Home / Berita / Ramai-ramai Berbisnis Produk IoT

Ramai-ramai Berbisnis Produk IoT

Internet untuk segala benda atau internet of things (IoT) santer diucapkan oleh jajaran petinggi operator telekomunikasi seluler di Indonesia. Setidaknya lima tahun terakhir, mereka mulai aktif mengembangkan aneka produk dan layanan IoT.

Optimisme bersambut tatkala teknologi 4G LTE resmi dikomersialkan pada 2015, termasuk prediksi lisensi 5G yang akan dikeluarkan tahun 2020. Keduanya dianggap mendorong lakunya produk serta layanan IoT.

Mengutip Technopedia, IoT adalah konsep komputer masa depan di mana aktivitas sehari-hari terhubung ke internet. Perangkat satu dengan lainnya saling terkoneksi.

Pakar inovasi digital, Kevin Ashton, dalam tulisannya di RFID Journal tahun 1999, menyebut IoT sebagai komputer yang bisa melakukan apa pun sehingga mengurangi ongkos dan waktu. IoT juga digambarkan seperti dunia di mana apa pun terkoneksi dan cara berkomunikasi lebih cerdas. Dengan IoT, dunia fisik menjadi sebuah sistem informasi data yang besar.

Forbes, dalam artikel “A Very Short History of Internet of Things” (2014), mencontohkan beberapa implementasi IoT, antara lain mesin ke mesin (M2M), radio frequency identification (RFID), context-aware computing, wearables, komputasi di mana-mana, dan web of things.

Di Indonesia, operator telekomunikasi seluler mengawali bisnis IoT lewat M2M. Head of IoT PT XL Axiata Tbk Arifah Febriyanti dalam temu media, Rabu (6/4/2016), di Jakarta, membenarkan hal itu. Pada kurun waktu 2011-2013, XL memasarkan M2M yang diimplementasikan di mesin gesek kartu (electronic data capture/EDC) kredit atau debet bank. Hingga sekarang, hampir seluruh perbankan berskala besar telah jadi mitra.

“Produk tersebut pun masih jadi kontributor utama pendapatan XL di lini IoT. Meski begitu, mulai 2015, kami menganggap perlu berekspansi lebih, yakni bermain di platform, perangkat, dan aplikasi terkait IoT,” ujar Arifah.

Tahun 2015, misalnya, XL memasarkan mFish atau aplikasi untuk membantu produktivitas nelayan di laut. Fiturnya beragam, seperti prakiraan kondisi cuaca, lokasi pencarian dan plankton, serta ketinggian pasang laut. Dalam penyediaan data, XL bekerja sama dengan GSMA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Aplikasi ini sudah beredar di kalangan nelayan Lombok, Karimun Jawa, Demak, dan Tegal.

Selain mFish, portofolio lain adalah Simply yang dipasang di mesin pemutar tagihan listrik. Arifah menjelaskan, pertumbuhan pendapatan IoT XL naik dari 25 ke 44 persen selama 2014-2015. Nilainya berkisar lebih dari Rp 100 miliar.

Pada tahun 2016, XL menawarkan tiga produk utama, yaitu Yubox, Savvy Smarthome, dan Smart City. Yubox merupakan solusi koneksi internet berbasis Wi-Fi untuk sarana transportasi. Untuk memberikan nilai tambah, produk disertai bisnis layanan iklan serta hiburan. Saat ini, Yubox sedang diuji coba di kereta api, bus, dan armada mitra Grab.

Rumah pintar
Kedua, Savvy Smarthome. Cara kerjanya yaitu mengatur peralatan rumah tangga, seperti AC, televisi, CCTV, dan pintu, secara otomatis hanya dari ponsel pintar. Pengguna XL menginstal aplikasinya, lalu memasang sensor, seperti infrared, di perangkat yang diinginkan. Untuk mengoperasikan televisi, misalnya, aplikasi itu berfungsi bak remote. Namun, keunggulannya adalah pengguna bisa memakai fungsinya di luar rumah.

“Kami bekerja sama dengan pengembang Apartemen Bassura City dan The Residence at Synthesis Square untuk uji coba. Kami harap, Savvy Smarthome tidak hanya digunakan penghuni apartemen, tetapi juga perkantoran,” katanya.

KOMPAS/MEDIANA–Teknologi Internet of Things (IoT) memungkinkan semua benda terhubung ke internet dan terkoneksi. Televisi, kulkas, hingga pengatur suhu ruangan terkoneksi ke internet sehingga bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan telepon pintar.

Smart City berupa platform yang ditawarkan kepada pemerintah daerah agar bisa mempermudah akses informasi kebijakan, kondisi kota, dan layanan publik. Masih terkait kebutuhan warga perkotaan, XL memiliki Agnosthings, platform yang difungsikan sebagai solusi informasi kota.

Hingga triwulan I-2016, pelanggan IoT XL tercatat 650.000. Targetnya ada penambahan 200.000 pelanggan baru hingga akhir tahun. Sebagai bagian bidang usaha bisnis digital, harapannya kontribusi IoT mampu mendongkrak bisnis induk ke pendapatan perusahaan sebesar 6 persen.

“Untuk platform konektivitasnya, kami masih bekerja sama dengan Ericsson,” kata Arifah. XL memiliki infrastruktur jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 40.000 kilometer serta 58.000 pemancar 2G hingga 4G. Anak usaha Axiata ini bahkan sudah menyiapkan infrastruktur pusat data sertifikasi internasional ISO/IEC 9001, ISO/IEC 20000-1, ISO/IEC 27001, dan Uptime Tier III Design.

M2M transportasi
Seolah tak ingin ketinggalan, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) baru-baru ini meluncurkan aplikasi asisten pintar pengendara motor bernama T-Bike. Fungsi yang ditawarkan meliputi monitor, memandu lokasi, dan mengendalikan akses mesin motor dari ponsel pintar.

Didukung sistem GPS, T-Bike mampu mendukung manajemen motor secara tepat waktu (tracking and fleet management), pelaporan detail perjalanan, pembatasan wilayah operasional (geofencing), dan pembatasan kecepatan. Instalasi T-Bike hanya melalui cara plug in device, tanpa memotong kabel.

Tahap awal, Telkomsel mengajak kerja sama perusahaan berskala besar, antara lain Bakmi GM, KFC, Berrybenka, dan Hoka-Hoka Bento, serta McDonald’s.

Vice President M2M Business Telkomsel Jaka Susanta dalam keterangan tertulisnya menyebutkan, T-Bike bisa dibeli di 41 gerai T-Bike Corner se-Jabodetabek. T-Bike memang serupa motor tracker, tetapi dia menekankan harga jualnya hanya Rp 749.000. Tarif ini lebih murah dibandingkan motor tracker lainnya yang berkisar Rp 1 jutaan.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) grup sejatinya sudah mempersiapkan diri menyambut tren IoT, di luar Telkomsel. Sekitar setahun terakhir, Telkom menginisiasi pendirian Metra Digital Inovasi (MDI) Ventures yang beroperasi di Singapura dan Silicon Valley. Sumber dana investasi diperoleh 60 persen Telkom dan sisanya investor.

CEO MDI Ventures Nicko Widjaja, di sela-sela konferensi Echelon Indonesia 2016 yang didukung Badan Ekonomi Kreatif, mengungkapkan, fokus pendanaan menyasar ke usaha rintisan yang mampu di bidang Big Data, IoT, kecerdasan buatan, dan jasa media. Skala pendanaan mulai seri A.

MDI Ventures, kata Nicko, bertujuan menjembatani kebutuhan Telkom di masa depan. Ada sinergi antara Indigo Creative Nation dan Plug and Play. Indigo Creative Nation sudah didirikan Telkom sekitar tahun 2012 sebagai pusat inkubasi dan pendanaan usaha rintisan di bidang teknologi (start up) tahap awal.

Sayangnya, kurang dari 10 persen start up binaan yang berhasil. Berangkat dari kondisi itu, Telkom merombak habis konsep yang dijalankan di Indigo. Tahun 2015, Telkom menggandeng Plug and Play, inkubator berskala internasional berbasis di Silicon Valley. Dengan begitu, MDI Ventures yang membawahi Indigo diperluas area bisnis hingga ASEAN, Asia, dan Amerika Serikat.

Investment Manager MDI Ventures William Gozali menegaskan, produk ciptaan start up binaan memiliki peluang besar digunakan untuk kebutuhan bisnis Telkom. Pada tahun 2016, setidaknya ada 12 start up yang didanai.

MEDIANA

Sumber: Kompas 7 April 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: