Home / Berita / Penghargaan / Richard H Thaler, Berjuang Sendirian di Tengah Cibiran

Richard H Thaler, Berjuang Sendirian di Tengah Cibiran

Manusia cenderung tidak rasional, hingga ceroboh bahkan menipu. Hal ini membuat kehidupan terjebak masalah. Kehidupan seseorang menjadi sengsara akibat kesalahan fatal. Maka tidak tepat jika ilmu ekonomi mengabaikan semua itu. Demikian penekanan konstan selama 40 tahun ekonom AS yang mengajar di University of Chicago, Richard H Thaler.

Dia salah satu pendiri ilmu ekonomi tentang perilaku manusia (behavioral economics). Perilaku manusia cenderung tak taat asas. ”Jadi, model ekonomi yang mengandalkan sains matematika tidak pas,” kata Thaler yang meraih Nobel Ekonomi 2017.

Bagi Thaler, model ekonomi matematika mengurai perilaku manusia, padahal manusia tidak bereaksi seperti robot.

Tidak benar jika ilmu ekonomi memegang kuat asumsi homo economicus, antara lain menyebutkan manusia itu rasional, memaksimalkan kemakmuran, dan menjaga dirinya. Tidak benar mekanisme pasar akan membawa perekonomian otomatis ke dalam equilibrium (keseimbangan) baru atau tidak benar jika ekonom mengasumsikan segala sesuatu otomatis membaik.

Thaler menjelaskan mengapa Yunani dililit utang besar. ”Ini bisa dijelaskan dari kebiasaan Yunani, membayar pajak dianggap kebodohan,” katanya.

Akibatnya, Pemerintah Yunani membiayai anggaran dari utang. Wajib pajak tidak otomatis memegang ikrar sebagai warga baik dan taat pajak. Lebih buruk lagi Pemerintah Yunani menutup-nutupi jumlah utang dan korup pula. Bukan hanya warga, konsumen, dan pebisnis, bahkan pemerintahan pun bisa salah dan bias.

Thaler juga menjelaskan soal krisis ekonomi 2008 di AS. Manusia itu rakus tak karuan, mengira masa keemasan ekonomi terus ada. Akibatnya, terjadilah aksi spekulasi berlebihan bahkan ada penipuan besar yang meluluhlantakkan perekonomian AS.

Demikian pula krisis ekonomi besar di Asia bisa dijelaskan dari sisi perilaku manusia yang latah, ikut-ikutan, akhirnya terjerembap spekulasi pembangunan perumahan didukung utang luar negeri. Ini menghancurkan kurs mata uang Asia dan perekonomian ambruk saat modal luar negeri lari ke negara asalnya. ”Perilaku buruk ini memberi efek dahsyat bagi ekonomi,” katanya.

Thaler memberi penuturan lain. Para karyawan diasumsikan mempersiapkan saksama masa pensiun. Ini jika memakai asumsi homo economicus, manusia memikirkan masa tua. Tidak demikian kenyataannya, kata Thaler. Maka, banyak perusahaan memaksa karyawan baru menyisihkan sebagian gaji untuk program pensiun wajib. Langkah ini memberikan hasil. Jutaan perusahaan telah membuat sistem pensiun sebagai kewajiban.

Hal ini mendorong Thaler menuliskan buku berjudul Misbehaving: The Making of Behavioral Economics Paperback, Juni 2016. Buku ini termasuk ”menyerang” para ekonom yang abai soal efek perilaku manusia. Para ekonom hebat mencibir idenya. Bertahun-tahun Thaler berjuang sendirian. Namun, dia mengingatkan manusia tidak rasional dan bukan seperti robot. Maka, model ekonomi harus disusun sedemikian rupa dan memasukkan unsur perilaku sehingga warga tidak menghadapi konsekuensi buruk secara ekonomi akibat kesalahannya.

Untuk itu, sebuah kebijakan harus dilakukan atau ditata untuk menghindari konsekuensi buruk. Hal ini dia tuliskan dalam buku berjudul Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness Paperback, Februari 2009, bersama Cass Sunstein, profesor hukum dari Harvard. Sunstein adalah salah satu teknokrat pada era pemerintahan Presiden Barack Obama. Buku ini juga menyarankan agar kebijakan berjalan baik, lakukan segalanya lebih mudah, jangan mempersulit warga.

Buku ”Nudge” ini membuat mantan PM Inggris David Cameron menjadikan Thaler sebagai penasihat Pemerintah Inggris. Salah satu sarannya adalah penjualan mobil di Inggris menaikkan penerimaan pajak mobil. Maka, harus ada peraturan yang memaksa pembeli mobil baru membayar pajak atau mobil disita.

Tertarik ilmu psikologi
Thaler, keturunan Yahudi Jerman yang lahir di AS, bingung dengan para ekonom, termasuk para penerima Hadiah Nobel Ekonomi karena menuliskan makalah ekonomi melulu dengan model matematis. ”Saya sangat bagus ilmu matematika, tetapi sulit menguraikan ekonomi lewat model matematika,” kata Thaler.

Dia konstan mengatakan bahwa mengandalkan model matematis dan asumsi homo economicus tidak pas. Misalnya kepada Uber, taksi online, dia sarankan tidak menaikkan tarif pada jam-jam darurat atau permintaan tinggi. Manusia itu memikirkan fairness juga. Jangan terlalu tega. Ini penting untuk citra Uber ke depan. Dalam hal ini pelanggan Uber bisa menyimpan kemarahan jika diperlakukan demikian. Thaler juga menyarankan Uber jangan mengambil kesempatan ekonomi dalam kesempitan.

Thaler, suami dari France Leclerc, seorang mantan profesor pemasaran. Thaler memiliki tiga anak, tetapi dari pernikahan pertama. Nama istri pertama tidak disebutkan. Thaler pada masa muda menyukai ilmu psikologi. Dia belajar ekonomi dengan anggapan lebih mudah dapat pekerjaan.

Ayahnya seorang aktuaris di Prudential, Alan M Thaler, menginginkan Thaler jadi aktuaris. ”Saya tak tertarik menjadi aktuaris, juga tak tertarik menjadi pengusaha,” kata Thaler.

Dia dididik baik oleh ibunya, Roslyn Melnikoff, seorang guru yang memilih fokus merawat tiga anak (Richard, Donald, Maurice). Seusai meraih doktor ekonomi dari University of Rochester, Thaler menjadi dosen. Pada dekade 1970-an, dia bertemu dua psikolog peneliti Israel, Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Dua psikolog ini melakukan terobosan ilmu psikologi soal proses pengambilan keputusan manusia.

Saat itu, kedua orang ini ada di Stanford University (1977-1978). Dua psikolog ini tak paham ekonomi dan Thaler tak paham psikologi. Thaler membujuk University of Rochester agar ia diizinkan cuti lalu terjadilah kolaborasi. Tversky membantu pendanaan penelitian ekonomi Thaler. Kahneman membantu Thaler soal ilmu psikologi.

Thaler membantu Kahneman soal ilmu ekonomi, yang membawa Kahneman sebagai psikolog pertama yang meraih Hadiah Nobel Ekonomi 2002 atas jasanya tentang cara manusia mengambil keputusan ekonomi.

”Dari sini muncullah behavioral economics. Thaler telah membawa ilmu ekonomi tentang perilaku manusia ke dalam kehidupan,” kata David Laibson, profesor ekonomi dari Harvard.

Inilah yang membuat Akademi Sains Kerajaan Swedia mengumumkan Thaler sebagai peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2007. ”Dia menjembatani ilmu ekonomi dan ilmu psikologi,” demikian Akademi itu. Ini semua untuk kehidupan yang lebih baik, seperti wasiat Alfred Bernhard Nobel.

”Setelah penantian lama, saya sangat senang atas penghargaan ini dan akan membelanjakan hadiah uang 1,1 juta dollar AS dari Komite Nobel secara tak rasional,” kata Thaler bercanda, merujuk perilaku manusia yang cenderung tidak rasional. (AP/AFP/Reuters)

SIMON SARAGIH

Sumber: Kompas, 12 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Meraih Dua Medali Perak dan Dua Medali Perunggu di IChO 2020

Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan siswa Indonesia berprestasi di kancah internasional. Di ajang Olimpiade Kimia Internasional ...

%d blogger menyukai ini: