal, serta plankton. Mereka berada di lapis bawah rantai makanan di laut. Laut menjadi sumber pangan kita, sumber protein bagi sekitar satu miliar manusia.

Para peneliti iklim menegaskan, fungsi laut sebagai pengatur iklim pun terganggu karena pemanasan global akibat peningkatan emisi gas rumah kaca. Badai, fenomena El Nino dan La Nina semakin sering terjadi karena perubahan pola iklim.

Perubahan iklim pada akhirnya memengaruhi pasokan pangan kita yang berasal dari darat. Sebuah ironi jika kita terus memandang laut sebagai “tempat sampah” dan bukannya sebagai penunjang (utama) pangan kita, … hidup kita.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Editor A TOMY TRINUGROHO

Sumber: Kompas, 11 Juni 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB