Sajikan Pelajaran Fisika secara Menarik

- Editor

Rabu, 16 November 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perasaan takut mahasiswa terhadap pelajaran Fisika dapat diatasi dengan penyampaian materi yang kreatif dan aplikatif. Dengan cara ini, siswa lebih mudah memahami dan mendapatkan nilai lebih.

Hal itu disampaikan pengajar Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang, Hadi Susanto, dalam sarasehan dengan sejumlah guru Fisika SMA di Kampus Unnes, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/11). Acara itu bagian dari Pekan Ilmiah Fisika 2016. Hadi mengatakan, banyak guru yang mengutamakan rumus dan latihan soal pada siswa. ”Sebaiknya guru terlebih dulu menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Sabtu lalu, Himpunan Mahasiswa Fisika Unnes menggelar semifinal Olimpiade Fisika Tingkat Nasional yang diikuti 50 peserta dari 12 wilayah di Indonesia. (DIT)
——–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 November 2016, di halaman 12 dengan judul “Langkan”.
————-
Hasil Uji Kontrasepsi Suntik Pria Menjanjikan

Hasil uji kontrasepsi suntik bagi pria terhadap 270 responden pria berusia 18-45 tahun menjanjikan. Studi dipublikasikan di Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. Kontrasepsi suntik pria itu 96 persen efektif mencegah kehamilan. Selama uji, responden disuntik hormonal (progesteron dan testosteron) dua kali tiap delapan minggu dan dipantau kondisi spermanya enam bulan. Suntikan itu menurunkan jumlah sel sperma dari 15 juta jadi kurang dari 1 juta sel sperma per mililiter sperma. Ketika pemberian suntikan hormonal dihentikan, jumlah sel sperma kembali normal dalam setahun. ”Riset ini memungkinkan adanya kontrasepsi hormonal bagi pria guna mengurangi risiko kehamilan tak diinginkan,” kata Mario Festin dari Organisasi Kesehatan Dunia di Geneva, Swiss, seperti dikutip BBC, Jumat (28/10). Efek samping kontrasepsi mulai dari jerawat, nyeri otot, depresi, hingga gangguan suasana hati. (BBC/MZW)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 November 2016, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.
—————-
Gempa Tergolong Langka Melanda Medan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gempa di lokasi tidak lazim kembali melanda wilayah Indonesia. Kali ini di Medan dan Deli Serdang, Minggu (23/10), pukul 22.57. Pusat gempa di darat, sekitar 16 kilometer barat daya Kota Medan dengan kedalaman 19 km. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono, di Jakarta, Senin (24/10), mengatakan, sekalipun kekuatannya hanya M 3,5, gempa itu menjadi perhatian karena daerah itu sangat jarang gempa. Berdasarkan peta aktivitas kegempaan Sumatera Utara, Deli Serdang dan Medan termasuk daerah dengan tingkat aktivitas kegempaan sangat rendah. “Fenomena ini sangat langka dan perlu dipelajari lebih lanjut,” katanya. Sebelumnya, gempa cukup langka juga melanda utara Pulau Jawa berkekuatan M 6,3, Rabu (19/10). (AIK)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Oktober 2016, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.
———————-
Swedia Larang Penggunaan Kamera pada “Drone”

Mahkamah agung untuk pengadilan administrasi Swedia melarang penggunaan kamera pada drone atau wahana tanpa awak, kecuali dengan izin khusus. Penggunaan kamera itu dinilai bisa dimanfaatkan untuk pengintaian. Pelarangan itu juga berlaku untuk kepentingan jurnalistik. Namun, izin khusus penggunaan kamera drone bisa diberikan untuk kepentingan pemantauan tertentu meski tak ada jaminan izin diberikan. Itu jadi pukulan besar bagi industri kamera udara dan kamera drone di Swedia. Kelompok industri UAS (Unmanned Aerial System) Swedia menilai, hal itu membahayakan 5.000 pekerjaan. “Ini putusan buruk bagi Swedia, negara pendukung kewirausahaan dan menyenangkan bagi pekerja,” kata Direktur UAS Gustav Gardes, Selasa (25/10). Tahun 2014, 20.000 drone terjual di Swedia dan lebih dari 1.000 izin penggunaan kamera drone untuk kepentingan komersial diberikan. (BBC/MZW)
————————–
Perilaku Sehat Meringankan Beban Ekonomi

Masyarakat perlu terus didorong untuk berperilaku sehat. Hal itu karena upaya promotif preventif tidak hanya akan mencegah kesakitan, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga mengurangi beban ekonomi negara. Demikian diungkapkan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi saat berkunjung ke kantor Kompas Gramedia, Jakarta, Kamis (27/10). Karena itu, untuk mendorong perubahan perilaku lebih sehat, program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) diluncurkan. Melalui gerakan itu, diharapkan ada perubahan perilaku masyarakat ke arah lebih sehat sehingga risiko penyakit tidak menular menjadi berkurang. Perilaku atau gaya hidup tidak sehat selama ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular yang pembiayaannya besar sehingga membebani pendanaan program Jaminan Kesehatan Nasional. (ADH)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Oktober 2016, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

———————

Indonesia Perlu Banyak Vulkanolog

Dirjen Pertambangan Katili mengatakan, untuk mengawasi sekitar 70 gunung berapi, Indonesia hanya punya lima ahli gunung berapi atau vulkanolog. Padahal, banyak negara lain menempatkan 5-10 ahli untuk mengawasi sebuah gunung. Jadi, yang perlu ditangani sekarang adalah mendorong minat pemuda-pemuda Indonesia agar bersedia menjadi vulkanolog. Meski begitu, diakui Katili, untuk menjadi seorang ahli gunung berapi memang tidak mudah. Selain harus mendalami geologi, seorang vulkanolog harus kuat secara fisik dan berani menghadapi bahaya.
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juli 2017, di halaman 1 dengan judul “Indonesia Perlu Banyak Vulkanolog”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru