Home / Berita / Redmi 2, Harga Mahal untuk Xiaomi

Redmi 2, Harga Mahal untuk Xiaomi

Hugo Barra, Vice President Global Xiaomi, menggenggam sebuah ponsel pintar berlayar 4,7 inci di tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam sabak elektronik dengan bagian belakang berwarna putih cerah.

Tak ayal dia dihujani kilatan lampu kamera dan suara pelepas rana yang saling menyahut dari para pewarta yang hadir dalam acara peluncuran yang digelar pada Rabu (1/4).

Ponsel yang ada di tangan kanannya adalah Redmi 2 yang resmi diumumkan pada Januari lalu untuk diedarkan di pasar asalnya, Tiongkok, dan akhirnya menyambangi Tanah Air tiga bulan sesudahnya.

Sabak elektronik yang ada di tangan kirinya adalah MiPad yang sudah diperkenalkan di Tiongkok sejak 10 bulan lalu dan pernah dipamerkan Barra sewaktu mendatangi Indonesia Cellular Show 2014 pada Juni. Kini mereka siap menghadirkan bagi Indonesia.

Yang menarik tentu Redmi 2, sebuah ponsel tingkat menengah ke bawah karena ditawarkan dengan harga Rp 1,6 juta, sementara rentang harga ini adalah medan pertempuran yang sengit bagi merek ponsel dalam negeri dan global. Sejak pertengahan tahun lalu, Indonesia dibanjiri produk di rentang harga Rp 1 juta sampai Rp 2 juta, mulai dari Android One dari tiga vendor lokal, yakni Mito, Nexian, dan Evercoss, hingga Zap 5 buatan Polytron.

Dan, Redmi 2 punya alasan untuk mengungguli kompetitornya karena strategi yang selalu diusung Xiaomi sejak perusahaan itu berdiri lima tahun lalu, yakni spesifikasi yang melampaui kompetitor, tetapi dengan harga yang hampir sama. Faktor itulah yang membuat reputasi Xiaomi segera meroket dan menjadi sebuah produk global dalam waktu singkat hingga mereknya kini dinilai 45 miliar dollar AS.

Pemanfaatan internet dan media sosial adalah kekuatan Xiaomi. Mereka mengandalkan kanal digital untuk penjualan dan tidak memanfaatkan jalur penjualan secara langsung. Keputusan itu berkali-kali disebut sebagai alasan yang membuat biaya untuk membuat satu unit ponsel lebih rendah sehingga mereka bisa menggunakan komponen yang lebih baik, hasil akhirnya adalah produk dengan spesifikasi lebih baik, tetapi dengan harga yang bersaing.

Kekuatan selanjutnya dari Xiaomi adalah Mi Fans, sebutan bagi para penggemar produk Xiaomi. Mereka adalah para relawan yang membeli, menggunakan, sekaligus mengadvokasi teman-teman di lingkungan mereka untuk menggunakan produk Xiaomi. Kemampuan menjalin relasi dengan para Mi Fans dan menumbuhkan militansi mereka belum dijumpai di produk-produk yang menggunakan sistem operasi Android lainnya.

Eksklusivitas Xiaomi juga tidak terletak pada perangkat keras saja, mereka memiliki MIUI atau tampilan antarmuka Android yang saat ini berbasis versi KitKat 4.4 yang memiliki ekosistem yang mandiri, bahkan dari Google. MIUI memiliki ciri khas tampilan minimalis serta penuh animasi hingga tingkat detail. Para Mi Fans bahkan bisa membuat tema-tema sendiri dan bisa digunakan oleh pengguna lain.

”Bukan soal angka-angka dalam lembar spesifikasi, melainkan bagaimana pengguna bisa menikmati pengalaman sewaktu mencoba ponsel Xiaomi,” kata Barra.

Peningkatan
Redmi 2 memang diniatkan sebagai perbaikan bagi seri terdahulunya, yakni Redmi 1S. Calon pembeli bisa bernapas lega karena perbaikan yang dilakukan Xiaomi berlangsung cukup signifikan, padahal harga jualnya hanya terpaut Rp 100.000.

Dengan harga Rp 1,6 juta, Redmi 2 memiliki prosesor empat inti Snapdragon 410 berkecepatan 1,2 gigahertz buatan Qualcomm yang bekerja dengan arsitektur 64-bit dan didampingi cip grafis Adreno 306. Prosesor yang sama dipergunakan Zap 5 seharga Rp 1,1 juta dari Polytron atau Samsung Galaxy A3 dari Samsung seharga Rp 3,5 juta, tetapi tidak didampingi oleh cip grafis meski ketiga seri ini sama-sama memiliki memori 1 gigabit.

Dengan ketebalan 9,4 milimeter dan bobot 133 gram, layar Redmi 2 dirakit menggunakan teknologi no-air-gap sehingga tidak ada ruang di sekitar layar dan ponsel akan terasa padat saat digenggam.

Keunggulan utama dari Redmi 2 terletak pada fitur dua lubang kartu SIM yang sama-sama bisa menggunakan layanan 4G, bahkan bisa dipergunakan secara bersama-sama. Kemampuan 4G itu membuat Redmi 2 bisa berjalan di frekuensi 900 Mhz dan 1.800 Mhz, dua frekuensi yang akan digunakan di jaringan seluler dalam negeri.

Fitur tersebut tidak ditemukan di ponsel-ponsel yang sekelas, umumnya satu lubang untuk 4G dan lubang lain 3G, atau terkadang malah 2G.

8c7b50e9db9446a4b1ba4f7674e26a06Redmi 2 adalah seri ketiga dari telepon seluler pintar buatan Xiaomi yang diedarkan di Indonesia setelah Redmi 1S dan Redmi Note, Rabu (1/4). Keunggulan tipe ini adalah harga yang bersaing, tetapi dengan spesifikasi yang melampaui ponsel di tingkat harga yang sama.—Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Tentu saja fitur ini akan menarik minat mereka yang ingin berinvestasi dengan membeli ponsel yang tetap relevan untuk waktu 1-2 tahun mendatang. Operator telekomunikasi di Indonesia sudah agresif menggelar layanan 4G komersial di frekuensi 900 Mhz dan kini mereka bersama pemerintah tengah mengikuti penataan frekuensi 1.800 Mhz dan direncanakan rampung akhir tahun 2015.

Teknologi pelindung layar Dragontail diterapkan untuk membungkus layar Redmi yang menggunakan komponen buatan Sharp dan mampu menampilkan gambar dalam resolusi definisi tinggi.

Berebut
Dengan spesifikasi seperti itu, di atas kertas, jelas Redmi 2 mengungguli kompetitor mereka dari sisi spesifikasi dan harga. Haruskah ponsel ini dibeli? Jawabnya adalah ya dan tidak.

Salah satu karakter dari penjualan produk Xiaomi adalah kanal daring, hal itu juga diterapkan untuk Indonesia. Bekerja sama dengan situs e-dagang Lazada, mereka menjual Redmi 2 secara daring.

Seperti pada penjualan Redmi 1S, mereka biasanya memakai sistem yang disebut flash sales.. Peminat diharuskan mendaftar terlebih dulu. Baru kemudian di jam yang ditentukan, para pendaftar itulah yang berebutan untuk membeli barang.

Namun kali ini Redmi 2 dijual berbeda, menggunakan sistem open sales yang dimulai hari Rabu (8/4) pukul 11.00. Siapapun boleh membeli di jam yang ditentukan. Hanya hitungan menit, produk Redmi 2 sudah ludes terjual. Belum ada laporan redmi dari pihak Xiaomi berapa unit yang terjual pada open sales pertama tersebut.

Berkaca dari penjualan seri-seri sebelumnya, bisa diprediksi bahwa konsumen harus berebut untuk bisa membeli produk ini karena kuantitas yang terbatas. Bersiaplah untuk kecewa apabila tidak kebagian karena stok keburu ludes dalam hitungan menit dan harus menunggu dalam waktu tertentu untuk membeli dengan cara serupa.

Peluang untuk kehabisan pun tetap ada karena penjualan dilakukan dengan sistem ”siapa cepat dia dapat” sehingga mereka yang ingin membeli harus siap siaga di depan layar monitor dengan koneksi internet pada jam yang ditentukan.

Tidak ada cara lain untuk mendapatkan produk ini kecuali dengan cara berebut di internet. Tidak ada nomor urut, mereka yang menunggu di detik-detik pergantian waktu dari 10.59 WIB ke 11.00 WIB punya peluang lebih besar untuk bisa membeli produk.

Pada masa penjualan biasanya bermunculan pihak yang menawarkan produk serupa melalui jalur lain, umumnya mereka membeli terlebih dahulu dari Lazada. Konsekuensinya adalah harga jual yang bisa melambung dibandingkan harga jual resmi.

Berbeda dengan negara lain, Xiaomi di Indonesia memang menggandeng Erajaya Group untuk menjual ponsel secara langsung di gerai milik mereka. Namun, kita harus menunggu beberapa bulan seperti yang terjadi untuk penjualan Redmi 1S, dan sampai sekarang pun belum ada kepastian bahwa Redmi 2 bakal dijual secara langsung.

Tantangan berikutnya adalah menghadirkan layanan purnajual, seperti perbaikan unit ponsel. Meskipun diklaim memiliki kualitas produksi yang terjamin dan terjaga, Xiaomi memiliki pusat layanan mandiri yang jumlahnya masih terbatas.

Kebanyakan sistem pusat layanan mereka menggandeng pihak ketiga sebagai pusat pelayanan perbaikan yang terletak di kota-kota besar dan dikerjakan bersama merek lain. Investasi ini yang belum masif dilakukan apabila dibandingkan dengan merek global, seperti Samsung, Sony, atau HTC.

Redmi 2 adalah ponsel untuk Anda yang mau berebut membeli, imbalannya memang sepadan. Bagi yang tidak terbiasa berkompetisi untuk membeli barang, lebih baik memilih yang lain atau mengeluarkan uang lebih banyak dengan membeli dari orang lain. Itulah harga mahal yang harus dibayar untuk ponsel terjangkau ini.

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sumber: Kompas Siang | 8 April 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: