Saat Para Guru Melepas Murid-muridnya Tanpa Haru

- Editor

Sabtu, 20 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal, termasuk ritual kelulusan siswa SD. Tak ada pelukan, tangisan, bahkan nasihat personal dari para guru untuk murid-muridnya saat acara kelulusan yang digelar virtual.

”Terima kasihku, kuucapkan pada guruku yang tulus. Ilmu yang berguna, slalu dilimpahkan, untuk bekalku nanti.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penggalan lirik lagu ”Terima Kasihku” karya Sri Widodo tersebut seakan menjadi lagu yang wajib dinyanyikan dalam upacara kelulusan SD. Konon, saat lagu ini dinyanyikan di acara kelulusan, mulut seketika bergetar, bulu roma berdiri, hingga air mata menetes dibuatnya.

Suasana seperti itu persis dialami Irma Iklimaningtyas, guru kelas VI SDN Bendungan Hilir 05 Jakarta Pusat, setiap kali mengikuti proses kelulusan siswa-siswanya. Guru yang sudah enam tahun mengajar kelas VI itu paham betul suasana kelulusan di sekolahnya.

”Biasanya kami nangis, anak-anak nangis. Saya memeluk anak-anak, mereka juga menyerbu memeluk saya,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (18/6/2020).

Bahkan, tangis Irma selalu pecah saat menasihati anak yang paling bandel di kelas. Anak-anak bandel memang selalu terkenang oleh Irma. ”Karena perhatian ke dia selalu lebih. Tentunya jadi lebih berkesan, apalagi kemarin pas pembelajaran jarak jauh,” ujarnya.

Tahun ini, momen-momen itu lenyap. Jangankan untuk berpelukan dan menangis bersama. Irma bahkan tak sempat berpamitan satu per satu dengan murid-muridnya. Tak ada nasihat yang sempat disematkan kepada mereka. Hanya pesan singkat yang bisa dititipkan lewat orangtua.

Acara kelulusan di SDN Bendungan Hilir 05 digelar secara virtual melalui aplikasi Zoom. Durasinya hanya sekitar satu jam. Acara sengaja dipercepat mengingat keterbatasan kuota internet yang dimiliki oleh para orangtua murid.

Jangankan untuk berpelukan dan menangis bersama. Irma bahkan tak sempat berpamitan satu per satu dengan murid-muridnya. Tak ada nasihat yang sempat disematkan kepada mereka. Hanya pesan singkat yang bisa dititipkan lewat orangtua.

Jika biasanya susunan acara didesain beragam, pada kelulusan virtual kali ini rangkaian acara amat sederhana. Sambutan-sambutan mulai dari kepala sekolah, komite sekolah, guru kelas VI, hingga murid lebih mendominasi. Praktis, tidak ada satu pun acara hiburan.

”Kalau tahun kemarin, kan, ada pentas seninya, ya. Ada anak yang bernyanyi atau baca puisi. Tahun ini sangat sederhana,” katanya.

Menurut Kepala SDN Bendungan Hilir 05 Paija, surat pengumuman kelulusan diberikan kepada orangtua murid melalui Whatsapp secara serentak pada pukul 10.00. Adapun acara kelulusan dilaksanakan pada pukul 11.00.

Sebagai gambaran, tahun lalu acara kelulusan dilaksanakan dengan persiapan khusus. Sekolah menyiapkan katering, membuat spanduk, menyiapkan pentas seni, dan menyiapkan piala untuk murid yang berprestasi. Tahun ini, hal tersebut tidak sempat dilakukan.

”Tetap ada proses menyanyikan lagu ’Indonesia Raya’ dan ’Terima Kasihku’, tetapi kurang mengena. Apalagi banyak yang iramanya tidak pas menyanyikannya karena delay,” ujar Paija.

Tahun ini, SDN Bendungan Hilir 05 meluluskan seluruh muridnya yang berjumlah 47 orang. Namun, tidak semua mengikuti acara kelulusan. Hanya sekitar 30 murid yang mengikuti acara. Sebagian besar absen karena terkendala kuota internet.

Sementara itu, di SDN Kemanggisan 08 Pagi Jakarta Barat, hanya satu murid yang tidak dapat mengikuti acara kelulusan secara virtual. Total, ada 23 murid yang diluluskan tahun ini. Acara kelulusan dilaksanakan melalui aplikasi Google Meet.

Menurut Kepala SDN Kemanggisan 08 Pagi Jakarta Barat Sopiah, meski diselenggarakan secara virtual, sekolah tetap berupaya agar seremoni kelulusan ini hidup. Untuk itu, beberapa murid diminta menyanyikan lagu, membaca puisi, dan menari sebelum masuk pada acara pembacaan kelulusan.

”Kami berikan acara hiburan biar enggak bosan. Jika biasanya hiburannya kami buat kolosal, kali ini individual,” katanya.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN—Kepala SDN Kemanggisan 08 Pagi Jakarta Barat Sopiah menunjukkan salah satu siswa yang mementaskan tarian pada acara kelulusan virtual, Kamis (18/6/2020).

Meski begitu, Sopiah tetap merasakan ada sesuatu yang hilang. Acara yang dikemas sedemikian rupa tetap kalah meriah dan khidmat. ”Biasanya siswa yang nilainya bagus kami kerjain. Awalnya dinyatakan tidak lulus, tetapi ternyata bercanda. Anak-anak jadi heboh,” katanya.

Tak bertemu teman
Perasaan yang sama juga dirasakan Yeni Eka Sari, orangtua dari Muhammad Hafiz, murid kelas VI SDN Bendungan Hilir 09 Jakarta Pusat. Ia mengaku sedih saat melihat anaknya tidak bisa merayakan kelulusan dan berpamitan dengan teman-temannya secara langsung.

Berbeda dengan murid TK, SMP, maupun SMA, murid SD relatif menghabiskan waktu bersama-sama lebih lama, yakni enam tahun. ”Sedih, ya. Mereka menjadi jauh dengan teman-temannya. Harusnya mereka bisa berpamitan langsung dengan guru dan temannya,” katanya.

Acara kelulusan virtual yang ia ikuti bersama anaknya diselenggarakan melalui layanan Zoom. Acara tersebut nyaris tanpa hiburan apabila orangtua murid tidak memberi andil. Untuk meramaikan acara, para orangtua murid berinisiatif menyumbangkan ide.

Sebelumnya, mereka telah membentuk perkumpulan yang diberi nama ”tim sukses”. Ibu-ibu yang tergabung dalam perkumpulan tersebut bergerak mengumpulkan foto-foto dari semua murid sejak duduk di kelas I hingga kelas VI. Foto tersebut kemudian dikompilasi dan ditayangkan pada saat acara kelulusan virtual.

Selain itu, tim sukses ini juga berinisiatif memesan medali dan map ijazah. Medali dan map tersebut mereka sematkan kepada setiap anak mereka saat pembacaan kelulusan satu per satu.

”Perkumpulan ini bahkan sudah dibentuk sebelum Covid-19 mewabah. Jadi, map ijazah dan medalinya kami bagikan ke rumah masing-masing orangtua,” katanya.

Lulusan SD tahun ajaran 2019/2020 kini mendapat sematan sebagai ”lulusan Covid-19” dari banyak orang. Meski terdengar menggelitik, setidaknya lulusan ini punya bahan cerita untuk dikisahkan kepada anak cucu mereka.

Oleh FAJAR RAMADHAN

Editor AGNES RITA

Sumber: Kompas, 19 Juni 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB